Darurat Energi, Negara di Eropa hingga Asia Batasi Listrik Imbas Perang Iran

- Eskalasi perang Israel-AS dan Iran memicu krisis energi global, menyebabkan gangguan pasokan minyak serta lonjakan harga energi di berbagai negara.
- Banyak negara mulai membatasi penggunaan listrik dan energi; Eropa menekan aktivitas industri, sementara Asia meningkatkan produksi domestik untuk menjaga pasokan.
- Harga minyak dunia melonjak hingga 175 dolar AS per barel, berpotensi dorong inflasi global, namun harga BBM di Indonesia masih relatif stabil meski ada kenaikan non-subsidi.
Jakarta, IDN Times — Tekanan krisis energi global dilaporkan semakin meningkat akibat eskalasi perang antara Israel-AS dan Iran. Perang tersebut telah memicu gangguan pasokan minyak dunia yang berujung naiknya harga energi. Di tengah gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak dunia, sejumlah negara mulai mengambil langkah pembatasan energi.
Dilansir akun media sosial X, @Imade_Kun, gangguan distribusi energi mulai terjadi di berbagai kawasan. Di Amerika Serikat misalnya, terjadi gangguan listrik di wilayah pantai timur. Sementara itu, Inggris mulai menerapkan peringatan darurat nasional dengan skema pemadaman listrik bergilir.
1. Sejumlah negara di kawasan Eropa batasi penggunaan energi

Di kawasan Eropa, tekanan energi juga terasa kuat. Jerman dilaporkan membatasi aktivitas industri. Prancis mengurangi produksi listrik dari pembangkit nuklir, sedangkan Italia menghadapi tekanan pasokan gas. Sementara itu di Asia, China meningkatkan produksi batu bara untuk menjaga pasokan dalam negeri. India dilaporkan mengalami pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
Jepang juga melakukan penghematan energi, termasuk penyesuaian operasional transportasi. Tekanan pasokan energi global juga dipengaruhi kebijakan produksi dari Arab Saudi, serta perubahan ekspor energi oleh Rusia yang kini lebih memprioritaskan kebutuhan domestik.
2. Melonjaknya harga minyak dunia berpotensi dorong inflasi global

Di belahan dunia lain, Brasil menghadapi penurunan kapasitas pembangkit listrik tenaga air akibat rendahnya cadangan air. Sementara Australia juga dilaporkan mengalami gangguan jaringan listrik di sejumlah wilayah. Seiring dengan kondisi tersebut, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak hingga sekitar 175 dolar AS per barel.
Lonjakan ini berpotensi mendorong inflasi global sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara. Sejumlah lembaga internasional pun mendorong langkah antisipatif guna menjaga stabilitas pasokan energi, serta meredam kenaikan harga di pasar global.
3. Harga BBM di Indonesia tetap stabil
.jpg)
Kendati demikian, harga BBM di Indonesia tetap stabil sejak awal Maret 2026. Perlu diketahui, penyesuaian harga BBM non-subsidi biasanya dilakukan setiap tanggal 1 setiap bulan. Namun jika dibandingkan Februari 2026, hampir seluruh harga BBM non-subsidi pada Maret 2026 mengalami kenaikan.
Pada Maret ini tercatat Pertamina mengerek harga BBM non-subsidi mereka. Perinciannya, harga Pertamax (RON 92) kini dipatok Rp12.300 per liter. Angka itu naik dibandingkan bulan sebelumnya yang senilai Rp11.800 per liter. Selanjutnya harga Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.450 menjadi Rp12.900 per liter. Lalu harga Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter.



















