Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasukan Filipina Lakukan Operasi Militer, 10 Pemberontak Tewas
Ilustrasi tentara (freepik.com/senivpetro)
  • Pasukan Filipina menewaskan sedikitnya 10 anggota NPA dalam operasi militer di Toboso, Negros, serta menyita senjata dan dokumen penting untuk melemahkan kekuatan pemberontak.
  • Komandan gerilya Roger Fabillar alias Arnel Tapang tewas dalam operasi tersebut; ia dikenal sebagai pelaku kekerasan terhadap warga dan polisi di wilayah Negros utara.
  • Baku tembak memicu pengungsian 653 warga Toboso ke lokasi aman, sementara militer memperkuat penjagaan dan memastikan situasi kembali kondusif bagi masyarakat sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pasukan pemerintah di Filipina menewaskan sedikitnya 10 anggota gerilya Maois dalam baku tembak pada Minggu (19/4/2026). Operasi militer di wilayah Toboso, Pulau Negros, ini merupakan bagian dari upaya penanganan kelompok pemberontak bersenjata.

Komando militer regional melaporkan, pasukan infanteri dikerahkan untuk mengatasi sisa kelompok New People's Army (NPA) di wilayah pedesaan. Langkah Angkatan Darat Filipina ini bertujuan menjaga keamanan warga dari ancaman dan pemerasan.

1. Baku tembak antara militer Filipina dan pemberontak NPA di Toboso

ilustrasi baku tembak tentara (unsplash.com/dxstub)

Operasi militer dimulai pada Minggu dini hari. Pasukan Batalyon Infanteri ke-79 dan Brigade Infanteri ke-303 berpatroli di Barangay Salamanca. Kontak senjata pertama terjadi pukul 03.58 waktu setempat di Sitio Sinugmawan, saat pasukan pemerintah menemukan tempat persembunyian kelompok tersebut. Kejadian ini berlanjut menjadi lima baku tembak di beberapa lokasi di sekitar Toboso.

Laporan militer menyebutkan baku tembak berlanjut saat pemberontak lari ke arah hutan dan perkebunan tebu. Komandan Brigade Infanteri ke-303, Brigadir Jenderal Ted Dumosmog, menjelaskan situasi usai pertempuran.

"Lebih dari 10 pemberontak tewas. Kami belum mendata seluruh jenazah karena tim forensik masih bekerja di lokasi," kata Brigadir Jenderal Ted Dumosmog, dilansir Arab News.

Pasukan pemerintah juga menyita perlengkapan NPA, termasuk tujuh senjata api kaliber tinggi, amunisi, dan dokumen internal organisasi. Panglima Komando Visayas (VISCOM), Letnan Jenderal Fernando Reyeg, menyebutkan penyitaan ini menekan kemampuan logistik mereka.

"Penyitaan senjata api dan perlengkapan ini akan melemahkan upaya mereka untuk kembali berkuasa dan mengganggu masyarakat di Negros utara," ujar Letnan Jenderal Fernando Reyeg, dilansir BSS News.

Informasi dari warga sipil turut membantu melacak lokasi kelompok ini. Warga melapor karena terganggu dengan praktik pungutan liar.

"Warga sudah lelah dengan kehadiran mereka. Warga membantu kami menemukan lokasi persembunyian pemberontak, sehingga operasi ini berjalan efektif," kata juru bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Louie Dema-ala.

Militer kini berjaga di sekitar Barangay Salamanca dan Sitio Plariding untuk mengawasi kemungkinan serangan balasan. Pasukan tambahan juga dikerahkan guna mengamankan petani tebu setempat.

2. Pemimpin gerilya Roger Fabillar tewas dalam operasi militer

Ilustrasi Baku Tembak. (Unsplash.com/Daniel Stuben.)

Target utama operasi ini adalah menangkap pelaku kekerasan terhadap warga dan polisi di Negros utara. Militer memastikan salah satu korban tewas adalah Roger Fabillar, komandan unit gerilya dengan nama samaran Arnel Tapang, Jhong, atau Nono. Ia merupakan komandan Unit Partisan Khusus (SPARU) Front Negros Utara. Pemerintah Filipina sebelumnya menawarkan satu juta peso (Rp286,16 juta) bagi pemberi informasi keberadaannya.

Fabillar terlibat kasus pembunuhan di Escalante, Toboso, dan Calatrava, dengan korban yang sering dituduh sebagai informan pemerintah. Reyeg menilai kematian Fabillar sebagai bentuk keadilan.

"Keadilan telah ditegakkan bagi warga sipil tidak bersalah yang menjadi korban. Kematian Fabillar menunjukkan bahwa kami akan terus menindak mereka yang melakukan kejahatan terhadap rakyat," ujar Letnan Jenderal Fernando Reyeg.

Militer memperkirakan kematian Fabillar akan menurunkan jumlah anggota NPA. Panglima Angkatan Darat Filipina, Letnan Jenderal Antonio Nafarrete, menanggapi situasi anggota kelompok tersebut.

"Sangat disayangkan anggota kelompok ini sebenarnya adalah korban kebohongan yang memanfaatkan orang-orang rentan. Namun, demi keamanan negara, kami akan terus menjalankan operasi untuk mengakhiri pemberontakan ini," kata Letnan Jenderal Antonio Nafarrete.

Militer mencatat NPA kini kesulitan merekrut anggota baru berkat program pencegahan dari Gugus Tugas Nasional untuk Mengakhiri Konflik Bersenjata Komunis Lokal (NTF-ELCAC). Militer terus mengimbau sisa anggota untuk menyerahkan diri secara damai.

3. Ratusan warga Toboso mengungsi akibat baku tembak di dekat pemukiman

Bendera Filipina. (pixabay.com/jhameras)

Baku tembak di Toboso berdampak pada warga sekitar. Kantor Manajemen Bencana Toboso mencatat 653 penduduk atau 168 keluarga mengungsi. Sebagian besar berasal dari Barangay Salamanca. Mereka sementara menginap di gedung sekolah dasar San Jose dan Salamanca.

"Berdasarkan cerita warga, baku tembak terjadi di dekat fasilitas perikanan. Hal ini membuat mereka lari menyelamatkan diri," kata pejabat penanggulangan bencana Toboso, Hospicio Carbajosa.

Sebagian warga mulai kembali ke rumah pada Senin (20/4/2026) setelah militer memastikan kondisi aman. Di tempat lain, Batalyon Infanteri ke-15 juga menggelar operasi keamanan di Cauayan, Negros Occidental, guna menekan aktivitas kelompok bersenjata.

"Angkatan Darat Filipina tetap fokus mengamankan negara. Kami pastikan operasi untuk mengakhiri pemberontakan ini akan terus berjalan," kata Letnan Jenderal Antonio Nafarrete.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team