Demo soal Ekonomi Meluas, Iran Padamkan Jaringan Internet

- Pemadaman internet untuk tutupi kekerasan aparat
- Protes dipicu naiknya harga barang di Iran
- Pejabat Iran tuduh AS-Israel tunggangi aksi protes
Jakarta, IDN Times – Iran mengalami pemadaman internet total pada Kamis malam (8/1/2026) seiring meluasnya gelombang protes ekonomi di seluruh negeri. Kelompok pemantau internet, NetBlocks, mengonfirmasi hilangnya konektivitas secara drastis saat aparat keamanan meningkatkan tindakan keras terhadap para demonstran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya pemerintah untuk membungkam arus informasi keluar mengenai situasi di lapangan. Pemadaman terjadi setelah serangkaian demonstrasi besar yang dipicu oleh krisis ekonomi parah dan inflasi yang mencekik kehidupan warga.
1. Pemadaman internet diduga untuk tutupi kekerasan aparat

Data konektivitas jaringan menunjukkan penurunan tajam hingga negara tersebut hampir sepenuhnya offline pada Kamis sore waktu setempat. Kondisi ini diungkap oleh NetBlocks dan pemantau pemadaman internet Georgia Institute of Technology.
Pemerintah Iran diduga menggunakan taktik pemutusan jaringan untuk menutupi represi terhadap pengunjuk rasa. Omid Memarian, seorang pakar hak asasi manusia, menyebut tindakan ini kerap digunakan pemerintah saat protes mencapai titik kritis.
"Pemerintah Iran menggunakan pemadaman internet sebagai alat penindasan untuk memutus hubungan negara dengan internet global, mengisolasi pengunjuk rasa, dan membatasi komunikasi mereka dengan dunia luar," ujar Omid Memarian, dilansir The New York Times.
Di tengah gelapnya informasi, laporan mengenai korban jiwa terus bertambah. Kelompok Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan setidaknya 45 demonstran tewas, termasuk delapan anak-anak, sejak protes dimulai.
Kekerasan aparat keamanan dilaporkan meningkat dengan penggunaan peluru tajam dan gas air mata. Amnesty International bahkan menuduh aparat menyerbu rumah sakit untuk menangkap demonstran yang terluka.
2. Protes di Iran dipicu naiknya harga barang

Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh masalah ekonomi kini telah menyebar ke seluruh 31 provinsi di Iran. Masyarakat turun ke jalan di kota-kota besar seperti Teheran, Mashhad, hingga wilayah barat di Kermanshah karena semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar.
Salah satu penyebab utama kemarahan publik adalah keputusan pemerintah menghapus subsidi nilai tukar untuk importir yang membuat harga barang melonjak. Rata-rata harga pangan dilaporkan naik lebih dari 70 persen dibandingkan tahun lalu, sementara harga obat-obatan meningkat sekitar 50 persen, dilansir The Guardian.
Pedagang pasar tradisional atau bazaaris, yang secara historis merupakan pendukung pemerintah, turut melakukan aksi mogok massal dengan menutup toko mereka. Aksi ini melumpuhkan aktivitas ekonomi di Teheran, Tabriz, Isfahan, dan kota-kota pusat perdagangan lainnya.
Tuntutan demonstran kini telah bergeser dari sekadar keluhan ekonomi menjadi seruan pergantian rezim secara terbuka. Massa meneriakkan slogan-slogan antipemerintah seperti "Matilah Khamenei!" dan menyuarakan dukungan bagi putra Syah Iran yang diasingkan.
3. Pejabat Iran tuduh AS-Israel tunggangi aksi protes

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, meminta aparat menahan diri, tetapi otoritas peradilan mengambil sikap lebih keras. Kepala Kehakiman Iran memerintahkan aparat untuk tidak memberikan keringanan hukuman bagi mereka yang dianggap membuat rusuh.
Para pejabat tinggi Iran menuding kerusuhan ini didalangi oleh musuh asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel.
"Musuh telah secara resmi mengumumkan dukungannya, jadi saya katakan kepada masyarakat dan keluarga bahwa kali ini tidak ada seorang pun akan luput dari hukuman," tegas Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, dilansir The New York Times.
Situasi di Iran memancing reaksi keras dari Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam akan melakukan intervensi. Trump memperingatkan Teheran akan ada konsekuensi berat jika aparat keamanan terus membunuh para demonstran.
“Saya telah memberi tahu mereka bahwa jika mereka mulai membunuh orang, yang biasanya mereka lakukan selama kerusuhan, kami akan menindak mereka dengan sangat keras,” tutur Trump, dilansir CNN.
















