Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lebanon Krisis, 83 Ribu Warga Mengungsi Imbas Serangan Israel
sudut kota Beirut, Lebanon. (unsplash.com/christellehayek)
  • Militer Israel memerintahkan evakuasi paksa warga selatan Sungai Litani dan melancarkan serangan udara serta invasi darat ke Lebanon setelah bentrokan dengan Hizbullah meningkat tajam.
  • Lebih dari 83 ribu warga Lebanon mengungsi, memenuhi ratusan fasilitas darurat di tengah krisis kemanusiaan yang diperparah oleh keterbatasan logistik dan melonjaknya harga sewa tempat tinggal.
  • Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam tindakan Hizbullah, menegaskan pemerintah berupaya menghentikan perang dan membantu warga sipil kembali ke rumah mereka dengan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi seluruh penduduk sipil di wilayah selatan Sungai Litani pada Rabu (4/3/2026). Keputusan ini memicu gelombang pengungsian massal di tengah rentetan serangan udara Israel yang diklaim menargetkan berbagai infrastruktur milik kelompok bersenjata Hizbullah.

Setidaknya 83 ribu orang telah mengungsi dan sibuk mencari perlindungan di berbagai wilayah Lebanon. Eksodus kali ini menambah panjang daftar krisis kemanusiaan yang melanda kawasan Timur Tengah akibat perang. Pemerintah setempat terus berupaya menyediakan fasilitas darurat semaksimal mungkin bagi para korban sipil yang terdampak.

1. Perintah evakuasi paksa dan perluasan operasi militer

tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

Pasukan Pertahanan Israel menginstruksikan warga sipil Lebanon untuk segera pergi meninggalkan rumah mereka menuju wilayah utara. Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, militer langsung melancarkan gelombang serangan udara secara besar-besaran.

Ketegangan memuncak setelah Hizbullah menembakkan rentetan rudal dan drone ke kawasan utara Israel. Serangan ini diklaim sebagai bentuk pembalasan atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Israel kemudian memperluas jangkauan tempurnya dengan meluncurkan invasi darat langsung ke bagian selatan Lebanon. Pasukan darat Israel dilaporkan telah memasuki Kota Khiam dan membangun posisi militer baru di wilayah itu. Menteri Pertahanan Israel Katz mengarahkan batalionnya untuk merebut lebih banyak wilayah demi mencegah tembakan ke permukiman perbatasan.

“Musuh Zionis menginginkan perang terbuka, jadi biarlah ini menjadi perang terbuka,” tutur pejabat senior Hizbullah Mohamoud Komati, dilansir Drop Site News.

2. Puluhan ribu warga padati fasilitas pengungsian darurat

bendera Lebanon. (unsplash.com/Charbel Karam)

Gelombang pengungsian terbaru telah menciptakan krisis tempat tinggal di Lebanon. Kementerian Urusan Sosial Lebanon mencatat setidaknya 83.847 warga kini memadati tempat perlindungan resmi buatan pemerintah. Lebih dari 12 ribu keluarga terpaksa berlindung di lebih dari 300 fasilitas darurat yang tersebar di penjuru negeri.

Situasi terkini di ibu kota Beirut terbilang semakin memprihatinkan karena pengungsi kesulitan mendapat tempat bernaung. Banyak warga sipil kelelahan terpaksa tidur beralaskan tanah di pinggir jalan, taman umum, hingga di dalam kendaraan pribadi. Kelompok relawan dapur umum juga mengaku kesulitan memenuhi permintaan logistik harian yang terus melonjak.

Di tengah naiknya permintaan, sejumlah pemilik apartemen di Beirut mematok harga sewa tinggi hingga mencapai ribuan dolar AS per bulan. Mereka juga memperketat izin penyewaan dengan memeriksa latar belakang penyewa yang dicurigai punya hubungan dengan jaringan Hizbullah.

Kementerian Kesehatan setempat mengonfirmasi sedikitnya 72 orang tewas, termasuk di antaranya tujuh anak-anak akibat serangan Israel. Sementara itu, sekitar 437 penduduk lainnya dilarikan ke pusat medis akibat luka-luka.

3. PM Lebanon kutuk aksi Hizbullah

Presiden Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, Nawaf Salam. (www.icj-cij.org)

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan bahwa pihaknya terus bekerja keras mengakhiri peperangan ini secepat mungkin. Kabinet menteri berjanji mendampingi keluarga telantar agar kelak bisa segera pulang dengan aman ke hunian masing-masing.

“Warga kami yang harus meninggalkan rumah mereka bukanlah pihak yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa mereka,” ujar Salam, dilansir Al Jazeera.

PM Lebanon mengutuk operasi militer Hizbullah yang dinilai ilegal. Pemerintah pusat juga melarang semua agenda aktivitas keamanan yang dilakukan oleh jaringan pro-Iran tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team