Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Logo Dokter Lintas Batas/Médecins Sans Frontières
Logo Dokter Lintas Batas/Médecins Sans Frontières (Moiiinkhan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • MSF membagikan data pribadi stafnya ke Israel demi mencegah penangguhan operasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang diduduki.

  • Kritikus khawatirkan keselamatan para staf Palestina dan menyebut langkah MSF sebagai bentuk kebangkrutan moral.

  • Gaza masih dilanda krisis kemanusiaan, meski telah keluar dari jurang kelaparan, namun masih membutuhkan banyak bantuan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi bantuan medis Dokter Lintas Batas (MSF) menuai kritik setelah menyatakan telah membagikan data pribadi sejumlah stafnya, baik warga Palestina maupun asing, yang bekerja di Gaza dan wilayah Palestina lainnya yang diduduki kepada otoritas Israel. Banyak pihak khawatir informasi tersebut akan digunakan Israel menargetkan lebih banyak pekerja kemanusiaan.

Sebelumnya, pada 1 Januari, Israel mencabut izin operasional 37 organisasi bantuan, termasuk MSF, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), Komite Penyelamatan Internasional (IRC) dan Oxfam, dengan alasan gagal memenuhi persyaratan baru terkait pembagian informasi terperinci mengenai staf, pendanaan, dan operasi mereka. Langkah ini menuai kecaman internasional karena dinilai berisiko memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza yang sudah sangat memprihatinkan.

Israel juga menuduh MSF mempekerjakan orang-orang yang terkait dengan kelompok pertahanan Palestina, sesuatu yang dibantah keras oleh organisasi bantuan tersebut.

1. Langkah ini diambil demi mencegah Israel menangguhkan operasi kemanusiaan

Potret rumah sakit Nasser di Gaza pasca serangan udara Israel, Senin (25/8/2025). (x.com/MSF)

Dalam pernyataan pada Sabtu (24/1/2026), MSF mengatakan keputusan untuk membagikan informasi mengenai beberapa stafnya diambil guna mencegah Israel menangguhkan operasi kemanusiaan mereka di wilayah Palestina yang diduduki. Pihaknya menambahkan bahwa para staf Palestina mereka menyetujui langkah tersebut setelah melalui diskusi panjang.

“Kami membagikan informasi ini dengan harapan tidak akan berdampak negatif terhadap staf MSF maupun operasi kemanusiaan medis kami. Sejak 1 Januari 2026, seluruh kedatangan staf internasional kami ke Gaza telah ditolak dan semua pasokan kami diblokir," kata MSF.

MSF mengelola layanan medis di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, dengan menyediakan perawatan medis penting dan darurat, termasuk layanan bedah. Organisasi ini juga membantu mengoperasikan rumah sakit lapangan di Gaza selama dua tahun perang genosida Israel.

2. Kritikus khawatirkan keselamatan para staf Palestina

Ilustrasi Gaza (pexels.com/Mohammed abubkr)

Dilansir dari Al Jazeera, seorang mantan staf MSF yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa keputusan tersebut sangat mengkhawatirkan, baik dari sisi tanggung jawab perlindungan, keamanan data, maupun komitmen paling mendasar terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

“Para staf sangat khawatir terhadap keselamatan dan masa depan mereka. Organisasi-organisasi nonpemerintah lain juga bereaksi keras, karena langkah ini semakin menegaskan keputusan mereka untuk tidak menyerah pada tuntutan Israel,” ujarnya.

Ghassan Abu Sitta, ahli bedah asal Inggris yang telah beberapa kali menjadi relawan di Gaza, menyebut keputusan MSF itu sebagai bentuk kebangkrutan moral, seraya menyiratkan bahwa warga Palestina tidak berada dalam posisi untuk memberikan persetujuan secara bebas di tengah genosida.

“Para staf (MSF) mereka memiliki pilihan yang sama terbatasnya dengan warga Palestina yang dengan sadar pergi menuju kematian di titik-titik distribusi bantuan demi memberi makan keluarga mereka,” katanya, merujuk pada lokasi distribusi bantuan milik Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), di mana lebih dari 1.000 orang tewas ditembak saat mencari bantuan.

Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, militer Israel telah membunuh lebih dari 1.700 tenaga kesehatan, termasuk 15 staf MSF.

3. Gaza masih dilanda krisis kemanusiaan

ilustrasi Gaza (Unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Dilansir dari The New Arab, Israel tampak menyambut baik langkah MSF tersebut, dengan mengatakan bahwa informasi yang diberikan mengenai staf mereka merupakan persyaratan keamanan dengan tingkat kepentingan tertinggi”.

Israel menyebutkan bahwa 23 organisasi telah menyetujui aturan pendaftaran baru tersebut, sementara organisasi-organisasi lainnya menolak atau masih mempertimbangkan keputusan mereka.

Meski telah berhasil keluar dari jurang kelaparan, Gaza masih membutuhkan banyak bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya di tengah serangan Israel yang terus berlanjut. Israel sebelumnya menyatakan akan berkomitmen mengizinkan 600 truk bantuan per hari masuk ke Jalur Gaza sesuai ketentuan perjanjian gencatan senjata. Namun, pada kenyataannya, hanya sekitar 200 truk yang benar-benar diizinkan masuk ke wilayah tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team