Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Masjid Terbesar di Australia Diteror Surat Kaleng, Apa Isinya?
ilustrasi surat (pexels.com/Pixabay)
  • Masjid Lakemba di Sydney kembali diteror surat kaleng berisi ancaman dan simbol kebencian, hanya beberapa jam sebelum Ramadan dimulai, memicu penyelidikan intensif oleh Kepolisian New South Wales.
  • Asosiasi Muslim Lebanon mengajukan dana tambahan keamanan untuk memperkuat pengawasan dan perlindungan jamaah, mengingat ribuan orang diperkirakan hadir selama Ramadan hingga Idulfitri.
  • Pemerintah dan tokoh publik menyerukan jaminan keamanan bagi umat Muslim, menyoroti meningkatnya sentimen anti-Islam serta pentingnya menjaga toleransi dan ketenangan sosial di Australia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesMasjid Lakemba yang dikenal sebagai masjid terbesar di Australia kembali menerima surat kaleng berisi ancaman pada Rabu (18/2/2026), tepat beberapa jam sebelum Ramadan dimulai. Surat ketiga itu memuat gambar babi yang digambar tangan, ancaman pembunuhan terhadap umat Muslim, serta menyebut pelaku penyerangan masjid di Christchurch.

Komisaris Kepolisian New South Wales (NSW) Mal Lanyon memastikan aparat telah mengamankan dokumen tersebut untuk diperiksa lebih lanjut.

“Kami telah mengambil alih dan sedang menyelidiki,” katanya, dilansir dari Anadolu Agency.

Saat ini, kepolisian melalui satuan Operation Shelter bersama personel setempat meningkatkan patroli rutin di sekitar area masjid dan menyiapkan pengamanan tambahan bagi komunitas Muslim selama Ramadan.

1. Pengelola masjid ajukan dana tambahan keamanan

ilustrasi salat, ibadah umat islam (pexels.com/Raihan Ali)

Sebelum insiden terbaru, Masjid Lakemba sudah dua kali menerima surat serupa. Surat pertama yang masuk pada akhir Januari menyasar komunitas Timur Tengah, First Nations, dan sejumlah tokoh politik; seorang pria berusia 70 tahun telah didakwa dan proses hukumnya masih berjalan, sedangkan surat kedua yang diterima awal bulan ini memperlihatkan ilustrasi masjid dalam keadaan terbakar.

Asosiasi Muslim Lebanon (LMA) sebagai pengelola kemudian mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah untuk memperoleh tambahan pendanaan. Dana tersebut direncanakan guna menambah jumlah petugas keamanan dan memasang kamera pengawas CCTV, mengingat selama Ramadan salat tarawih setiap malam dapat dihadiri hingga 5 ribu jamaah, sementara pada hari terakhir Idulfitri jumlahnya diperkirakan menembus 50 ribu orang.

2. Sekretaris LMA ungkap kekhawatiran jamaah

ilustrasi pemandangan masjid (pexels.com/David McEachan)

Sekretaris LMA Gamel Kheir menyampaikan bahwa rangkaian ancaman tersebut membuat sebagian jamaah merasa gelisah. Ia menjelaskan kepada wartawan bahwa mereka menerima banyak pertanyaan terkait keamanan untuk beribadah dan menilai pertanyaan semacam itu seharusnya tak perlu muncul di Australia.

“Sayangnya kami sudah terbiasa dengan komentar-komentar ekstrem yang penuh kebencian dan keji itu. Yang menyakitkan bagi saya adalah fakta bahwa… rasa keadilan dan semua orang diperlakukan sama dan dicintai, sepertinya itu sudah hilang sekarang,” katanya.

Kheir juga menyebut penanganan serius terhadap surat ancaman pertama baru dilakukan setelah muncul tekanan dari sejumlah kalangan politik.

3. Pejabat negara serukan keamanan Ramadan terjamin

Bendera Australia (pexels.com/Hugo Heimendinger)

Sejumlah tokoh masyarakat mengaitkan kemunculan ancaman ini dengan meningkatnya sentimen anti-Islam pasca serangan mematikan di Bondi Beach pada akhir tahun lalu. Dalam situasi itu, sebagian warga merasa komunitas Muslim dijadikan sasaran tudingan, sementara studi nasional terbaru mencatat hampir 79 persen staf dan mahasiswa perguruan tinggi di Australia pernah mengalami perlakuan rasis di kampus.

Premier New South Wales Chris Minns menegaskan bahwa perayaan Ramadan harus berlangsung aman dan terlindungi. Ia menyatakan kepolisian NSW bersama pemerintah siap menjaga kelancaran ibadah maupun aktivitas harian warga, sedangkan Anggota Parlemen Federal Jason Clare yang daerah pemilihannya berdekatan dengan Lakemba menyebut ancaman tersebut menjijikkan, mengerikan dan menakutkan.

“Kita hanya perlu menurunkan suhu. Kita tidak hanya berbicara tentang kata-kata di sini. Sejarah terkini memberitahu kita bahwa kata-kata bisa mengarah pada kekerasan,” kata Clare, dikutip dari RNZ.

Sementara itu, Wali Kota Canterbury-Bankstown Bilal El-Hayek menggambarkan situasi ini cukup serius dan menyatakan Islamofobia terus meningkat sehingga menghadirkan masa yang menakutkan dan sulit bagi komunitas. Perdana Menteri Anthony Albanese sebelumnya juga menekankan bahwa ancaman atau serangan terhadap kelompok agama tak layak terjadi di Australia, sedangkan Kepolisian NSW kembali mengingatkan bahwa kejahatan bermotif kebencian ditangani secara serius dan masyarakat diminta segera melapor jika mengalami atau menyaksikan peristiwa serupa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team