Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Viral Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Jadi Pohon, Warganet Keheranan

Viral Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Jadi Pohon, Warganet Keheranan
Pelaksanaan latihan militer untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta. (Dok. Kemhan)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Program latihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih viral setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia selama pelatihan.
  • Sebuah video menunjukkan peserta latihan melakukan kamuflase dengan daun seperti prajurit, memicu keheranan dan perdebatan di media sosial.
  • Warganet mempertanyakan relevansi latihan militer untuk calon manajer koperasi serta menyoroti perlunya pelatihan yang lebih sesuai seperti pengelolaan ritel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Program latihan dasar militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tengah menjadi sorotan warganet, usai lima peserta meninggal dunia saat mengikuti pelatihan.

Seperti sebuah video yang memperlihatkan peserta pelatihan menjalani latihan kamuflase menggunakan daun, layaknya prajurit TNI berkamuflase saat berperang. Video tersebut menjadi sorotan warganet di media sosial X (Twitter).

Dalam unggahan akun @salam4jari, pemilik akun mengunggah video calon manajer Kopdes ‘cosplay’ menjadi tanaman saat Latsarmil, hingga mengundang reaksi warganet. Banyak netizen yang bingung dan keheranan melihat relevansi latihan militer bagi calon manajer Kopdes dan memberikan komentar lucu tapi kritis.

Berikut sederet komentar warganet yang menyindir dan mengkritisi pelatihan dasar militer calon manajer Kopdes!

1. Netizen sindir adanya 'anomali' peran TNI hingga kaktus bisa ngomong

Warganet sindir pelatihan calon manajer Kopdes dengan tawa tapi kritis

Viral Latihan Militer Calon Manajer Kopdes, Warganet Terheran-Heran
Komentar warganet terkait latihan militer bagi calon manajer Kopdes (x.com/@fajarapriyaldi)

Seorang warganet menilai terjadi 'anomali' dalam pembagian peran TNI di pemerintahan, dengan membandingkan tugas aparat militer yang dinilai merambah ke sektor sipil. Sementara, calon pengelola koperasi justru menjalani pelatihan bernuansa militer.

Warganet yang satu lain juga mengkritik pemerintah dengan mempertanyakan alasan pelatihan calon manajer Kopdes tidak difokuskan pada keterampilan yang lebih relevan, seperti pengelolaan ritel dan transaksi jual beli. Bukan malah lebih fokus pelatihan militer.

Dengan nada bercanda, netizen lain juga ada yang membayangkan kemampuan menyamar tersebut terbawa hingga saat bertugas di Kopdes. Bahkan, muncul guyonan tentang "kaktus bisa ngomong" yang ternyata merupakan petugas yang sedang menyamar.

Seorang netizen juga berkelakar rak-rak kosong di Kopdes bisa diisi petugas yang berbaring sambil ditutupi dedaunan, layaknya sayuran yang dipajang di etalase.

Tak hanya itu, warganet juga bercanda jika terjadi masalah, orang-orang sebaiknya memeriksa apakah ada "tanaman baru" di sekitar Kopdes, karena bisa saja itu merupakan petugas yang sedang menyamar.

2. Kemhan klaim latihan militer calon manajer Kopdes sebatas senam-PBB

latihan dasar militer Kopdes
Pendidikan Dasar Militer (Diklatsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Kodam Mulawarman, Jumat (26/6/2026). (Dok. Kodam Mulawarman)

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia menjelaskan fase awal pendidikan difokuskan pada pembentukan disiplin melalui program bela negara, bukan latihan militer dengan intensitas tinggi.

"Kegiatan-kegiatan fisik sesuai dengan yang sudah dilaksanakan itu adalah senam, kemudian jalan, PBB, dan PPM. Jadi belum ada kegiatan yang memang menentukan kegiatan fisik berat," kata dia dalam konferensi pers di Kemhan, Sabtu (27/6/2026).

Ketut mengatakan materi tersebut menjadi tahapan awal sebelum peserta menerima pembelajaran manajerial dari Kementerian Koperasi maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Proses ini dijalankan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut. Kemudian dihadapkan dengan kegiatan national building ini juga baru berlanjut ke manajerialnya secara pararel yaitu materi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diampu oleh Kementerian Koperasi. Kemudian manajerial koperasi nelayan merah putih yang diampu oleh Kementerian Kelautan," ujarnya.

Kapus Komcad Bacadnas Brigjen TNI Hengki Yuda Setiawan menjelaskan tujuan pelatihan bukan membentuk peserta menjadi prajurit, melainkan menanamkan disiplin, integritas, dan etos kerja.

"Jadi untuk porsi latihan dari saudara-saudara kita yang tergabung dalam SPPI ini, ini semuanya sudah terukur. Artinya terukur adalah awal kita memang ini bukan untuk menjadi militer, tetapi adik-adik inu disiapkan untuk memiliki disiplin, integritas, dan juga etos kerja," katanya.

Menurut Ketut, beban latihan diklaim disesuaikan sejak awal, sehingga tidak mengedepankan aktivitas fisik yang berat.

"Porsi sejak awal itu porsinya tidak berat," kata dia.

Ketut juga mengatakan ada peserta penyandang disabilitas juga dinyatakan mampu mengikuti pelatihan.

"Dalam proses rekrutmen juga saudara-saudara kita yang disabilitas juga kita terima. Ada yang lulus, ada empat saudara-saudara kita yang disabilitas," ujarnya.

3. Daftar korban meninggal dunia saat ikut pelatihan dasar militer Kopdes

SPPI
Pendidikan Dasar Militer (Diklatsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Kodam Mulawarman, Jumat (26/6/2026). (Dok. Kodam Mulawarman)

Pelatihan dasar militer calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) memakan lima korban jiwa. Mereka dilaporkan meninggal pada waktu dan tempat berbeda.

Penyebab meninggalnya peserta SPPI berbeda-beda. Berdasarkan pernyataan Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait, Anisa Muyassaroh meninggal karena heat stroke atau sengatan panas. Sementara, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung. Anisa dan Yonanda sempat dibawa ke rumah sakit setelah diberikan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan.

Selain itu, Novia Rahmadhani Sihotang memiliki riwayat penyakit tuberkolosis. Novia disebut sudah mengalami gangguan kesehatan sejak Senin, 22 Juni 2026 dan mendapat penanganan medis sebelum dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa, Jakarta Timur.

Sedangkan, Muhammad Rifki Renaldi mengalami keluhan sesak nafas pada Kamis, 25 Juni 2026. Meskipun kesehatannya sempat membaik hingga kembali mengikuti aktivitas, namun sore harinya kesehatannya menurun dan dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.

Kepala BPSDM Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan, Nola Dya Sari sempat mengeluhkan sesak napas dan badan yang terasa panas pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 18.45 WIB. Nola sempat dirujuk ke RS Singkawang sebelum pada 21.03 WIB dinyatakan meninggal dunia.

Berikut daftar korban meninggal dunia saat mengikuti pelatihan dasar militer Kopdes:
1. Anisa Muyassaroh
2. Novia Rahmadhani Sihotang
3. Yonanda Muhammad Taufiq
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
5. Nola Dya Sari.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More