Israel Akui Rusak Biara Katolik di Lebanon Selatan

- Militer Israel mengakui pasukannya merusak biara Katolik di Yaroun, Lebanon selatan, yang memicu kecaman dari organisasi amal Katolik Prancis L'Oeuvre d'Orient.
- Israel menuduh Hizbullah menggunakan biara tersebut untuk meluncurkan roket, namun Gereja Katolik Lebanon membantah keras dan menegaskan tempat itu hanya digunakan untuk kegiatan keagamaan dan pendidikan.
- Dua tentara Israel dijatuhi hukuman penjara 30 hari karena merusak patung Yesus di desa Debl, memperburuk citra militer Israel di tengah meningkatnya kekerasan terhadap komunitas Kristen.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel mengakui pasukannya telah merusak sebuah bangunan keagamaan di desa Yaroun, Lebanon selatan. Pengakuan yang disampaikan pada Sabtu (2/5/2026) ini, memicu kecaman dari badan amal Katolik asal Prancis, L'Oeuvre d'Orient.
Kelompok amal itu menyebut tindakan Israel sebagai serangan yang disengaja terhadap tempat ibadah umat Kristen. Insiden tersebut menambah ketegangan di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di wilayah perbatasan.
1. Israel tuduh biara digunakan oleh Hizbullah

Bangunan yang rusak diidentifikasi sebagai biara milik Suster Salvatorian. Kelompok ini merupakan ordo keagamaan Katolik-Yunani yang sebelumnya sempat memfasilitasi sekolah dan klinik bagi masyarakat.
"Kami mendengar kabar bahwa biara tersebut telah dihancurkan menggunakan buldoser," ujar pimpinan umum Suster Salvatorian, Gladys Sabbagh, dilansir The Times of Israel.
Juru bicara militer Israel, Kolonel Avichay Adraee, mengklaim kerusakan itu terjadi saat operasi penghancuran infrastruktur teroris. Ia berdalih bangunan tersebut tidak memiliki tanda-tanda sebagai fasilitas keagamaan.
Adraee menuduh kelompok Hizbullah menggunakan biara untuk meluncurkan roket ke wilayah Israel. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel membantah pihaknya telah menghancurkan situs itu secara total.
2. Gereja Katolik bantah klaim militer Israel

Gereja Katolik di Lebanon membantah klaim yang menyebut kompleks biara itu digunakan untuk tujuan militer. Mereka menegaskan, tempat itu berfungsi sebagai pusat penyebaran nilai perdamaian dan pendidikan.
"Kami menentang semua praktik yang menyerang tempat ibadah dan gereja karena ini bukan pangkalan militer," tutur Direktur Pusat Informasi Katolik, Pendeta Abdo Abou Kassm, dilansir The Times of Israel.
Organisasi L'Oeuvre d'Orient juga mengecam operasi penghancuran rumah di Lebanon selatan. Mereka menuduh Israel melaksanakan penghancuran sistematis untuk mencegah warga setempat kembali ke rumah mereka.
3. Dua tentara Israel dipenjara akibat merusak patung Yesus

Insiden perusakan biara di Yaroun menyusul kasus pelecehan simbol agama lain oleh tentara Israel. Dua tentara Israel baru saja dijatuhi hukuman penjara 30 hari akibat merusak patung Yesus di desa Debl.
Sebuah foto yang beredar di media sosial memperlihatkan aksi seorang tentara Israel memukul kepala patung menggunakan palu godam. Tindakan vandalisme tersebut langsung memicu gelombang kecaman dari komunitas internasional.
Selain di Lebanon, laporan dari Pusat Pendidikan dan Dialog Rossing juga mengungkap adanya lonjakan kekerasan terhadap komunitas Kristen di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki. Laporan itu mencatat setidaknya 155 insiden intimidasi dan agresi pada 2025.

















