Jepang Ragu Ikuti Ajakan AS Kirim Pasukan ke Selat Hormuz, Kenapa?

- Pemerintah Jepang masih ragu mengikuti ajakan AS mengirim pasukan ke Selat Hormuz karena situasi Timur Tengah memanas dan keputusan ini berpotensi menimbulkan dampak politis bagi PM Sanae Takaichi.
- Presiden AS Donald Trump mengajak berbagai negara, termasuk Jepang, untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan pelayaran minyak di Selat Hormuz yang ditutup Iran.
- Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan akan terus menutup Selat Hormuz hingga perang dengan AS dan Israel berakhir, menyebabkan pasokan minyak terganggu dan harga global meningkat.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang ragu mengikuti ajakan Amerika Serikat untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Menurut Penasihat Senior Perdana Menteri Jepang, Takayuki Kobayashi, langkah tersebut akan mengalami banyak rintangan karena situasi di Timur Tengah sedang memanas akibat perang antara Iran dengan AS dan Israel.
"Saya rasa, rintangannya sangat tinggi. Secara hukum, kami tidak mengesampingkan kemungkinan tersebut. Namun, mengingat situasi saat ini di mana konflik ini masih berlangsung, saya percaya ini adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati," kata Kobayashi kepada NHK, Minggu (15/3/2026), seperti dilansir CNA.
1. Pengiriman pasukan ke Selat Hormuz akan memberi dampak politis bagi PM Sanae Takaichi

Selain itu, pengiriman pasukan ke Selat Hormuz juga akan memberi dampak politis bagi PM Sanae Takaichi. Marwah sang PM akan berpotensi berubah menjadi buruk di mata rakyat Jepang.
Sebab, jika mengirim pasukan ke Selat Hormuz, itu berarti Jepang mendukung AS untuk berperang melawan Iran. Sementara itu, sebagian besar warga Jepang yang pemilih Takaichi mendukung konstitusi yang diberlakukan oleh AS pada 1947 untuk menolak perang.
Oleh karena itu, Takaichi saat ini belum memutuskan untuk mengirim pasukan Jepang ke Selat Hormuz. Sebab, ia masih akan mengkaji rencana tersebut secara mendalam.
2. Donald Trump mengajak negara-negara di dunia mengirim pasukan ke Selat Hormuz

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengajak negara-negara di dunia, termasuk Jepang, untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan untuk mengawal kapal-kapal minyak yang berlayar di sana. Sebab, kapal-kapal minyak tidak bisa berlayar ke Selat Hormuz karena Iran menutup wilayah tersebut.
"Banyak negara akan mengirimkan Kapal Perang, bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga agar Selat (Hormuz) tetap terbuka dan aman," ujar Trump di laman Truth Social pribadinya.
“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris akan ikut mengirim kapal ke Selat Hormuz,” lanjut Trump.
3. Pemimpin tertinggi Iran berjanji akan terus menutup Selat Hormuz

Beberapa waktu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan akan terus menutup Selat Hormuz sampai perang dengan AS dan Israel usai. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pernyataan publik pertama Mojtaba usai terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret 2026 lalu.
“Upaya untuk memblokir Selat Hormuz jelas harus digunakan," ujar Mojtaba dalam pesan suara dilansir BBC.
Sayangnya, penutupan Selat Hormuz tersebut membuat kapal-kapal dari Timur Tengah tidak bisa memasok minyak ke pasar global. Hal ini kemudian membuat harga minyak naik.
Sebetulnya, AS sudah melakukan segala upaya untuk mengatasi kenaikan harga minyak global imbas penutupan Selat Hormuz. Salah satunya adalah dengan mengizinkan negara-negara di dunia untuk membeli minyak dari Rusia. Namun, berdasarkan laporan CNN, langkah tersebut belum berhasil menurunkan harga minyak secara signifikan.
















