Terus Digempur Iran, Israel Mulai Kehabisan Stok Pencegat Rudal

- Israel melaporkan kepada AS bahwa stok pencegat rudalnya menipis akibat serangan beruntun Iran, sementara Washington masih mempertimbangkan pengiriman tambahan karena khawatir membebani persediaan sendiri.
- AS menggunakan banyak sistem pertahanan seperti THAAD dan Patriot selama konflik dengan Iran, memicu kekhawatiran dampak jangka panjang terhadap kemampuan militernya di kawasan lain termasuk Eropa dan Indo-Pasifik.
- Ketegangan meningkat setelah serangan gabungan AS-Israel menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran, sementara kedua pihak menolak upaya perundingan meski konflik telah mengganggu stabilitas regional dan ekonomi global.
Jakarta, IDN Times - Israel dilaporkan telah memberitahu Amerika Serikat (AS) bahwa persediaan pencegat rudal balistiknya (interceptors) semakin menipis di tengah berlanjutnya perang dengan Iran, yang kini memasuki minggu ketiga.
Menurut laporan situs berita Semafor, Israel memasuki konflik terbaru dengan stok pencegat yang sudah minim akibat pertempuran dengan Iran tahun lalu. Serangan bertubi‑tubi dari Iran semakin memberikan tekanan pada jaringan pertahanan udara jarak jauh Israel.
Laporan juga menyebutkan bahwa Teheran telah melengkapi beberapa rudalnya dengan munisi tandan, sehingga mempersulit upaya intersepsi dan mempercepat berkurangnya persediaan pencegat Israel.
1. AS disebut telah mengantisipasi situasi tersebut

Seorang pejabat AS mengatakan Washington telah mengetahui soal keterbatasan pecegat rudal Israel selama berbulan-bulan dan telah mengantisipasi situasi tersebut. Ia menambahkan bahwa AS tidak mengalami kekurangan pencegat tersebut.
Masih belum jelas apakah Washington akan mengirimkan pencegat tambahan ke Israel. Paket bantuan militer AS sebelumnya mencakup sistem pertahanan rudal dan pengiriman lebih lanjut berisiko membebani persediaan AS.
“Kami memiliki semua yang kami perlukan untuk melindungi pangkalan dan personel kami di kawasan dan kepentingan kami,” kata pejabat AS itu, seraya menambahkan bahwa Israel sedang mencari solusi untuk mengatasi kekurangannya.
2. Perang berkepanjangan di Iran dapat timbulkan konsekuensi bagi AS

Baru-baru ini, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Washington memiliki persediaan amunisi yang hampir tidak terbatas. Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional, selama konflik 12 hari dengan Iran pada Juni 2025, AS menembakkan lebih dari 150 pencegat THAAD atau sekitar seperempat dari seluruh persediaan AS pada saat itu. Pada hari-hari pertama perang saat ini, Washington dilaporkan menggunakan pencegat Patriot senilai 2,4 miliar dolar AS (sekitar Rp40,7 triliun).
Dilansir dari DW, meski para analis sepakat bahwa AS kemungkinan besar tidak akan kehabisan senjata dalam perang di Iran, mereka menilai konflik yang berkepanjangan berisiko membatasi pilihan AS di tahun-tahun mendatang, baik terkait kawasan Indo-Pasifik, Eropa, maupun Timur Tengah.
Kekhawatiran serupa juga pernah diungkapkan oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
“Ada kekhawatiran jika terjadi perang berkepanjangan, AS akan mengurangi pasokan sistem pertahanan udara dan rudal pertahanan udara ke Ukraina,” kata Zelenskyy kepada lembaga penyiaran nasional Italia RAI.
Mantan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, juga menyampaikan peringatan serupa dalam wawancaranya dengan Bloomberg. Ia mengatakan bahwa operasi militer berkelanjutan di Iran dapat membuat AS rentan terhadap ancaman dari Rusia dan China.
3. Iran dan AS tolak upaya perundingan

Dilansir dari Anadolu, ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi menampung aset militer AS. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, konflik ini juga mengganggu pasar global dan penerbangan.
Prospek negosiasi sejauh ini masih sangat kecil. Pemerintahan Trump menolak upaya‑upaya regional untuk memediasi gencatan senjata, sementara Iran juga menolak pembicaraan selama serangan masih berlangsung.

















