Kepala Daerah Kerja Bandara sekaligus Kasatgas Arafah Abdul Basir (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Jika di luar tenda suhu udara bisa memanggang hingga 45 derajat Celcius, suasana di dalam tenda jemaah Indonesia justru terasa sejuk. Ribuan tenda telah diisi dengan deretan kasur busa (mattress) yang disusun merapat. Pendingin ruangan (AC) berukuran besar dan kipas angin berdiri (standing fan) telah dinyalakan secara maksimal untuk menstabilkan suhu di dalam tenda. Pihak syarikah juga mulai mendistribusikan tumpukan dus air minum kemasan untuk menyuplai hidrasi jemaah selama wukuf.
Selain tenda, kebersihan fasilitas sanitasi juga mengalami peningkatan. Barisan bilik toilet portabel yang disediakan terlihat bersih dan layak, dilengkapi dengan ember dan selang yang memiliki tekanan air cukup deras. Di sejumlah sudut maktab, pihak syarikah juga menghadirkan inovasi dengan membangun taman kecil dan area duduk (gazebo) berlantaikan rumput sintetis hijau. Keberadaan area asri ini cukup efektif memecah kesan gersang Padang Arafah.
"Pada saat ini kita berada di puncak-puncaknya panas ya, di siang hari sekitar jam 2 siang. Tetapi di dalam tenda cukup dingin, mudah-mudahan ini memberi kenyamanan pada jemaah haji," ujar Abdul Basir mengonfirmasi kondisi lapangan.
"Di setiap maktab terdapat toilet yang saya lihat tadi sudah cukup bagus, kayak di hotel, berbeda dari tahun sebelumnya. Ada beberapa taman yang dibuat syarikah selain untuk mempercantik penampilan yang ada di maktab, juga memberikan kesan baik pada jemaah haji," tambahnya.