Jakarta, IDN Times - Keluarga jurnalis Republika yang ikut dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla disebut telah menerima informasi terkait situasi intersepsi yang dilakukan militer Israel terhadap armada bantuan menuju Gaza. Pihak Republika menyatakan komunikasi dengan keluarga korban sudah dilakukan sesuai protokol yang berlaku dalam misi tersebut.
Wakil Pemimpin Redaksi Republika Stevy Maradona mengatakan, setiap peserta misi telah memiliki prosedur khusus apabila terjadi intersepsi atau penangkapan di tengah pelayaran. Salah satunya melalui pengiriman video SOS yang sebelumnya telah direkam peserta.
“Keluarga udah ada protokolnya memang bahwa misalnya ada video SOS yang kelihatan di medsosnya Republika gitu kan, bahwa video itu harus dikirimkan ke siapa? Itu yang pertama dari yang bersangkutan, yang kedua dari kantor pun sudah menghubungi keluarga yang bersangkutan juga. Kita jelasin situasinya kayak gini, mohon doanya semoga selamat lah nggak ada terjadi apa-apa,” kata Stevy Maradona, Senin (18/5/2026).
Dia mengatakan, pihak Republika berharap para relawan dan jurnalis yang berada di dalam armada tidak mengalami kekerasan selama proses intersepsi berlangsung.
Menurut dia, pengalaman intersepsi armada kemanusiaan sebelumnya menjadi acuan dalam memantau perkembangan situasi saat ini.
“Kalaupun ditangkap atau di-intercept nggak ada apa-apa. Karena kan kita berkaca dari kasus bulan April, jadi pelayaran bulan April kan juga sama, pelayaran di Yunani lagi jalan puluhan kapal di-intercept. Kapalnya diajak diarahkan di Yunani, seluruh penumpangnya dikeluarin, didata, ditangkap, habis itu dibebaskan lagi,” ujarnya.
Sebelumnya, pasukan Israel dilaporkan mencegat armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional. Sekitar 100 aktivis disebut ditangkap dalam operasi tersebut, termasuk jurnalis Republika Bambang Noroyono yang berada di kapal Boralize. Selain Bambang, jurnalis Republika lainnya, Thoudy Badai Rifan Billah, juga berada dalam misi pelayaran kemanusiaan itu.
