Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Australia Tolak Visa Influencer asal Israel karena Ujaran Kebencian

Sydney Opera House dan Harbour Bridge adalah dua ikon kota Sydney, Australia.
Sydney Opera House dan Harbour Bridge adalah dua ikon kota Sydney, Australia.
Intinya sih...
  • Pembatalan visa berdasarkan undang-undang yang melarang ujaran kebencian
  • Reaksi kontroversial dari Yahood dan Asosiasi Yahudi Australia terhadap pembatalan tersebut
  • Australia telah menggunakan ketentuan uji karakter dan ujaran kebencian sebelumnya untuk menolak visa kepada individu lain
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Australia telah membatalkan visa influencer media sosial Inggris-Israel, Sammy Yahood, hanya beberapa jam sebelum ia dijadwalkan terbang ke Australia untuk menghadiri acara di Sydney dan Melbourne.

Pembatalan tersebut diperintahkan oleh Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke. Ia mengatakan bahwa menyebarkan kebencian bukanlah alasan yang baik untuk datang.

"Jika seseorang ingin datang ke Australia, mereka harus mengajukan visa yang tepat dan datang dengan alasan yang tepat," kata Burke kepada Guardian dalam sebuah pernyataan pada Senin (26/1/2026).

1. Pembatalan visa dilakukan berdasarkan undang-undang yang berlaku

Pemerintah Australia mengatakan keputusan itu dibuat karena pernyataan kontroversial Yahood di masa lalu yang menargetkan Islam. Tindakan tersebut digambarkan sebagai menyebarkan kebencian atau perpecahan, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebijakan ketertiban umum negara tersebut.

Yahood telah membuat komentar provokatif di media sosial, termasuk menyerukan pelarangan Islam. Ia juga menggambarkan Islam sebagai 'ideologi yang menjijikan' dan mengkritik aspek-aspek agama tersebut.

The Straits Times melaporkan, pembatalan tersebut menyusul pengesahan undang-undang ujaran kebencian yang lebih ketat di Australia pada awal Januari 2026. Perubahan legislatif ini dipercepat setelah penembakan massal di perayaan Hanukkah di Pantai Bondi pada 14 Desember 2025, yang menewaskan 15 orang. Insiden tersebut meningkatkan sensitivitas nasional terhadap retorika ekstremis.

2. Reaksi berbagai pihak terhadap pembatalan tersebut

Yahood mengutuk keputusan tersebut. Ia mengatakan di media sosialnya bahwa ia telah dilarang masuk ke Australia secara tidak sah, dan akan mengambil tindakan.

"Ini adalah cerita tentang tirani, sensor, dan kontrol," tulisnya di X.

Asosiasi Yahudi Australia (AJA), pihak yang mengundangnya, mengkritik pembatalan visa tersebut. AJA mengatakan penargetan terus-menerus terhadap pengunjung Yahudi oleh pemerintahan Perdana Menteri Anthony Albanese telah berkontribusi pada meningkatnya antisemitisme di Australia. Menurut AJA, hal itu menimbulkan kekhawatiran serius di dalam komunitas Yahudi.

3. Insiden pembatalan visa oleh pemerintah Australia bukan kali pertama

Ilustrasi bendera Australia. (unsplash.com/ aboodi vesakaran)
Ilustrasi bendera Australia. (unsplash.com/ aboodi vesakaran)

Ini bukan kali pertama Australia menggunakan ketentuan uji karakter dan ujaran kebencian untuk menolak visa kepada aktivis atau pembicara kontroversial. Tindakan serupa sebelumnya telah dilakukan terhadap individu lain yang retorikanya dianggap ekstrem, yang memicu perselisihan di kalangan masyarakat Australia.

Dilansir Al Jazeera, sebelumnya, Menteri Burke juga mencabut visa kunjungan aktivis dan pengusaha teknologi Israel-Amerika, Hillel Fuld, karena retorika Islamofobia. Hal serupa juga terjadi pada Simcha Rothman, anggota parlemen dari partai sayap kanan Israel, yang dijadwalkan hadir di acara-acara yang diselenggarakan oleh AJA. Rothman menggambarkan anak-anak Palestina di Gaza sebagai musuh dan menyerukan kendali penuh Israel atas Tepi Barat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Kasus Maidi, Kantor Wali Kota Madiun Digeledah KPK

29 Jan 2026, 12:51 WIBNews