Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Intinya sih...

  • 65 orang tewas akibat protes di Iran

  • Ada pemadaman jaringan internet total selama 24 jam terakhir

  • Iran tuduh AS dan Israel sebagai dalang di balik meluasnya protes di Iran

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersumpah bahwa republik Islam tidak akan mundur menghadapi gelombang protes besar-besaran yang melanda negeri itu. Ia menyebut para pengunjuk rasa sebagai pengacau dan penyabotase dalam pidatonya yang disiarkan di televisi pada Jumat (9/1/2026).

Demonstrasi telah berlangsung di berbagai wilayah Iran sejak 28 Desember. Aksi ini awalnya dipicu oleh kemarahan masyarakat atas meningkatnya biaya hidup, tapi kemudian berkembang menjadi demonstrasi antipemerintah yang menyerukan pergantian rezim. Sejauh ini, protes terbesar terjadi di Teheran pada Kamis (8/1/2026) malam.

“Semalam di Teheran, sekelompok perusuh datang dan menghancurkan sebuah bangunan milik mereka sendiri demi menyenangkan presiden Amerika Serikat (AS). Semua orang tahu Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat, mereka tidak akan mundur menghadapi para penyabot," kata Khamenei dalam pidato di hadapan para pendukungnya.

Ia menambahkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, bertanggung jawab atas kematian lebih dari seribu warga Iran, yang tampaknya merujuk pada perang Israel-Iran pada Juni lalu. Ia juga menyebut pemimpin AS itu akan menghadapi nasib serupa dengan Syah Iran, yang digulingkan dalam Revolusi 1979.

1. Sebanyak 65 orang tewas akibat protes di Iran

Dilansir dari France24, pemantau internet Netblocks menyatakan pihak berwenang Iran kini telah memberlakukan pemadaman jaringan internet total selama 24 jam terakhir. Langkah ini dinilai melanggar hak-hak warga Iran dan merupakan upaya untuk menutupi kekerasan yang dilakukan rezim.

Dalam pernyataan terpisah, Amnesty International menyebut pemadaman internet menyeluruh itu bertujuan menyembunyikan skala sebenarnya dari pelanggaran hak asasi manusia serius serta kejahatan menurut hukum internasional yang dilakukan guna menekan aksi protes.

Sementara itu, menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu (10/1/2026), jumlah korban tewas akibat protes di Iran telah mencapai 65 orang. Mereka terdiri dari 50 pengunjuk rasa, 14 petugas penegak hukum dan keamanan, dan seorang warga sipil yang berafiliasi dengan pemerintah. Selain itu, puluhan orang juga terluka dan 2.311 lainnya ditahan, dikutip dari Anadolu.

2. Iran tuduh AS dan Israel sebagai dalang di balik meluasnya protes di Iran

Trump mengatakan Iran saat ini berada dalam masalah besar seiring meluasnya demonstrasi hingga ke seluruh negeri. Pemimpin AS itu telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi apabila Teheran terus melakukan tindakan keras terhadap demonstran.

“Iran sedang dalam masalah besar. Menurut saya, rakyat mulai mengambil alih sejumlah kota yang beberapa pekan lalu tidak pernah terpikirkan. Kami memantau situasi ini dengan sangat cermat," kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih pada Jumat.

Ia menambahkan bahwa respons apa pun dari AS tidak akan melibatkan pengerahan pasukan di lapangan, melainkan akan berfokus pada langkah-langkah yang dapat memberikan tekanan keras pada titik-titik paling sensitif bagi Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri, Iran Abbas Araghchi, menuding AS dan Israel sebagai dalang di balik meluasnya aksi protes. Ia mengatakan, kedua negara tersebut berupaya mengubah demonstrasi damai menjadi aksi yang memecah belah dan penuh kekerasan.

3. Putra Syah Iran serukan pemogokan nasional

Sementara itu, Reza Pahlavi, putra Syah terakhir Iran yang menyerukan demonstrasi besar-besaran pekan ini, memuji para pengunjuk rasa yang turun ke jalan pada Jumat malam.

“Saya yakin bahwa dengan membuat kehadiran kita di jalan-jalan lebih terarah, dan pada saat yang sama memutus aliran keuangan mereka, kita akan sepenuhnya memaksa Republik Islam beserta aparat penindasannya yang usang dan rapuh untuk bertekuk lutut," tulisnya Pahlavi, yang hidup di pengasingan di AS, dalam unggahannya di X.

Ia menyerukan kepada para pekerja di sektor-sektor ekonomi utama Iran, khususnya transportasi, minyak, gas dan energi, untuk melakukan pemogokan nasional guna meningkatkan tekanan terhadap pemerintah. Ia juga mendorong agar aksi protes terus dilanjutkan pada Sabtu dan Minggu (11/1/2026) malam.

“Tujuan kita bukan lagi sekadar turun ke jalan; tujuan kita adalah mempersiapkan diri untuk merebut pusat-pusat kota dan menguasainya,” tambahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team