Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ketua Parlemen Lebanon Tolak Negosiasi Damai dengan Israel
potret Ketua Parlemen Lebanon yang bersekutu dengan Hizbullah, Nabih Berri (tasnimnews.ir/Hamed Malekpour via commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)
  • Nabih Berri menolak negosiasi damai dan gencatan senjata dengan Israel sebelum serangan terhadap Lebanon benar-benar dihentikan secara permanen.
  • Negosiasi damai Lebanon-Israel masih berlangsung di bawah mediasi AS, dengan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu diumumkan oleh Donald Trump.
  • Benjamin Netanyahu meminta AS membatasi waktu negosiasi dan mengancam memperluas operasi militer di Lebanon jika pembicaraan berjalan alot.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menolak keras negosiasi perdamaian antara negaranya dengan Israel. Dalam pernyataannya pada Senin (4/5/2026), Berri menegaskan, negosiasi damai dengan Israel tidak boleh berlanjut sebelum mereka menghentikan serangan terhadap Lebanon.  

Sikap yang ditunjukkan Berri ini sama dengan Hizbullah. Sebab, ia dikabaran bersekutu dengan milisi tersebut. Hizbullah sendiri sudah sejak lama menolak keras negosiasi perdamaian antara Lebanon dan Israel. Sebab, jika negosiasi dilakukan, itu sama saja Lebanon menyerah terhadap Israel.

Dalam pernyataannya, Berri juga dengan tegas menolak kesepakatan gencatan senjata Lebanon dan Israel. Sebab, kesepakatan itu hanya mengakhiri perang sementara waktu. Terlebih, meski sudah ada gencatan senjata, Israel juga masih menyerang Lebanon secara membabi buta. Oleh karena itu, Berri mendesak Israel untuk mengakhiri perang secara permanen agar negosiasi bisa berlanjut.

1. Negosiasi damai Lebanon dan Israel masih berlangsung

potret bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

Proses negosiasi damai antara Lebanon dan Israel sendiri kini masih berlanjut. Negosiasi terakhir sebelumnya sudah dilakukan di Washington DC, Amerika Serikat, pada 24 April lalu. Hasil negosiasi tersebut adalah perpanjangan gencatan senjata Lebanon dan Israel selama tiga pekan. 

“Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu,” tulis Presiden AS, Donald Trump, dalam sebuah unggahan di Truth Social, seperti dilansir CNBC

Oleh karena itu, Trump meminta Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata yang sudah disepakati Lebanon dan Israel. Ia juga berjanji akan melindungi Lebanon dari ancaman Hizbullah yang kerap membuat onar.  

2. Benjamin Netanyahu minta AS batasi waktu negosiasi Israel dan Lebanon

potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (commons.wikimedia.org/Itzhak Harari)

Pada 29 April pekan lalu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta AS yang berperan sebagai mediator untuk membatasi waktu negosiasi damai antara Israel dan Lebanon yang kini sedang berlangsung. Permintaan tersebut disampaikan Netanyahu saat menelepon Trump.

Dalam percakapan itu, Netanyahu meminta Trump untuk membatasi waktu negosiasi Israel dan Lebanon selama selama 2 atau 3 pekan saja. Pembatasan waktu ini bertujuan agar proses negosiasi berjalan cepat dan efektif. Sebab, jika tidak diberi tenggat waktu, negosiasi Israel dan Lebanon berpotensi molor. Ini tentu akan membuat konflik di antara kedua negara jadi makin alot.   

3. Netanyahu ingin perluas operasi militer di Lebanon jika negosiasi alot

ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Netanyahu menambahkan, jika negosiasi damai berjalan alot hingga melebihi batas waktu, ia akan memerintahkan pasukannya untuk memperluas operasi militer di Lebanon. Terlebih, saat ini, Hizbullah juga masih melakukan perlawanan meski sudah ada gencatan senjata.  

Namun, rencana tersebut berpotensi ditolak oleh AS. Sebab, Trump sebelumnya sudah mewanti-wanti Israel untuk membatasi aktivitas militernya di Lebanon selama gencatan senjata berlangsung. Langkah ini dilakukan agar proses gencatan senjata berjalan lancar sehingga perdamaian bisa segera diraih. 

Sebagai informasi, Israel hingga saat ini masih melakukan serangan ke Lebanon, tepatnya ke wilayah Lebanon selatan. Sebab, mereka ingin membasmi Hizbullah yang bermarkas di sana.

Beberapa waktu lalu, Israel juga mengklaim bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung tidak melibatkan Lebanon selatan. Oleh karena itu, mereka berdalih serangan yang dilakukan ke wilayah itu tidak melanggar aturan gencatan senjata.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team