Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Markas CIA di Kedutaan AS Riyadh Jadi Sasaran Serangan Drone Iran
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Sebuah drone yang dikaitkan dengan Iran menyerang kompleks Kedutaan AS di Riyadh, menghantam fasilitas CIA dan menyebabkan kerusakan struktural tanpa menimbulkan korban jiwa.
  • Iran mengklaim serangan itu sebagai balasan atas operasi militer besar AS-Israel di wilayahnya yang menewaskan ratusan orang termasuk Ayatollah Ali Khamenei.
  • Arab Saudi dan AS mengecam aksi Iran, berjanji memperkuat keamanan kawasan, sementara Washington menyatakan serangan ke negara Teluk tak seharusnya terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sebuah drone yang dikaitkan dengan Iran menyerang kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (2/3/2026). Laporan The Washington Post menyebut satu dari dua drone yang dilepaskan menghantam stasiun Badan Intelijen Pusat (CIA) yang berada di dalam area kedutaan.

Pemerintah AS dan Arab Saudi mengonfirmasi adanya serangan ke kompleks tersebut, tetapi belum memastikan bahwa fasilitas CIA menjadi sasaran langsung. Peringatan internal Departemen Luar Negeri AS menyebut bangunan terdampak mengalami kerusakan struktural, sebagian atap runtuh, serta ruangan dipenuhi asap, dan seluruh personel diminta berlindung di tempat aman. Tak ada laporan korban dari pihak CIA, sementara lembaga itu tak memberi pernyataan terkait insiden ini, dilansir dari Jerusalem Post.

1. Iran klaim aksi sebagai balasan operasi militer

ilustrasi perang (pexels.com/Pixabay)

Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari respons Iran atas operasi militer besar yang dilakukan AS bersama Israel di wilayah Iran. Operasi itu menewaskan hampir 800 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dilansir dari Middle East Monitor.

Bagi Teheran, CIA merupakan musuh lama karena keterlibatan badan intelijen AS itu dalam kudeta 1953 yang menggulingkan pemerintahan hasil pemilu demokratis di Iran.

Dilansir dari Daily Mail, laporan terbaru menyebut CIA berupaya memasok persenjataan kepada kelompok militan Kurdi di Iran untuk memicu pemberontakan pasca wafatnya Khamenei. Di sisi lain, pejabat Gedung Putih dikabarkan melakukan pembicaraan dengan sejumlah pemimpin Kurdi di Irak terkait peluang dukungan militer guna menghadapi rezim Iran.

2. Drone Iran hantam fasilitas energi dan militer Teluk

Limbah minyak terbakar di semenanjung Ras Tanura, Kerajaan Arab Saudi pada 1959. (Tequask, Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International, via Wikimedia Commons)

Selain di Riyadh, Iran melancarkan serangan lain di kawasan Teluk dengan menargetkan kompleks kilang minyak Ras Tanura milik Arab Saudi. Fasilitas itu termasuk salah satu yang terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas produksi 550 ribu barel per hari. Operasional kilang sempat dihentikan demi alasan keamanan.

Dua drone berhasil dijatuhkan sebelum mencapai sasaran. Pecahan yang berjatuhan memicu kebakaran kecil di sekitar lokasi. Tak ada korban luka, dan situasi dilaporkan telah terkendali.

Sebuah drone Shahed tipe sederhana juga menghantam area parkir dekat konsulat AS di Uni Emirat Arab. Gedung konsulat sudah dievakuasi sebelum insiden terjadi sehingga tak ada korban jiwa.

Dua rudal balistik Iran turut menghantam Pangkalan Udara Al-Udeid. Basis tersebut merupakan instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah. Serangan itu tak menimbulkan korban jiwa.

3. Arab Saudi dan AS respons serangan Iran

ilustrasi bendera Arab Saudi (pexels.com/Engin Akyurt)

Kantor berita resmi Arab Saudi merilis pernyataan kabinet kerajaan terkait insiden tersebut. Pemerintah menegaskan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna menjaga keamanan serta melindungi wilayah, warga negara, dan para penduduknya.

Pejabat AS menyampaikan keheranan atas langkah Iran yang menyerang negara-negara Teluk. Mereka menilai negara-negara tersebut hanya menjadi tuan rumah pangkalan atau aset militer AS dan tak terlibat langsung dalam operasi terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan dalam sejumlah wawancara bahwa Washington tak memperkirakan Teheran akan menyerang negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team