Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kelompok HAM Israel Tuntut Pembebasan 14 Dokter dari Gaza
ilustrasi dokter (Felipe Queiroz Alves)
  • Organisasi PHRI mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Israel untuk membebaskan 14 dokter Gaza yang ditahan tanpa dakwaan lebih dari setahun di bawah Undang-Undang Kombatan Tidak Sah.
  • Penahanan para dokter memperburuk krisis kesehatan di Gaza, sementara pembatasan Israel menyebabkan kekurangan pasokan medis dan kondisi rumah sakit yang sangat memprihatinkan.
  • Sejak perang dimulai Oktober 2023, lebih dari 1.700 tenaga medis tewas akibat serangan Israel, memicu tuduhan pelanggaran hukum internasional terhadap sistem kesehatan Gaza.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (PHRI), pada Kamis (30/4/2026), mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Israel untuk menuntut pembebasan segera 14 dokter dari Gaza yang telah ditahan tanpa dakwaan selama lebih dari setahun. Petisi ini diajukan setelah kepala staf militer Israel, Eyal Zamir, tidak menanggapi permintaan pembebasan mereka.

PHRI mengatakan bahwa para dokter tersebut ditahan berdasarkan Undang-Undang Kombatan Tidak Sah Israel, yang memungkinkan penahanan tanpa batas waktu tanpa adanya dakwaan. Mereka juga tidak diberikan akses terhadap perawatan medis dan makanan yang memadai, serta mengalami kekerasan fisik selama dalam penahanan.

Namun, Layanan Penjara Israel membantah semua tuduhan terkait perlakuan tidak layak terhadap para dokter tersebut. Hingga kini, belum jelas kapan pengadilan akan menggelar sidang atas petisi tersebut.

  • https://www.newarab.com/news/israeli-group-asks-high-court-order-release-gaza-doctors

  • https://www.aljazeera.com/news/2026/4/30/israel-rights-group-petitions-top-court-to-order-release-of-14-gaza-doctors

1. Hampir 400 tenaga medis ditahan selama perang Israel di Gaza

ilustrasi seorang tahanan di penjara (unsplash.com/Ye Jinghan)

Dilansir The New Arab, ke-14 dokter tersebut termasuk di antara hampir 400 tenaga medis yang ditahan oleh Israel sejak negara itu melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023. Sebagian besar di antaranya telah dibebaskan melalui pertukaran tahanan selama gencatan senjata. Namun, sekitar 60 tenaga medis hingga kini masih ditahan, termasuk para dokter yang diwakili oleh PHRI.

Di antara mereka yang ditahan adalah Hussam Abu Safia, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara. Ia ditangkap pada Desember 2024, ketika pasukan Israel menyerbu rumah sakit tersebut, sebuah tindakan yang memicu kecaman internasional. Militer Israel menuduhnya sebagai anggota kelompok perlawanan Palestina Hamas tanpa memberikan bukti.

Saudara laki-lakinya, ⁠Muafaq Abu Safia, mengatakan pengacara mereka memberitahukan bahwa Hussam telah kehilangan berat badan hingga ⁠40kg selama di penjara. Ia juga mengalami empat tulang rusuk patah dan sejumlah masalah kesehatan lainnya.

“Semua kejahatan yang dilakukan terhadapnya oleh pihak pendudukan (Israel) semata-mata karena ia menolak meninggalkan rumah sakit dan para pasien,” kata Muafaq.

2. Gaza hadapi kekurangan pasokan medis akibat pembatasan Israel

serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

PHRI mengatakan bahwa penahanan yang terus berlanjut terhadap para dokter tersebut dapat menghambat upaya pemulihan sistem layanan kesehatan di Gaza. Mereka pun menyerukan kepada para aktor internasional untuk menunjukkan solidaritas demi mendorong pembebasan mereka.

Sementara itu, sejumlah kelompok bantuan telah memperingatkan bahwa Gaza menghadapi kekurangan pasokan medis akibat pembatasan yang diberlakukan Israel. Victoria Rose, seorang ahli bedah plastik yang melakukan beberapa perjalanan ke Gaza antara Maret 2024 dan Juni 2025, mengatakan bahwa kondisi yang ditemuinya di lapangan sungguh tak terbayangkan.

“Pada puncak perang, kondisinya tidak bisa dibandingkan dengan sebelum konflik. Periode terburuk terjadi pada Mei dan Juni 2025. Terjadi blokade total terhadap bahan bakar, air, dan makanan. Kami sama sekali tidak memiliki persediaan. Kami hanya memiliki dua jenis antibiotik. Itu benar-benar tak terbayangkan, dan pasien datang dalam jumlah yang sangat besar," ungkapnya, dikutip dari Al Jazeera.

3. Serangan Israel tewaskan lebih dari 1.700 tenaga medis di Gaza

Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Selama perang di Gaza, Israel menggerebek dan mengebom rumah sakit hingga menghancurkan sebagian besar sistem layanan kesehatan di wilayah tersebut. Kelompok hak asasi manusia menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional.

“Kami mulai memahami bahwa salah satu kebijakan utama tentara Israel adalah menghancurkan sistem kesehatan di Gaza,” kata Naji Abbas, direktur departemen tahanan dan narapidana PHRI.

Menurut asosiasi Bantuan Medis untuk Palestina, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.700 tenaga medis antara Oktober 2023 dan Oktober 2025. Israel sendiri membantah sengaja menargetkan tenaga medis di Gaza dan menuduh Hamas menggunakan rumah sakit untuk kepentingan militer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team