“Kami tiba di Islamabad, Pakistan, untuk kunjungan resmi. Menteri Luar Negeri (Abbas) Araghchi akan bertemu dengan para pejabat tinggi Pakistan sehubungan dengan mediasi dan upaya baik mereka yang sedang berlangsung untuk mengakhiri agresi yang dipaksakan Amerika (Serikat) dan memulihkan perdamaian di kawasan kita. Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS. Pengamatan Iran akan disampaikan kepada Pakistan,” tulis Baqei di X.
Trump Batal Kirim Utusan ke Pakistan untuk Temui Iran

- Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan ke Pakistan karena Iran menolak bertemu dengan Amerika Serikat untuk membahas perdamaian.
- Iran memilih berdialog dengan Pakistan sebagai mediator dan telah mengajukan proposal perdamaian baru yang dinilai Trump masih belum cukup untuk mengakhiri konflik.
- Trump menegaskan Iran harus menghentikan program nuklir serta pendanaan terhadap Hizbullah sebagai syarat utama agar kesepakatan damai dapat tercapai.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, batal mengirim dua utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan untuk bertemu dengan perwakilan Iran. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan langkah ini diambil karena pertemuan tersebut akan sia-sia. Sebab, Iran telah menolak bertemu dengan AS di Pakistan untuk membicarakan perdamaian.
“Saya sudah memberi tahu orang-orang saya, 'Tidak! Kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam untuk pergi ke sana (Pakistan). Kita punya semua kartu. Mereka bisa menghubungi kita kapan saja mereka mau. Namun, kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi hanya untuk duduk-duduk dan membicarakan hal-hal yang tidak penting'," ujar Trump kepada Fox News pada Sabtu (25/4/2026), seperti dikutip Times of Israel.
1. Iran enggan bertemu AS untuk membicarakan perdamaian

Sebelumnya, Pemerintah Iran telah menegaskan tidak ingin bertemu dengan delegasi AS di Pakistan untuk membicarakan perdamaian. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqei, mengatakan, pihaknya justru akan melakukan pertemuan dengan Pakistan sebagai mediator untuk membicarakan perdamaian dengan AS dan deeskalasi konflik di Timur Tengah.
2. Delegasi Iran meninggalkan Pakistan sebelum delegasi AS datang

Delegasi Iran sendiri tiba di Pakistan pada Jumat (23/4/2026) malam waktu setempat. Delegasi mereka dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bersama para jajarannya. Namun, setelah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, Araghchi dan jajarannya dikabarkan langsung kembali ke Iran. Mereka pulang ke negaranya bahkan sebelum delegasi AS datang ke Pakistan.
Meski begitu, Iran dikabarkan sudah mengajukan proposal perdamaian baru kepada AS usai bertemu dengan Pakistan. Proposal tersebut juga sudah diterima oleh Trump. Trump menyebut proposal perdamaian yang diberikan Iran sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, presiden berusia 79 tahun itu mengatakan, semua isi yang ada di dalam proposal belum cukup untuk mengakhiri perang. “Mereka mengusulkan banyak hal. Namun, itu belum cukup,” ucap Trump.
3. Trump ingin Iran menuruti semua syarat perdamaian dari AS

Agar perdamaian bisa terwujud, Trump sebetulnya sudah menuntut Iran untuk mematuhi semua syarat yang diberikan AS. Sebagai informasi, AS memberikan dua syarat perdamaian kepada Iran. Pertama, Iran harus menghentikan program nuklirnya. Kedua, Iran juga harus berhenti mendanai Hizbullah yang sudah membantu mereka untuk berperang melawan AS dan Israel.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Iran wajib mematuhi semua syarat perdamaian yang telah diberikan AS. Jika tidak, maka AS tidak akan menyepakati perdamaian dengan Iran untuk mengakhiri perang. Ia juga tidak segan untuk melakukan serangan baru kepada mereka. “Itu (berhenti mendanai Hizbullah) merupakan hal yang wajib,” ujar Trump.
















