Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Laut saat matahari terbenam (pexels.com/David Dwipayana)
Laut saat matahari terbenam (pexels.com/David Dwipayana)

Intinya sih...

  • Negara tanpa laut (landlocked country) menghadapi biaya transportasi tinggi dan ketergantungan ekonomi tertentu.

  • Austria dan Hungaria tetap berkembang lewat darat dan Sungai Danube.

  • Nepal bertumpu pada pariwisata Gunung Everest.

  • Mongolia dan Laos bergantung pada tambang, darat, dan energi air.

  • Swiss maju lewat keuangan, teknologi, dan industri meski tanpa laut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Laut merupakan aset penting bagi manusia, mulai dari jalur transportasi, perdagangan, hingga sumber energi dan pertahanan. Namun, tidak semua negara di dunia memiliki akses ke laut. Negara yang terkurung daratan ini disebut dengan landlocked country dan kerap menghadapi tantangan dalam perdagangan maupun hubungan internasional.

Dikutip dari Transport Geography, negara yang tidak memiliki laut cenderung memiliki biaya transportasi lebih tinggi serta sangat bergantung pada sektor pertanian dan pertambangan. Meski begitu, sejumlah negara mampu bertahan bahkan berkembang meskipun tanpa laut. Sejarah panjang, letak geografis, hingga hubungan politik menjadi faktor mengapa negara-negara ini tetap eksis.

Berikut adalah negara yang tidak memiliki laut.

1. Austria

bendera Austria (unsplash.com/Beatriz Miller)

Sebelum Perang Dunia I, Austria bersama Hungaria memiliki angkatan laut besar dengan akses ke Laut Mediterania melalui Balkan. Namun, setelah kekalahan dalam perang, Austria kehilangan akses lautnya.

Kini Austria menjadi negara landlocked yang berbatasan dengan Slovenia, Swiss, Hungaria, Slovakia, Ceko, dan Jerman. Meski begitu, negara ini tetap maju di bidang ekonomi dan transportasi darat.

2. Nepal

gambar gunung Everest (commons.wikimwdia.org/InterEdit88)

Nepal yang terletak di Asia Selatan dikenal sebagai tanah kelahiran agama Buddha. Negara ini tidak memiliki akses ke samudera dan bergantung pada India dalam ekspor-impor. Keterbatasan akses laut membuat Nepal berfokus pada sektor pariwisata pegunungan, terutama Gunung Everest, yang menjadi daya tarik dunia.

3. Hungaria

Kastil Buda, Budapest Hungaria (pixabay.com/landoncerny)

Sama seperti Austria, Hungaria kehilangan akses laut akibat bubarnya Kekaisaran Austria-Hungaria. Kini, transportasi dan perdagangan negara ini bergantung pada Sungai Danube.

Hungaria berbatasan dengan Serbia, Kroasia, Romania, Ukraina, Slovakia, Austria, dan Slovenia. Meski tanpa laut, negara ini dikenal dengan budaya dan sejarahnya yang kaya.

4. Mongolia

Mongolia (pixabay.com/jackmac34)

Mongolia pernah berjaya sebagai pusat Kekaisaran Mongolia di bawah Genghis Khan. Kini, negara tersebut terkurung daratan tanpa akses laut.

Negara ini dikelilingi oleh Tiongkok di selatan, barat, dan timur, serta Rusia di utara. Ekonomi Mongolia banyak bergantung pada hasil tambang dan perdagangan lintas darat.

5. Swiss

ilustrasi gletser di swiss (pexels.com/Jordi Costa Tomé)

Swiss dikenal sebagai negara netral yang terletak di Eropa Tengah. Meski tidak memiliki laut, Swiss mampu membangun ekonomi kuat berbasis keuangan, teknologi, dan industri.

Negara ini berbatasan dengan Jerman, Austria, Italia, Prancis, dan Liechtenstein. Tanpa adanya laut, Swiss tetap menjadi salah satu negara paling stabil di dunia.

6. Laos

Suasana sekitar Viantiane, Laos, yang tenang (IDN Times/Satria Permana)

Laos menjadi satu-satunya negara anggota ASEAN yang tidak memiliki laut. Kondisi geografisnya membuat Laos sangat bergantung pada impor dari negara tetangga, terutama Tiongkok.

Laos berbatasan dengan Vietnam, Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Tiongkok. Meski begitu, negara ini memiliki potensi besar dari sektor energi, khususnya pembangkit listrik tenaga air.

Tidak adanya laut bukan berarti sebuah negara tidak dapat berkembang. Sejumlah negara tanpa laut tetap mampu bertahan bahkan menjadi kuat melalui strategi ekonomi, politik, dan kerja sama internasional. 

Editorial Team