Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 yang Akan Dikerahkan AS ke Timur Tengah
potret pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 AS yang sedang melakukan latihan terjun payung (commons.wikimedia.org/U.S. Military)
  • Amerika Serikat berencana mengerahkan sekitar 1.000 tentara Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah untuk memperkuat operasi militernya di kawasan yang tengah memanas dengan Iran.
  • Divisi Lintas Udara ke-82, bermarkas di Fort Bragg, dikenal sebagai pasukan All American dengan kemampuan reaksi cepat dan spesialisasi penerjunan langsung ke garis pertahanan musuh.
  • Selain operasi militer, pasukan ini juga aktif dalam misi kemanusiaan seperti Operation Unified Response di Haiti tahun 2010 untuk membantu korban gempa bumi besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selain mengerahkan ribuan pasukan Marinirnya, baru-baru ini Amerika Serikat (AS) dikabarkan juga tengah merencanakan pengerahan salah satu unit pasukan lintas udaranya menuju Timur Tengah untuk mendukung operasi militer AS yang sedang berkonflik dengan Iran di wilayah tersebut. Sebagaimana dilansir CNN, sekitar 1.000 tentara Angkatan Darat AS dari Divisi Lintas Udara ke-82 diperkirakan akan dikerahkan dalam beberapa hari mendatang ke Timur Tengah untuk menambah kekuatan militer AS yang terus meningkat di kawasan tersebut.

Divisi Lintas Udara ke-82, Angkatan Darat AS yang bermarkas di Fort Bragg, Carolina Utara merupakan salah satu divisi elite yang memiliki spesialisasi dalam operasi penyerbuan langsung ke garis pertahanan musuh. Merupakan pasukan reaksi cepat yang ribuan anggota dan perlengkapannya dapat dimobilisasi hanya dalam tempo 18 jam sejak perintah diterima. Kecuali dalam Perang Korea, Divisi Lintas Udara ke-82 telah berpartisipasi dalam setiap konflik militer besar AS sejak Perang Dunia (PD) I.

1. Dikenal dengan nicknamenya: All American (AA)

potret prajurit Divisi Lintas Udara ke-82 sedang berpatroli di Kota Mosul, Irak pada tahun 2005 silam (commons.wikimedia.org/US Army)

Menurut laman US Army Airborne & Special Operations Museum, pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 dikenal dengan nicknamenya sebagai pasukan All American. Divisi pasukan yang awalnya bernama Divisi ke-82 ini dibentuk pada tanggal 5 Agustus 1917, tak lama setelah AS memasuki PD I. Para prajurit Divisi ke-82 tersebut berasal dari latar belakang buruh pabrik, pekerja tambang batu bara, petani, pegawai kantor dan juga mahasiswa yang berasal dari 48 negara bagian AS yang menjawab panggilan negara untuk menjadi prajurit saat PD I berkecamuk.

Karena sejarah anggota pasukannya yang ketika dibentuk berasal dari seluruh negara bagian AS tersebut maka pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 hingga kini dikenal dengan julukannya sebagai pasukan All American. Pasukan ini dapat dikenali dari lambang emblem (insignia) di seragam prajuritnya, sebuah emblem persegi dengan bagian dalam berwarna merah dan bentuk huruf "AA" yang disulam melengkung. Huruf "AA" tersebut adalah singkatan dari "All American" dengan latar belakang warna biru. Warna merah pada emblem tersebut mewakili artileri dan warna biru mewakili infanteri. Kemudian terdapat tag Airborne di atas tulisan "AA" yang menandakan divisi tersebut adalah pasukan lintas udara.

2. Memiliki kualifikasi sebagai paratrooper

potret pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 dengan peralatan terjun payungnya di dalam pesawat angkut militer C-17 Globe Master III milik AU AS (commons.wikimedia.org/Marvin Krause)

Seturut namanya, Divisi Lintas Udara ke-82 merupakan pasukan yang memiliki kualifikasi sebagai pasukan paratrooper atau pasukan penerjun payung. Pasukan reaksi cepat yang sangat terlatih ini dapat diterjunkan dengan parasut dari pesawat angkut militer AS seperti: C-130J Super Hercules atau C-17 Globe Master III langsung ke medan pertempuran dan garis pertahanan musuh untuk merebut dan mengamankan obyek strategis dan memotong jalur logistik musuh.

Dilansir Army Recognition, persenjataan yang dibawa oleh pasukan ini adalah senjata kompak yang dapat diterjunkan dengan parasut seperti senapan serbu personel: M4A1Carbin, senapan mesin ringan: M249 (cal. 5,56 mm) dan M240B (cal. 7,62 mm), senjata anti tank portabel FGM-148 Javelin hingga senjata artileri howitzer M119 (cal. 105 mm) dan M777 (cal. 155 mm). Dalam sejarahnya pasukan ini menjadi terkenal dalam PD II ketika melakukan operasi penerjunan di sejumlah operasi besar Sekutu seperti: "Operation Market Garden" hingga sepak terjangnya dalam pertempuran modern di Irak dan Afghanistan.

3. Andal di operasi non-militer

potret penerjunan pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 saat PD II di Belanda dalam sebuah operasi bertajuk "Operation Market Garden" (commons.wikimedia.org/US Department of War)

Tak hanya terkenal di operasi militer, pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 juga andal di operasi non-militer seperti operasi penanggulan bencana alam. Sebagaimana diinformasikan dalam laman resmi US Army, salah satu operasi non-militer terkenal yang dilakukan pasukan lintas udara ini adalah terlibat dalam operasi kemanusiaan bertajuk "Operation Unified Response" yang merupakan misi bantuan kemanusiaan dan penanggulan bencana besar-besaran militer AS menyusul bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,0 pada Skala Richter yang melanda Haiti pada 12 Januari 2010.

Hanya dalam waktu 48 jam setelah gempa bumi dahsyat tersebut, pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 telah berada di Ibu Kota Port-au-Prince. Pasukan ini bersama, Marinir dan AL AS serta tim relawan lainnya mendistribusikan makanan, air, dan perawatan medis kepada masyarakat terdampak. Selain itu, pasukan lintas udara ini membersihkan puing-puing dan mendirikan pangkalan operasi untuk mendistribusikan logistik dan obat-obatan penting di wilayah terdampak serta bertindak sebagai pasukan stabilisasi selama fase kritis akibat bencana gempa bumi tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team