Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tentara Pakistan di Karachi. (Wikimedia Commons/Voice of America)
tentara Pakistan di Karachi. (Wikimedia Commons/Voice of America)

Intinya sih...

  • Insiden serangan bom dan baku tembak di Pakistan menewaskan 17 orang

  • Serangan paling mematikan terjadi di distrik Bajaur dan Bannu

  • Militan incar warga dan proyek China, Pakistan tuduh India terlibat dalam serangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 17 orang tewas akibat serangkaian serangan bom dan baku tembak di provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan pada Senin (16/2/2026). Rentetan insiden mematikan itu melibatkan bom bunuh diri, ledakan kendaraan, dan operasi penyergapan terhadap militan.

Wilayah yang berbatasan langsung dengan Afghanistan ini menjadi lokasi tiga insiden terpisah, yakni di distrik Bajaur, Bannu, dan Shangla. Korban tewas terdiri dari aparat keamanan, warga sipil, serta anak-anak di tengah lonjakan kekerasan di negara tersebut.

1. Ledakan maut di Bajaur dan Bannu

ilustrasi ledakan (unsplash.com/Jeff Kingma)

Serangan paling mematikan terjadi di distrik Bajaur ketika sebuah kendaraan bermuatan bahan peledak menabrak dinding di dekat pos pemeriksaan keamanan dan madrasah. Ledakan dahsyat itu meruntuhkan bangunan dan menewaskan 11 personel keamanan di tempat kejadian.

Dampak guncangan ledakan turut merobohkan atap rumah warga di sekitar lokasi hingga menewaskan seorang anak perempuan. Militer Pakistan melaporkan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka akibat insiden yang mereka sebut sebagai tindakan pengecut tersebut.

Secara terpisah, teror bom juga mengguncang distrik Bannu setelah bahan peledak yang dipasang pada sebuah becak motor meledak di depan kantor polisi Miryan. Otoritas setempat mengonfirmasi dua warga sipil tewas dan sedikitnya 17 orang terluka dalam peristiwa itu.

"Kami menerima ancaman setiap hari dan mengambil tindakan pencegahan sesuai ancaman tersebut. Seluruh polisi distrik dalam status siaga tinggi," ujar perwira polisi senior, Toheed Gandapur, dilansir Sky News.

2. Militan incar warga dan proyek China

ilustrasi bendera Pakistan. (unsplash.com/emaliikhokhar)

Kekerasan bersenjata juga pecah di distrik Shangla saat polisi menggelar operasi pencarian yang berujung pada baku tembak sengit. Tiga personel polisi gugur dan tiga orang militan tewas dalam penyergapan di wilayah tersebut.

Kepolisian Khyber Pakhtunkhwa mengidentifikasi para militan yang tewas sebagai kelompok yang terlibat dalam serangan yang menargetkan warga negara China. Wilayah Shangla dinilai strategis karena dekat dengan rute proyek pembangunan asing.

Beijing diketahui telah menginvestasikan miliaran dolar AS dalam Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) untuk pembangunan transportasi dan energi. Namun, proyek infrastruktur besar ini kerap memicu kemarahan dari kelompok separatis yang merasa terpinggirkan.

"Militan menimbulkan ancaman terus-menerus terhadap koridor jalan strategis dan proyek pembangunan China karena kedekatan wilayah tersebut dengan rute Jalur Sutra," ujar pihak kepolisian, dikutip France 24.

3. Pakistan tuduh adanya keterlibatan India

ilustrasi bendera India. (unsplash.com/Naveed Ahmed)

Militer Pakistan mengecam serangan di Bajaur dan menuding pelakunya sebagai proksi India. New Delhi sendiri kerap membantah klaim semacam ini.

Statistik keamanan menunjukkan lonjakan kekerasan di Pakistan sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021. Lebih dari 2.400 kematian tercatat akibat serangan teror hanya dalam tiga kuartal pertama tahun 2025.

Selain insiden di perbatasan, kelompok ISIS (IS) juga mengklaim tanggung jawab atas bom bunuh diri di masjid Syiah Islamabad bulan ini yang menewaskan 31 orang. Pemerintah juga kerap menyalahkan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atas ketidakstabilan di wilayah barat laut.

Hubungan diplomatik antara Islamabad dan Kabul kian menegang akibat tuduhan bahwa TTP beroperasi bebas dari tanah Afghanistan. Pemerintah Taliban selalu membantah telah membiarkan militan menggunakan wilayahnya sebagai basis serangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team