Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Iran membuat jalur vital energi dunia terganggu. Kondisi ini memutus sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, sementara kawasan Teluk menyuplai sekitar 60 persen impor minyak Asia dan hampir sepertiga kebutuhan gas alam cair.
Dampaknya mulai dirasakan di Australia dan Singapura melalui kenaikan harga bahan bakar. Sejumlah pompa bensin di Australia bahkan dilaporkan kehabisan jenis bahan bakar tertentu sehingga memicu kekhawatiran pembatasan pasokan.
Menteri Energi Chris Bowen menyampaikan bahwa sebagian pengiriman yang sempat dibatalkan kini telah digantikan. Ia menjelaskan perusahaan bahan bakar terus melaporkan kondisi pasokan kepada pemerintah, terutama menjelang pertengahan April saat stok diperkirakan menurun.
Di sisi lain, Asisten Menteri Luar Negeri Matt Thistlethwaite menilai kerja sama regional menjadi keunggulan Australia. Ia menyebut negara-negara Asia Pasifik memiliki peluang saling menopang kebutuhan energi masing-masing.
Sementara itu, Menteri Industri Bayangan Andrew Hastie menyoroti dampak konflik terhadap dinamika pasar energi global.
“Saya tidak pikir siapa pun mengharapkan orang Iran memegang kami dari selangkangan di Selat Hormuz, dan itu adalah kejutan bagi sekutu AS dan yang bergantung pada impor dari sana,” katanya, dikutip Region Canbera.
Perdana Menteri Albanese juga menerima pengarahan dari Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol. Dalam pernyataannya di National Press Club, Birol mengatakan dunia kini menghadapi ancaman keamanan energi global terbesar.