Kebakaran pertama terdeteksi pada Rabu (22/4/2026), di distrik Kozuchi pada pukul 13.55 waktu setempat. Titik awal berada di area pegunungan yang sulit dijangkau. Vegetasi yang kering dan embusan angin kencang membuat api meluas.
Pada pukul 16.20, titik api kedua muncul di distrik Kirikiri, berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi pertama. Kondisi ini membuat petugas pemadam kebakaran harus membagi tim operasi di lapangan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Jepang, luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 200 hektare pada Kamis (23/4/2026) siang. Api cepat meluas karena kelembapan udara yang rendah di Prefektur Iwate. Catatan cuaca menunjukkan wilayah timur laut Jepang mengalami curah hujan minim sejak awal tahun 2026, sehingga kondisi hutan rentan terbakar.
Angin kencang pada Rabu sore menerbangkan bara api melewati lembah pegunungan Otsuchi. Kontur tanah yang miring juga mempercepat rambatan api ke area hutan di atasnya. Kondisi angin yang berubah arah secara tiba-tiba membuat situasi di lapangan sangat dinamis.
"Kondisi di lapangan cepat berubah, sehingga kami harus bertindak hati-hati untuk melindungi warga," kata Walikota Otsuchi, Kozo Hirano, dilansir Japan Today.
Sistem peringatan nasional Jepang (J-Alert) sempat diaktifkan untuk memberi peringatan kepada warga di sekitar distrik Kirikiri. Pantauan satelit juga mencatat peningkatan suhu yang signifikan di area kebakaran. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk membatasi kerusakan hutan lindung di Prefektur Iwate.