Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
reruntuhan di Kota Gaza.
reruntuhan di Kota Gaza. (unsplash.com/mhmedbardawil)

Intinya sih...

  • Angka kematian lebih tinggi hingga 34,7 persen

    • Survei Kematian Gaza (GMS) memperkirakan total 75.200 kematian akibat kekerasan terjadi antara 7 Oktober 2023 hingga awal 2025.

  • Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 49.090 kematian akibat kekerasan pada periode yang sama.

  • Studi melibatkan 2 ribu rumah tangga

    • Studi ini menggunakan metode wawancara langsung terhadap 2 ribu rumah tangga yang mewakili 9.729 individu

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet Global Health pada Rabu (18/2/2026) mengungkap temuan mengejutkan mengenai korban jiwa di Gaza. Studi tersebut mengungkap jumlah korban tewas akibat kekerasan langsung telah melampaui 75.200 orang per 5 Januari 2025.

Temuan ini menunjukkan bahwa data resmi Kementerian Kesehatan Gaza selama ini justru merupakan perhitungan konservatif, bukan angka yang dilebih-lebihkan. Para peneliti menyimpulkan, jumlah korban sebenarnya sekitar 35 persen lebih tinggi dibandingkan laporan otoritas kesehatan setempat.

1. Angka kematian lebih tinggi hingga 34,7 persen

pemandangan reruntuhan di Gaza. (pixabay.com/hosnysalah)

Survei Kematian Gaza (GMS) memperkirakan total 75.200 kematian akibat kekerasan terjadi antara 7 Oktober 2023 hingga awal 2025. Angka kematian ini setara dengan sekitar 3,4 persen dari total populasi Gaza sebelum perang yang berjumlah 2,2 juta jiwa.

Sebagai perbandingan, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 49.090 kematian akibat kekerasan pada periode yang sama. Artinya, temuan riset ini sekitar 34,7 persen lebih tinggi dari laporan resmi pemerintah yang sering dipertanyakan pihak Israel.

Meski terdapat selisih jumlah total, komposisi demografis korban tewas dalam studi ini konsisten dengan data Palestina. Wanita, anak-anak, dan lansia mencakup 56,2 persen dari total korban tewas, memvalidasi akurasi pencatatan kategori korban oleh otoritas Gaza.

"Riset kami mengonfirmasi bahwa Kementerian Kesehatan tidak menggelembungkan angka, faktanya angka mereka adalah perhitungan yang jauh lebih rendah," ujar Michael Spagat, penulis utama studi, dilansir The Telegraph.

2. Studi melibatkan 2 ribu rumah tangga

pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Studi ini menggunakan metode wawancara langsung terhadap 2 ribu rumah tangga yang mewakili 9.729 individu. Peneliti menyesuaikan data dengan perpindahan penduduk dari wilayah yang sulit dijangkau seperti Gaza Utara, Kota Gaza dan Rafah untuk memastikan akurasi.

Peneliti mencatat bahwa undercount atau perhitungan yang lebih rendah terjadi karena kehancuran infrastruktur administrasi. Selain itu, banyak jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan gedung atau tidak teridentifikasi sehingga tidak masuk dalam pencatatan harian.

Menariknya, pejabat militer Israel yang sebelumnya skeptis kini mulai mengakui besarnya skala kematian. Militer Israel dilaporkan telah menerima bahwa angka tewas mencapai 70 ribu orang di Gaza.

"Validasi pelaporan MoH melalui berbagai metodologi independen mendukung keandalan sistem pencatatan korban administratifnya bahkan dalam kondisi ekstrem," tulis para peneliti dalam laporannya, dikutip dari Al Jazeera.

3. Kematian tidak langsung dan krisis medis di Gaza

ilustrasi perbatasan Gaza. (unsplash.com/Emad El Byed)

Selain kematian akibat kekerasan langsung, studi juga mencatat 16.300 kematian non-kekerasan selama periode konflik. Sebanyak 8.540 di antaranya dikategorikan sebagai kematian berlebih (excess deaths) akibat memburuknya kondisi hidup, malnutrisi, dan penyakit yang tidak terobati.

Beban cedera fisik juga mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan dengan estimasi 116.020 cedera kumulatif. Sekitar 29 ribu hingga 46 ribu korban di antaranya membutuhkan operasi rekonstruksi kompleks yang kini sangat sulit dilakukan di Gaza.

Infrastruktur medis yang hancur memperburuk situasi, di mana hanya 12 dari 36 rumah sakit yang berfungsi parsial hingga Mei 2025. Kapasitas tempat tidur rumah sakit anjlok drastis dari 3 ribu unit menjadi hanya 2 ribu unit untuk melayani seluruh populasi yang terluka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team