Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bendera Ukraina
ilustrasi bendera Ukraina (unsplash.com/photofixation)

Intinya sih...

  • Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mendeklarasikan keadaan darurat di seluruh negeri menyusul krisis energi imbas serangan Rusia.

  • Dorong koordinasi antara pemerintah, penyedia layanan energi, dan swasta untuk meningkatkan kesiapsiagaan di seluruh jajaran pemerintah pusat dan lokal.

  • SBU sebut serangan di infrastruktur energi sebagai pelanggaran HAM dengan 256 serangan udara Rusia yang menyasar fasilitas energi dan penghangat di Ukraina.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mendeklarasikan keadaan darurat di seluruh negeri menyusul krisis energi imbas serangan Rusia. Terdapat ancaman pemadaman listrik dan penghangat di musim dingin akibat krisis energi. 

“Konsekuensi dari serangan Rusia dan kombinasi musim dingin ekstrem mengharuskan kami menetapkan keadaan darurat. Pekerja darurat sedang memperbaiki fasilitas energi dan berharap sistem listrik dan penghangat segera bekerja kembali,” ungkap Zelenskyy, dikutip dari United24, Kamis (15/1/2026).

Pada Desember, pemerintah lokal di Odesa sudah menerapkan keadaan darurat tingkat nasional. Keputusan ini didorong serangan besar-besaran Rusia yang menyasar infrastruktur energi. 

1. Dorong koordinasi antara pemerintah, penyedia layanan energi, dan swasta

Zelenskyy mengatakan, penetapan darurat energi nasional ini penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan di seluruh jajaran pemerintah pusat dan lokal. Dengan ini, seluruh shelter dengan fasilitas lengkap, seperti penghangat, internet, dan listrik akan tersedia. 

Presiden Ukraina keenam itu mendorong koordinasi ketat antara pemerintah pusat, lokal, penyedia layanan energi, dan swasta. Ia meminta semua pihak untuk bersatu dalam menyelesaikan krisis energi di Ukraina. 

Sementara itu, peraturan jam malam akan dikaji ulang. Sebab, warga harus dapat pergi ke titik tertentu dan bisnis serta sekolah butuh fleksibilitas untuk mengatur jadwalnya di tengah krisis energi nasional. 

2. SBU sebut serangan di infrastruktur energi sebagai pelanggaran HAM

Pada saat yang sama, Badan Keamanan Ukraina (SBU) menetapkan serangan Rusia ke fasilitas energi sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Pihaknya menilai Moskow berusaha menghancurkan kehidupan warga sipil Ukraina. 

Juru Bicara SBU, Andriy Dekhtariarenko menyebut bahwa sejak awal musim dingin, sudah ada 256 serangan udara Rusia yang menyasar fasilitas energi dan penghangat di Ukraina. Sejak Oktober, Rusia sengaja melancarkan serangan 11 PLTA dan 45 sistem penghangat. 

Serangan tersebut mengombinasikan penggunaan rudal balistik dan rudal jelajah. Rusia sudah menggunakan berbagai tipe rudal, termasuk Iskander, Kalibr, Kh-101, dan Kh-69, dan drone tipe Geran. 

3. Krisis energi di Kiev semakin mengkhawatirkan

Kepala Pusat Penelitian Energi Ukraina, Oleksandr Kharchenko menyebut situasi krisis energi di Ukraina kian mengkhawatirkan. Ia menyebut kombinasi berbagai faktor membuat krisis semakin parah. 

“Situasi krisis energi di Kiev semakin sulit. Serangan di fasilitas energi di tengah temperatur udara yang mencapai -15 derajat Celcius membuat situasi di ibu kota memburuk. Sebab, Kiev sangat tergantung pada penghangat yang terpusat,” ungkapnya, dilansir Kyiv Post.

Saat ini, Ukraina berupaya untuk memulihkan seluruh infrastruktur energi di tengah musim dingin ekstrem. Ukraina juga berencana untuk mengimpor listrik dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team