Jakarta, IDN Times - Organisasi bantuan medis Dokter Lintas Batas (MSF) menuai kritik setelah menyatakan telah membagikan data pribadi sejumlah stafnya, baik warga Palestina maupun asing, yang bekerja di Gaza dan wilayah Palestina lainnya yang diduduki kepada otoritas Israel. Banyak pihak khawatir informasi tersebut akan digunakan Israel menargetkan lebih banyak pekerja kemanusiaan.
Sebelumnya, pada 1 Januari, Israel mencabut izin operasional 37 organisasi bantuan, termasuk MSF, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), Komite Penyelamatan Internasional (IRC) dan Oxfam, dengan alasan gagal memenuhi persyaratan baru terkait pembagian informasi terperinci mengenai staf, pendanaan, dan operasi mereka. Langkah ini menuai kecaman internasional karena dinilai berisiko memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza yang sudah sangat memprihatinkan.
Israel juga menuduh MSF mempekerjakan orang-orang yang terkait dengan kelompok pertahanan Palestina, sesuatu yang dibantah keras oleh organisasi bantuan tersebut.
