Jakarta, IDN Times - Krisis ekonomi Pakistan kembali menjadi perhatian publik di tengah meningkatnya kritik terhadap gaya diplomasi pemerintah yang dinilai bertolak belakang dengan kondisi masyarakat. Saat warga diminta berhemat dan mengurangi pengeluaran tidak penting, para pemimpin negara justru ramai melakukan perjalanan luar negeri.
Pakistan saat ini masih menghadapi tekanan ekonomi berat. Negara itu dibayangi krisis cadangan devisa, lonjakan harga minyak akibat konflik di Asia Barat, ketidakstabilan keamanan di perbatasan Afghanistan, hingga meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.
Meski telah menerima dua gelombang pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) hingga Desember 2025, kondisi ekonomi Pakistan disebut belum benar-benar stabil. Islamabad bahkan kembali mencari bantuan finansial dari Arab Saudi untuk menutup kekurangan devisa negara.
Di tengah situasi tersebut, sorotan publik justru tertuju pada intensitas lawatan luar negeri Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan petinggi militer Pakistan. Banyak pihak mempertanyakan efektivitas perjalanan diplomatik itu ketika kondisi ekonomi domestik masih belum membaik.
