Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Memanas Lagi, Gencatan Senjata AS-Iran Kembali Diuji di Hormuz
Kapal perang Amerika Serikat sedang berlayar di Selat Hormuz. (flickr.com/Official U.S. Navy via commons.wikimedia.org/Official U.S. Navy)
  • Ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah militer AS menembak jatuh drone Iran di Bandar Abbas, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas Timur Tengah dan harga minyak dunia melonjak.
  • Trump membantah adanya kesepakatan pembukaan jalur Selat Hormuz dan menegaskan perairan itu bersifat internasional, sambil memperingatkan Oman serta menjatuhkan sanksi baru pada lembaga Iran.
  • Negosiasi damai masih buntu karena perbedaan tajam soal program nuklir Iran dan kontrol Selat Hormuz, sementara aktivitas pelayaran di kawasan tetap jauh dari kondisi normal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat meski gencatan senjata kedua negara masih berlaku sejak awal April 2026 lalu. Militer AS melancarkan serangan baru terhadap operasi drone Iran yang disebut mengancam pasukan Amerika dan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Seorang pejabat AS mengatakan, militer Negeri Paman Sam menembak jatuh empat drone serang Iran dan menghantam stasiun pengendali di kota pelabuhan Bandar Abbas. Menurutnya, fasilitas itu sedang bersiap meluncurkan drone kelima.

"Tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata," kata pejabat tersebut, Kamis (28/5/2026).

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, membantah laporan media Iran mengenai rancangan kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Situasi terbaru ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan jalur energi global yang sangat bergantung pada Selat Hormuz.

Harga minyak dunia yang sebelumnya turun lebih dari lima persen pada Rabu (27/5/2026) kembali menguat setelah laporan serangan terbaru tersebut muncul.

1. Iran halau kapal dan balas tuduhan AS

Ilustrasi Peta tentara dan bendera Iran,Amerika Serikat dan israel

Media Iran, Tasnim, mengutip sumber militer yang menyebut Angkatan Laut Garda Revolusi Iran sempat melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

Menurut sumber tersebut, kapal itu akhirnya berbalik arah setelah mendapat peringatan dari Iran. Sumber yang sama mengatakan militer AS kemudian menyerang area terbuka di sekitar Bandar Abbas, namun tidak menimbulkan korban maupun kerusakan.

Media Iran lainnya kemudian melaporkan seorang pejabat militer menyebut empat kapal mencoba melintas pada Kamis dini hari (28/5/2026) tetapi dipaksa mundur setelah tembakan peringatan dilepaskan.

Ketegangan ini terjadi meski kedua negara secara resmi masih berada dalam masa gencatan senjata yang berlaku sejak awal April.

Sebelumnya, militer AS juga melakukan serangan di wilayah selatan Iran yang disebut sebagai tindakan defensif. Namun, Iran menilai langkah itu sebagai pelanggaran besar terhadap gencatan senjata.

Konflik antara AS dan Iran telah berlangsung selama tiga bulan sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu yang memicu eskalasi besar di kawasan.

2. Trump tegaskan Selat Hormuz bukan milik satu negara

potret peta Selat Hormuz di Timur Tengah (commons.wikimedia.org/Central Intelligence Agency, Washington, D.C)

Di tengah situasi yang kembali memanas, Trump menolak laporan televisi pemerintah Iran yang menyebut telah ada rancangan kesepakatan tidak resmi terkait pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Laporan tersebut menyebut Iran dan Oman akan bersama-sama mengelola lalu lintas pelayaran dan memulihkan aktivitas perdagangan seperti sebelum perang dalam waktu satu bulan. Namun, Trump membantah keras kabar tersebut.

"Tidak ada satu negara pun yang akan mengontrol selat itu. Itu adalah perairan internasional dan Oman akan bertindak seperti semua negara lain atau kami harus menghancurkan mereka. Mereka mengerti itu, dan akan baik-baik saja,” kata Trump.

Pernyataan Trump juga dianggap sebagai ancaman terhadap Oman, negara yang selama ini memiliki hubungan militer dan ekonomi cukup dekat dengan Amerika Serikat. Gedung Putih maupun Kedutaan Besar Oman di Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan tersebut.

Sementara itu, Departemen Keuangan AS memasukkan Persian Gulf Strait Authority, lembaga Iran yang mengatur lalu lintas Selat Hormuz, ke dalam daftar sanksi keamanan nasional Amerika.

3. Negosiasi sebenarnya masih jauh dari kesepakatan

ilustrasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran (pexels.com/Saifee Art)

Meski dalam beberapa hari terakhir Gedung Putih memberi sinyal adanya peluang kesepakatan untuk mengakhiri perang, perkembangan terbaru menunjukkan Washington dan Teheran masih memiliki banyak perbedaan mendasar.

Salah satu isu utama adalah program nuklir Iran. Amerika Serikat tetap menuntut penghentian penuh pengembangan nuklir Teheran, sementara Iran menolak tekanan tersebut.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan ancaman Trump tidak akan membuat Iran mundur dari tuntutannya.

"Jelas, Trump yang sedang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini, bergantian antara mengeluarkan ancaman dan mengajukan kesepakatan," kata Azizi melalui platform X.

Iran juga tetap menuntut hak untuk memperkaya uranium, mengontrol Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi ekonomi terhadap negaranya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali menegaskan posisi Washington terkait program nuklir Iran.

"Intinya adalah, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujar Rubio dalam rapat kabinet AS.

Iran terus menyatakan program nuklirnya hanya bertujuan damai dan bukan untuk mengembangkan senjata. Di tengah konflik yang masih berlangsung, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga belum kembali normal. Garda Revolusi Iran menyebut hanya 23 kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah angka normal sebelum perang yang mencapai 125 hingga 140 kapal per hari.

Editorial Team

Related Article