Merekayasa Penculikan Warga Palestina, Tentara Israel Ditangkap

- Militer Israel lakukan investigasi internal
- Keluarga pria Palestina itu segera menghubungi polisi usai menerima laporan penculikan.
- Tentara yang terlibat kini sedang diperiksa, dan unit investigasi internal militer telah membuka penyelidikan resmi atas kasus ini.
Jakarta, IDN Times - Seorang tentara Israel telah ditahan karena diduga merekayasa penculikan seorang pria Palestina di Tepi Barat yang diduduki dengan tujuan menuntut uang tebusan.
Menurut laporan Radio Angkatan Darat Israel pada Minggu (25/1/2026), pria Palestina tersebut sebelumnya ditangkap saat berusaha memasuki Israel secara ilegal dari Tepi Barat. Ia kemudian dibawa ke fasilitas penahanan militer di dekat pemukiman Gush Etzion, di mana seorang petugas polisi militer memotretnya dan mengirimkan foto tersebut kepada keluarganya, dengan mengklaim bahwa pria itu telah diculik.
Tentara itu kemudian meminta uang tebusan sebagai syarat untuk membebaskan putra mereka.
1. Militer Israel lakukan investigasi internal
Keluarga pria Palestina itu segera menghubungi polisi usai menerima laporan penculikan. Pihak berwenang Israel awalnya menduga insiden tersebut merupakan bagian dari serangan pemukim di Tepi Barat. Namun, pelacakan ponsel pria tersebut menunjukkan bahwa ia berada dalam tahanan Israel.
Tentara yang terlibat kini sedang diperiksa, dan unit investigasi internal militer telah membuka penyelidikan resmi atas kasus ini.
“Menindaklanjuti insiden tersebut, Unit Penyelidikan Internal telah membuka sebuah penyelidikan. Kami tidak akan memberikan rincian penyelidikan selama prosesnya masih berlangsung," demikian pernyataan dari militer Israel, dikutip dari The Times of Israel.
2. Terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan tentara dan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Data militer Israel yang dirilis awal Januari 2026 mencatat 845 insiden kekerasan oleh pemukim selama setahun terakhir, meningkat 25 persen dibandingkan 675 kasus pada 2024.
Serangan pemukim dan tentara Israel meningkat tajam sejak meletusnya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023. Menurut data Palestina, sedikitnya 1.109 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, telah tewas dan hampir 11 ribu lainnya terluka.
Sejak Januari 2023, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga telah mencatat lebih dari 700 keluarga Palestina yang terpaksa mengungsi akibat kekerasan yang dilakukan pemukim di Tepi Barat. Sebagian besar dari mereka berasal dari komunitas Badui dan penggembala yang tinggal di Area C, yang mencakup 60 persen wilayah Tepi Barat dan berada di bawah kendali penuh administratif dan keamanan Israel, dikutip dari DW.
3. Lebih dari 9 ribu warga Palestina ditahan di penjara Israel
Pria Palestina yang menjadi sasaran percobaan pemerasan itu merupakan salah satu dari lebih 9 ribu warga Palestina yang saat ini ditahan di penjara Israel. Laporan terbaru dari kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, mendokumentasikan penyiksaan fisik dan psikologis yang meluas terhadap para tahanan Palestina.
“Rezim Israel telah mengubah penjaranya menjadi jaringan kamp penyiksaan bagi warga Palestina, sebagai bagian dari serangan terkoordinasi yang bertujuan menghancurkan masyarakat Palestina secara kolektif. Genosida di Gaza dan pembersihan etnis di Tepi Barat merupakan manifestasi paling nyata dari kebijakan ini,” kata Yuli Novak, direktur eksekutif B’Tselem, dikutip dari MEE.
Menurut laporan tersebut, sedikitnya 84 warga Palestina, termasuk seorang anak, telah meninggal dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023. Dari jumlah itu, 50 orang berasal Jalur Gaza, 31 dari Tepi Barat, dan 3 lainnya merupakan warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel.

















