Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kuba Sebut Tak Ada Perubahan Pemerintahan Meski Ditekan AS
ilustrasi bendera Kuba (unsplash.com/limamauro23)
  • Pemerintah Kuba menegaskan tidak akan mengganti Presiden Miguel Diaz-Canel meski ditekan AS, karena hal itu dianggap melanggar kedaulatan dan kemerdekaan negara.
  • Kuba tetap membuka ruang dialog dengan AS untuk kerja sama di bidang keamanan dan ekonomi, tanpa mengubah sistem politik yang sudah ada.
  • Komando Selatan AS memastikan tidak ada rencana invasi ke Kuba, sementara survei menunjukkan mayoritas warga AS menolak tindakan militer terhadap Havana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Duta Besar Kuba di PBB, Ernesto Soberon Guzman menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk menggantikan Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel. Penggantian pemimpin itu sebagai syarat dari perbaikan relasi AS-Kuba. 

“Jika seseorang berniat menginvasi Kuba atau jika seseorang mencoba melancarkan serangan ke Kuba, mereka akan seluruh rakyat Kuba untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, tanpa melihat seberapa besar biayanya,” tuturnya, dikutip dari The Latin Times, Minggu (22/3/2026).

Sebelumnya, Diaz-Canel sudah mengumumkan bahwa Kuba sudah mengadakan negosiasi tahap awal dengan AS. Dialog ini untuk mengatasi krisis energi di negara Karibia itu akibat blokade AS. 

1. Sebut pemerintahan Kuba bukan subjek negosiasi

Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio memastikan bahwa sistem politik Kuba tidak jadi subjek negosiasi dengan AS. Selain itu, tidak ada perubahan kepemimpinan di negaranya. 

“Ya, saya mengonfirmasi bahwa sistem politik Kuba tidak jadi subjek negosiasi ataupun perubahan presiden dan posisi di pemerintahan lainnya. Ini berlaku tidak hanya bagi AS, tapi juga negosiasi dengan negara lain,” paparnya, dikutip dari EFE.

De Cossio menyebut, permintaan Washington itu tidak dapat diterima oleh Havana. Sebab, langkah itu sama dengan menghapus kemerdekaan dan kedaulatan Kuba. 

2. Kuba bersedia kembali berdialog dengan AS

Meskipun menolak permintaan tersebut, De Cossio menyatakan Kuba akan terus berdialog dengan AS. Ia menyatakan akan mendorong keuntungan bersama bagi kedua negara, termasuk bekerja sama melawan penyelundupan narkoba dan kriminal terorganisir. 

De Cossio menyampaikan keyakinannya, AS akan menghormati hubungan dengan Kuba. Meskipun, kedua negara memiliki pandangan dan paham yang berbeda karena Kuba bukanlah ancaman bagi AS.

3. Komando Selatan AS pastikan tidak ada invasi ke Kuba

Pemimpin Komando Selatan AS, Francis Donovan mengungkapkan bahwa tidak ada rencana untuk merebut Kuba secara paksa. Ia memastikan bahwa Washington hanya akan mengirimkan tentara ke Kuba jika terdapat ancaman bagi keamanan AS dan pangkalan di Guantanamo hanya untuk mempertahankan diri. 

Sementara itu, survei dari The Economist dan YouGov menyebut bahwa separuh dari warga AS atau 53 persen menolak skenario invasi ke Kuba. Namun, sebanyak 23 persen responden mengaku setuju jika pemerintahan Presiden AS, Donald Trump mengubah pemerintahan Kuba secara paksa. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team