Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Ketergantungan energi Kuba terdampak langkah AS Trump menyebut Kuba selama bertahun-tahun bergantung pada suplai minyak serta dana besar dari Venezuela.

  • Pemerintah Kuba membantah tudingan dan menolak tekanan sepihak, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez merespons keras sikap AS dengan menyebutnya sebagai perilaku kriminal di kawasan belahan bumi Barat.

  • Washington menilai tekanan ekonomi bisa menggoyang Havana, Trump memperkirakan kondisi ekonomi Kuba akan semakin berat setelah Maduro tak lagi berkuasa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat melontarkan gurauan soal Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang disebut-sebut bakal menjadi presiden Kuba berikutnya. Ia bahkan mengunggah tangkapan layar sebuah unggahan santai yang menyinggung hal itu, lalu merespons dengan nada setuju dan menyebut gagasan tersebut terdengar bagus baginya.

“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MASUK KE KUBA – NOL! Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT,” tulisnya lewat Truth Social pada Minggu (11/12/2026), dikutip The Independent.

1. Ketergantungan energi Kuba terdampak langkah AS

ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)

Trump menyebut Kuba selama bertahun-tahun bergantung pada suplai minyak serta dana besar dari Venezuela. Sebagai gantinya, Kuba diklaim menyediakan jasa keamanan bagi dua pemimpin terakhir Venezuela, meski Trump menegaskan pola tersebut kini telah berakhir.

Setelah AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan sebelumnya, Trump menyatakan berhasil membujuk pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, agar mengirimkan 30-50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi ke AS. Kebijakan itu langsung memukul aliran minyak yang selama ini diterima Kuba.

Terhentinya pasokan dari Venezuela membuat posisi energi Kuba kian terjepit. Sepanjang Januari hingga November tahun lalu, Venezuela rata-rata mengirim sekitar 27 ribu barel per hari ke negara pulau itu, yang menurut data perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA), mencakup sekitar 50 persen dari kekurangan minyak Kuba.

2. Pemerintah Kuba membantah tudingan dan menolak tekanan sepihak

Bendera Kuba (pexels.com/Matthias Oben)

Dilansir dari DW, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez merespons keras sikap AS dengan menyebutnya sebagai perilaku kriminal di kawasan belahan bumi Barat. Ia menolak tuduhan Trump soal pembayaran Venezuela kepada Kuba untuk jasa keamanan, seraya menegaskan melalui unggahan di X bahwa negaranya tak pernah menerima kompensasi moneter maupun material atas layanan tersebut kepada negara mana pun.

Rodriguez juga menegaskan hak Kuba untuk membeli minyak dari sumber apa pun sesuai pilihannya. Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas ancaman Trump untuk menghentikan aliran uang dan minyak ke Kuba.

3. Washington menilai tekanan ekonomi bisa menggoyang Havana

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Trump memperkirakan kondisi ekonomi Kuba akan semakin berat setelah Maduro tak lagi berkuasa. Ia menyebut situasi pemerintahan di negara itu sedang mengalami kejatuhan.

Sehari setelah penangkapan Maduro, Rubio menyampaikan peringatan kepada Kuba dalam program NBC News’ Meet the Press. Rubio menilai negara tersebut tengah menghadapi banyak persoalan.

“Saya tidak akan berbicara kepada Anda tentang langkah-langkah masa depan kita dan kebijakan kita akan menjadi saat ini dalam hal ini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa AS bukan pendukung besar rezim Kuba, yang disebutnya sebagai pihak yang menopang Maduro.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team