Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Salat Tarawih Perdana di Gaza, Warga Beribadah di Tengah Reruntuhan

Anak-anak berjalan melewati masjid yang hancur di Jalur Gaza tahun 2009 (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)
Anak-anak berjalan melewati masjid yang hancur di Jalur Gaza tahun 2009 (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Warga Gaza beribadah di reruntuhan masjid
  • Masjid Al-Omari hancur, jemaah salat di lokasi terbatas
  • Gencatan senjata rapuh, warga Gaza hadapi Ramadan di tengah pengungsian dan rekonstruksi yang belum pasti
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Senja turun di Gaza pada Selasa ketika saf-saf jemaah berdiri untuk salat. Namun, mereka tidak memenuhi masjid yang utuh, melainkan berdiri di atas reruntuhan bangunan yang pernah menjadi pusat ibadah.

Untuk pertama kalinya sejak perang dua tahun Israel di wilayah itu berakhir, warga Palestina menyambut awal bulan suci Ramadan dalam situasi gencatan senjata yang rapuh. Salat Tarawih digelar di halaman yang masih dipenuhi puing dan di ruang-ruang darurat yang dibuat dari lembaran nilon serta papan kayu.

Banyak masjid di seluruh Gaza sudah tidak lagi berdiri. Kubah dan menara yang dulu menjadi penanda kini berganti terpal plastik, sementara lantai marmer berubah menjadi beton tak rata dan pasir. Di saat doa-doa dipanjatkan, drone pengintai Israel masih berputar di langit beberapa wilayah, mengingatkan bahwa ketenangan yang ada belum sepenuhnya kokoh.

1. Masjid bersejarah Al-Omari dipenuhi jemaah

Serangan udara Israel yang menargetkan Jalur Gaza selama perang 2023-2025 (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Serangan udara Israel yang menargetkan Jalur Gaza selama perang 2023-2025 (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Di Kota Tua Gaza, warga kembali mendatangi Masjid Al-Omari, salah satu yang terbesar dan tertua di Palestina. Masjid yang didirikan lebih dari 14 abad lalu itu mengalami kehancuran hampir total akibat pemboman yang terdokumentasi pada Desember 2023.

Sejumlah bagian bangunan kini ditutup dengan material sementara agar jemaah tetap bisa mengaksesnya secara terbatas. Meski kerusakan sangat parah, ratusan orang tetap memadati lokasi tersebut untuk salat malam.

“Bahkan setelah semua yang terjadi, orang-orang tetap memilih salat di sini. Selama perang, kami sekarat setiap hari. Tapi ini tetap masjid kami,” kata Muawiya Kashko, warga lingkungan Zeitoun, dikutip dari Anadolu, Rabu (18/2/2026).

Jemaah lain, Abu Abdullah Khalaf, menyebut kehadiran di lokasi itu sarat makna. “Kami berdiri di sini meski ada kehancuran. Kami ingin kelegaan. Kami ingin stabilitas,” imbuhnya.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 1.015 masjid hancur atau rusak selama perang. Setidaknya 835 di antaranya rata dengan tanah, sementara puluhan lainnya hanya menyisakan kerangka bangunan.

2. Menjalankan tarawih di bawah terpal

Anak-anak laki-laki menyelamatkan bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza, tahun 2009. (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)
Anak-anak laki-laki menyelamatkan bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza, tahun 2009. (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)

Pemandangan serupa terlihat di berbagai wilayah Gaza. Tenda-tenda salat didirikan di atas puing dan segera dipenuhi jemaah.  Beberapa tenda diterangi generator kecil yang hanya menyala dalam waktu terbatas. Sebagian lainnya mengandalkan cahaya samar yang menembus kain terpal yang robek.

Syekh Rami Al-Jarousha, imam Masjid Al-Amin Mohammed di Gaza barat yang rusak berat, mengatakan Ramadan tahun ini terasa berbeda. “Ramadan kali ini membawa nuansa yang berbeda. Orang-orang kelelahan, karena perang, karena kehilangan, karena pengungsian,” tuturnya.

Namun, tekad untuk tetap beribadah tidak surut. “Kami akan salat di mana saja. Bahkan jika itu di atas reruntuhan,” ucap Al-Jarousha.

Bagi Ramiz Al-Mashharawi (65), Ramadan kali ini hadir dengan duka mendalam. Ia kehilangan dua putra dan seorang cucu beberapa bulan lalu, yang sebelumnya selalu menemaninya salat malam. “Tahun ini, saya merasa sendiri,” ucapnya pelan. Meski begitu, ia tetap menghadiri salat di lokasi sementara yang dibangun di atas sisa-sisa Masjid Al-Kanz di distrik Rimal.

3. Gencatan senjata rapuh di Gaza

Israel menyerang Gaza.
potret serangan Israel di Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Ketika Mufti Agung Yerusalem mengumumkan Rabu ini menjadi hari pertama Ramadan, banyak warga Gaza merasakan kegembiraan yang meredup. Dua Ramadan sebelumnya berlangsung di tengah pemboman dan krisis kelaparan akut. Banyak keluarga bahkan kesulitan menyiapkan makanan sederhana untuk berbuka puasa (iftar) maupun sahur.

Kini, meski pertempuran skala besar telah mereda, pengungsian masih meluas dan rekonstruksi belum pasti. Listrik sebagian besar masih terputus, dan ribuan keluarga tetap tinggal di tenda-tenda di antara puing bangunan.

Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, mengakhiri perang dua tahun yang menewaskan lebih dari 72.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 171.000 lainnya sejak Oktober 2023.

Namun, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak kesepakatan itu berlaku, pasukan Israel telah melakukan ratusan pelanggaran melalui penembakan dan serangan, yang menewaskan 603 warga Palestina dan melukai 1.618 lainnya.

Bagi banyak warga Gaza, Ramadan tahun ini bukanlah kembalinya kehidupan normal. Di antara tembok yang runtuh dan tenda-tenda darurat, ibadah menjadi penanda keteguhan—harapan yang bertahan di tengah kehilangan dan ketidakpastian yang masih membayangi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More

Istana Pastikan Belum Ada Rencana Bahas Revisi UU KPK

18 Feb 2026, 19:04 WIBNews