Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Korut Tembakkan 10 Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang, Respons Latihan Militer AS-Korsel?
Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Forest Katsch)
  • Korea Utara menembakkan sekitar 10 rudal balistik ke Laut Jepang dari daerah Sunan, Pyongyang, sebagai respons terhadap latihan militer gabungan AS-Korsel yang sedang berlangsung.
  • Pemerintah Jepang dan Korea Selatan mengutuk keras peluncuran rudal tersebut, menyebutnya sebagai provokasi yang melanggar resolusi PBB dan berpotensi mengancam keamanan regional.
  • Media resmi Korut menuduh Jepang memperburuk ketegangan kawasan melalui modernisasi militer dan pengerahan rudal jarak jauh, serta memperingatkan konsekuensi serius jika Tokyo terus memperluas kekuatan ofensifnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Korea Selatan (Korsel) melaporkan bahwa Korea Utara (Korut) meluncurkan sekitar 10 rudal balistik ke arah Laut Jepang pada Sabtu (14/3/2026). Insiden ini terjadi beberapa hari setelah Korut memperingatkan konsekuensi mengerikan atas latihan militer Korsel-Amerika Serikat (AS).

"Proyektil-proyektil tersebut diluncurkan ke arah timur dari daerah Sunan, dekat Pyongyang, sekitar pukul 13:20 waktu setempat," kata Kepala Staf Gabungan (JCS) Korsel, dilansir Kyodo News.

Kementerian Pertahanan Jepang mengonfirmasi adanya peluncuran rudal dan proyektil jatuh di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang. Dilaporkan, rudal tersebut terbang sejauh 340 km dengan ketinggian maksimum 80 km.

1. Peluncuran rudal balistik Korut sebagai protes atas latihan militer AS-Korsel

Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Maciej Ruminkiewicz)

Langkah provokatif ini secara luas dipandang sebagai bentuk protes atas latihan militer gabungan tahunan Korsel dan AS, Freedom Shield, yang sedang berlangsung. Korut sering mengklaim bahwa tindakan AS dan sekutunya tersebut adalah latihan untuk invasi, meski Washington dan Seoul menyebut latihan itu untuk memperkuat resposn kolektif aliansi dan meningkatkan kesiapan bersama.

Peluncuran sekitar 10 rudal sekaligus oleh Korut adalah hal yang jarang terjadi. Sebelumnya, rekor peluncuran massal Pyongyang pernah terjadi pada 30 Mei 2024. Saat itu, Korut menembakkan 18 rudal balistik jarak pendek (SRBM) di Laut Timur.

Pyongyang terakhir kali menembakkan rudal balistik ke arah Laut Jepang adalah pada 27 Januari, yang juga dinilai jatuh di luar ZEE Jepang. Keesokan harinya, media resmi Korut melaporkan bahwa mereka telah menguji sistem peluncur roket multi laras kaliber besar, yang dilengkapi dengan teknologi baru.

2. Jepang dan Korsel mengutuk tindakan Korut

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. (x.com/kantei)

Pemerintah Jepang mengutuk langkah Korut baru-baru ini. Pihaknya menyampaikan protes keras melalui kedutaan besarnya di Beijing. Perdana Menteri Sanae Takaichi menginstruksikan pemerintahnya untuk mengumpulkan informasi dan memastikan keselamatan pesawat dan kapal. Sejauh ini, belum ada laporan kerusakan akibat peluncuran tersebut di Jepang.

Sementara itu, Cheong Wa Dae, istana kepresidenan Korsel, mengutuk peluncuran tersebut sebagai provokasi yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Cheong Wa Dae mendesak Pyongyang untuk segera menghentikan tindakan tersebut, The Straits Times melaporkan.

Pengumuman JCS tersebut juga datang beberapa jam setelah Perdana Menteri Korsel, Kim Min-seok, mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump, berpikir pertemuan dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un akan baik.

3. Korut tuduh Jepang tingkatkan risiko keamanan regional

Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli)

Baru-baru ini, media pemerintah Korut, KCNA, menuduh Jepang memicu ketegangan regional melalui percepatan pengembangan dan pengerahan rudal jarak jauh. Pyongyang menyebut modernisasi militer Jepang tersebut sebagai persiapan untuk invasi ulang.

Dalam komentar yang dirilis pada 13 Maret 2026, KCNA menyoroti pengerahan rudal permukaan-ke-kapal Tipe 12 versi terbaru di Kumamoto. Rudal tersebut, bersama sistem jarak jauh lainnya yang direncanakan, diklaim mampu menjangkau negara-negara tetangga.

"Jepang kini mengerahkan sumber daya untuk memperluas jangkauan rudal agar bisa diluncurkan dari darat, laut, dan udara," kata KCNA, seraya melabeli sistem tersebut sebagai senjata ofensif yang nyata, dilansir Asahi Shimbun.

Pyongyang membantah klaim Tokyo bahwa penguatan militer tersebut bertujuan untuk bela diri. Sebaliknya, Korut menilai partisipasi Jepang dalam latihan militer gabungan dan pembelian senjata serang adalah bukti nyata persiapan perang. Korut memperingatkan Jepang akan menghadapi konsekuensi serius, jika terus melanjutkan ambisi militernya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team