Rusia Kirim Minyak ke Kuba Meski Diblokade AS

- Rusia mengirim dua kapal tanker berisi minyak dan gas ke Kuba untuk bantu atasi krisis energi akibat blokade Amerika Serikat, dengan pengiriman pertama dalam tiga bulan terakhir.
- Kremlin menegaskan komitmen membantu Havana di tengah krisis, sambil tetap menjaga komunikasi aktif tanpa mengkritik langsung kebijakan AS demi menjaga peluang hubungan ekonomi.
- Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menolak ancaman Donald Trump yang ingin mengambil alih negaranya, menegaskan bahwa Kuba akan terus melawan tekanan dan agresi dari Washington.
Jakarta, IDN Times - Rusia, pada Rabu (18/3/2026), dikabarkan mengirimkan bantuan minyak dan gas ke Kuba. Keputusan tersebut untuk mengurangi krisis energi di negara Karibia itu imbas blokade Amerika Serikat (AS).
Dilansir The Moscow Times, pengiriman minyak ke Kuba ini menjadi yang pertama dalam 3 bulan terakhir. Sebanyak dua kapal tanker yang membawa bantuan bahan bakar minyak (BBM) tersebut diperkirakan akan tiba pada awal April.
Kelangkaan BBM di Kuba telah berdampak pada krisis ekonomi terbesar di negara kepulauan tersebut dalam bertahun-tahun. Kuba bahkan sudah menutup sejumlah hotel untuk penghematan BBM.
1. Rusia menyatakan akan tetap bantu Kuba di tengah krisis

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengungkapkan bahwa Moskow tetap berkomitmen untuk membantu Havana. Ia menyebut, Rusia masih berkoordinasi dengan Kuba soal bantuan.
“Tentu saja, kami sudah siap untuk menyediakan bantuan sebisa mungkin dan masalah ini sedang dikerjakan dengan rekan kami di Kuba. Moskow dan Havana melanjutkan komunikasi selama krisis energi di Kuba,” terangnya.
Sementara itu, Rusia mencoba untuk tidak mengkritik secara langsung terkait krisis ekonomi di Kuba imbas blokade AS. Sebab, Rusia berkeinginan untuk mengembalikan hubungan ekonomi dengan AS.
2. Putin menyatakan dukungan pada kemerdekaan Kuba

Pada Februari, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia akan terus mendukung kemerdekaan Kuba. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez ke Moskow.
“Sekarang kami berada dalam periode khusus dengan adanya sanksi baru. Anda tahu bagaimana kami merasakannya ini. Kami tidak akan menoleransi kebijakan seperti itu,” tuturnya.
Kuba diketahui mengimpor 60 persen dari pasokan energinya. Sebelumnya, Kuba bergantung pada impor minyak dari Venezuela sebelum penangkapan eks Presiden Nicolas Maduro oleh militer AS.
3. Presiden Kuba tolak pernyataan Trump soal merebut negaranya

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel mengungkapkan bahwa AS telah menyatakan ancaman kepada Kuba. Namun, ia menyebut bahwa ancaman Washington tersebut hampir terjadi setiap hari.
“Ancaman AS kepada Kuba sudah ada hampir setiap hari. Mereka berniat melengserkan pemerintahan di Kuba secara paksa. Semua negara agresor akan kalah dengan resistensi yang besar,” ungkapnya, dilansir dari The Latin Times.
Pada Senin, Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa ia percaya untuk mengambilalih Kuba. Ia menyebut dapat melakukan apapun soal nasib Kuba karena sudah sangat lemah.

















