Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Buya Syafii Hidup Lagi lewat Kaba Kebangsaan Minang ISI Padang
Pentas budaya bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” yang digelar di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Minggu (31/5/2026)(dok. Istimewa)
  • Pentas budaya 'Kaba Kebangsaan dari Minangkabau' di ISI Padang Panjang menghadirkan kembali sosok Buya Syafii Maarif sebagai bagian dari rangkaian Bulan Buya yang digelar MAARIF Institute.
  • Sesi pembacaan ulang kuliah umum Buya Syafii tahun 2015 menjadi momen reflektif yang menghubungkan generasi muda dengan gagasan kebangsaan dan kejernihan berpikir sang Guru Bangsa.
  • Pagelaran bertutur kolaboratif memadukan seni tutur, musik, dan visual untuk menghidupkan nilai kemanusiaan serta keadaban yang diperjuangkan Buya Syafii, melibatkan seniman Komunitas Talago Buni.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada acara di Padang buat ingat Buya Syafii Maarif, orang baik yang sudah meninggal empat tahun lalu. Banyak seniman tampil bercerita, bernyanyi, dan main musik tentang kebaikan dan semangat Buya. Orang-orang datang nonton gratis. Sekarang acaranya masih jalan di beberapa kota sampai nanti selesai di Jakarta bulan Juni.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sosok Ahmad Syafii Maarif kembali dihadirkan melalui cara yang berbeda. Bukan lewat seminar atau diskusi akademik, melainkan melalui pentas budaya bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” yang digelar di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Minggu (31/5/2026).

Pentas budaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Buya yang diselenggarakan MAARIF Institute untuk memperingati hari lahir sekaligus empat tahun wafatnya Buya Syafii Maarif. Setelah sukses menggelar pameran seni rupa "Suluh Bangsa" di Yogyakarta, estafet kegiatan berlanjut ke Sumatra Barat sebelum nantinya mencapai puncak perayaan di Jakarta pada pertengahan Juni mendatang.

1. Kaba Kebangsaan jadi ruang refleksi di tengah tantangan zaman

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam diskusi "Pancasila dan Demokrasi di Indonesia: Menyelami Pemikiran Prof. Ahmad Syafii Maarif" pada Rabu (29/6/2022). (YouTube/CSIS Indonesia).

Manajer Pelaksana MAARIF Institute, Akbar Nicholas, mengatakan pemilihan Sumatra Barat sebagai simpul kedua rangkaian Bulan Buya bukan tanpa alasan. Menurutnya, tanah Minangkabau memiliki kedekatan historis dengan perjalanan hidup dan pemikiran Buya Syafii Maarif.

“Dipilihnya Ranah Minang sebagai simpul kedua dari rangkaian tiga kota ini membawa pesan mendalam. Agenda pentas budaya yang digelar secara gratis dan terbuka untuk umum ini bukan sekadar sebuah tontonan semata, melainkan sebuah undangan terbuka untuk merenung bersama di tengah riuh dan dinamisnya tantangan zaman,” kata Akbar.

Melalui medium seni bertutur, nilai-nilai keadaban, kemanusiaan, dan keteguhan moral yang selama ini diperjuangkan Buya Syafii kembali dihidupkan. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat untuk menelusuri kembali warisan pemikiran sang Guru Bangsa yang tetap relevan di tengah kehidupan sosial yang terus berubah.

2. Kuliah umum Buya dibacakan ulang, hadirkan suasana emosional

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif. IDN Times/ Tunggul Damarjati

Sebelum memasuki pertunjukan utama, para hadirin diajak mengikuti sesi pembacaan ulang kuliah umum Buya Syafii Maarif yang pernah disampaikan di kampus ISI Padang Panjang pada 16 Maret 2015.

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo menyebut, sesi tersebut menjadi salah satu momen reflektif yang menghubungkan kembali generasi saat ini dengan gagasan-gagasan besar Buya Syafii.

“Satu momen reflektif yang menyentuh sisi emosional dan intelektual hadirin sebelum memasuki pertunjukan utama adalah sesi membaca ulang Kuliah Umum Buya Syafii Maarif,” ujarnya.

Pembacaan ulang dilakukan oleh Dede Pramayoza. Melalui sesi tersebut, MAARIF Institute berharap kejernihan berpikir dan pandangan kebangsaan Buya Syafii dapat kembali menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda.

3. Kolaborasi seni hidupkan kembali pemikiran Guru Bangsa

Pentas budaya bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau” yang digelar di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Minggu (31/5/2026)(dok. Istimewa)

Puncak acara diisi dengan pagelaran bertutur yang dikawal Direktur Artistik Edy Utama. Narasi kebangsaan dikemas melalui perpaduan seni tutur, musik, dan visual yang melibatkan sejumlah seniman dari Komunitas Talago Buni.

Pertunjukan tersebut didukung oleh duet Music Director Muhammad Halim dan Susandra Jaya, serta dibawakan secara teatrikal oleh narator Andria C. Tamsin dan Dede Pramayoza. Sementara harmoni musik dan vokal diperkuat oleh Emri, Hasanawi, Febrianti, serta Anna Amelia Putri.

Melalui pendekatan multimedia itu, para penyelenggara berharap pemikiran Buya Syafii dapat menjangkau lebih banyak kalangan. Pentas budaya ini juga menjadi upaya untuk merajut kembali tenun sosial, kemanusiaan, dan keadaban bangsa yang selama hidup konsisten diperjuangkan oleh Ahmad Syafii Maarif.

MAARIF Institute berharap seluruh lapisan masyarakat, mulai dari akademisi, mahasiswa, budayawan hingga pencinta seni, dapat bersama-sama menjaga api nurani kebangsaan agar tetap menyala melalui nilai-nilai yang diwariskan sang Guru Bangsa.

Editorial Team

Related Article