ilustrasi baku tembak tentara (unsplash.com/dxstub)
Operasi militer dimulai pada Minggu dini hari. Pasukan Batalyon Infanteri ke-79 dan Brigade Infanteri ke-303 berpatroli di Barangay Salamanca. Kontak senjata pertama terjadi pukul 03.58 waktu setempat di Sitio Sinugmawan, saat pasukan pemerintah menemukan tempat persembunyian kelompok tersebut. Kejadian ini berlanjut menjadi lima baku tembak di beberapa lokasi di sekitar Toboso.
Laporan militer menyebutkan baku tembak berlanjut saat pemberontak lari ke arah hutan dan perkebunan tebu. Komandan Brigade Infanteri ke-303, Brigadir Jenderal Ted Dumosmog, menjelaskan situasi usai pertempuran.
"Lebih dari 10 pemberontak tewas. Kami belum mendata seluruh jenazah karena tim forensik masih bekerja di lokasi," kata Brigadir Jenderal Ted Dumosmog, dilansir Arab News.
Pasukan pemerintah juga menyita perlengkapan NPA, termasuk tujuh senjata api kaliber tinggi, amunisi, dan dokumen internal organisasi. Panglima Komando Visayas (VISCOM), Letnan Jenderal Fernando Reyeg, menyebutkan penyitaan ini menekan kemampuan logistik mereka.
"Penyitaan senjata api dan perlengkapan ini akan melemahkan upaya mereka untuk kembali berkuasa dan mengganggu masyarakat di Negros utara," ujar Letnan Jenderal Fernando Reyeg, dilansir BSS News.
Informasi dari warga sipil turut membantu melacak lokasi kelompok ini. Warga melapor karena terganggu dengan praktik pungutan liar.
"Warga sudah lelah dengan kehadiran mereka. Warga membantu kami menemukan lokasi persembunyian pemberontak, sehingga operasi ini berjalan efektif," kata juru bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Louie Dema-ala.
Militer kini berjaga di sekitar Barangay Salamanca dan Sitio Plariding untuk mengawasi kemungkinan serangan balasan. Pasukan tambahan juga dikerahkan guna mengamankan petani tebu setempat.