Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Negara yang Siap Turun ke Medan Perang Bantu Israel AS Lawan Iran

7 Negara yang Siap Turun ke Medan Perang Bantu Israel AS Lawan Iran
Orang-orang berunjuk rasa sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari pra-revolusi Iran yang menyerupai bendera Amerika Serikat selama demonstrasi "Kebebasan untuk Iran" di alun-alun Potsdamer Platz di Berlin, Jerman pada 28 Februari 2026. (RALF HIRSCHBERGER/AFP)
Intinya Sih
  • Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan memicu eskalasi besar di Timur Tengah, dengan Iran segera melancarkan serangan balasan.
  • Inggris dan Prancis menyatakan kesiapan mendukung operasi militer melawan Iran, sementara negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA terjebak dalam posisi sulit akibat pangkalan AS di wilayahnya.
  • Pernyataan bersama Inggris, Prancis, dan Jerman mempersempit ruang diplomasi, membuat peluang gencatan senjata makin kecil dan meningkatkan risiko konflik meluas di kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, kawasan Timur Tengah berubah jadi arena perang terbuka. Iran membalas serangan itu, hingga ke berbagai kota di negara-negara kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Di tengah situasi yang memanas, sederet negara mulai angkat bicara soal kemungkinan keterlibatan mereka. Alih-alih mendorong gencatan senjata, banyak dari mereka justru membuka opsi untuk ikut bertempur di sisi AS-Israel.

Daftar Negara yang Siap Lawan Iran

Negara yang Siap Bantu Israel-AS

Negara yang Siap Bela Diri dari Iran

Inggris 

Arab Saudi

Prancis

Uni Emirat Arab

Qatar

Kuwait

Bahrain

1. Inggris dan Prancis siap terlibat langsung

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberikan pernyataan kepada pers setelah Pemerintah mengumumkan penyelidikan atas serangan teror Southport. (Simon Dawson / No 10 Downing Street, OGL 3, via Wikimedia Commons)
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberikan pernyataan kepada pers setelah Pemerintah mengumumkan penyelidikan atas serangan teror Southport. (Simon Dawson / No 10 Downing Street, OGL 3, via Wikimedia Commons)

Melansir Al Jazeera dan France24, dua kekuatan militer besar Eropa ini jadi yang paling cepat menyatakan kesiapannya. PM Inggris Keir Starmer mengonfirmasi bahwa negaranya telah mengizinkan AS menggunakan pangkalan militer Inggris di Timur Tengah untuk mendukung operasi melawan Iran. Keputusan ini diambil tanpa melalui pemungutan suara parlemen, sesuatu yang langsung memicu kritik dari sejumlah anggota parlemen Inggris sendiri.

Prancis tidak kalah aktif. Menlu Jean-Noel Barrot menyatakan Prancis siap "berkontribusi pada pertahanan mitra-mitra di kawasan." Secara konkret, Prancis dikabarkan akan mengirim dua fregat ke Laut Merah dan memperkuat pertahanan udara di sekitar Siprus. Padahal, Iran sendiri menyatakan bahwa serangan balasannya hanya menyasar pangkalan-pangkalan militer AS, bukan warga sipil maupun negara-negara ketiga.

2. Negara-negara Teluk: terjebak di tengah konflik yang tidak mereka mulai

Menteri Luar Negeri Dr. S. Jaishankar pada sesi pembukaan Pertemuan Menteri Gabungan India-Dewan Kerja Sama Teluk pada 9 September 2024. ( Ministry of External Affairs, GODL-India, via Wikimedia Commons)
Menteri Luar Negeri Dr. S. Jaishankar pada sesi pembukaan Pertemuan Menteri Gabungan India-Dewan Kerja Sama Teluk pada 9 September 2024. ( Ministry of External Affairs, GODL-India, via Wikimedia Commons)

Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain berada di posisi yang rumit. Pangkalan-pangkalan militer AS yang ada di wilayah mereka menjadi sasaran serangan balasan Iran, sesuatu yang sebetulnya merupakan konsekuensi langsung dari kehadiran militer asing di tanah mereka sendiri.

Meski begitu, satu per satu negara Teluk ini mengeluarkan pernyataan yang menegaskan "hak untuk membela diri." Arab Saudi menyebut akan mengambil "semua tindakan yang diperlukan, termasuk opsi membalas."

UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain mengeluarkan nada serupa dengan merujuk pada Pasal 51 Piagam PBB. Mereka juga terikat Pakta Pertahanan Bersama Gulf Cooperation Council (GCC) yang menyatakan serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua, sebuah klausul yang kini berpotensi menyeret seluruh kawasan Teluk ke dalam perang yang jauh lebih besar.

3. Pernyataan bersama Barat yang makin mempersempit ruang diplomasi

Presiden Prancis, Emmanuel Macron ( © European Union, 1998 – 2026, Attribution, via Wikimedia Commons)
Presiden Prancis, Emmanuel Macron ( © European Union, 1998 – 2026, Attribution, via Wikimedia Commons)

Yang paling mengkhawatirkan banyak pihak adalah pernyataan bersama dari Inggris, Prancis, dan Jerman yang secara terbuka menyatakan siap mengambil "tindakan defensif yang proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone."

Bagi sebagian pengamat, pernyataan ini justru menutup pintu negosiasi sebelum sempat dibuka. Di saat Presiden Prabowo menawarkan mediasi dan sejumlah pihak menyerukan gencatan senjata, negara-negara Barat ini malah bergerak ke arah berlawanan, memperluas koalisi militer dan menambah tekanan pada Iran yang sudah lebih dulu dihantam serangan.

Yang jelas, konflik ini sudah jauh melampaui urusan dua negara. Semakin banyak pihak yang menyatakan siap angkat senjata, semakin kecil peluang untuk menghentikannya lewat meja perundingan dan semakin besar risiko yang harus ditanggung oleh warga sipil di seluruh kawasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
Fahreza Murnanda
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More