Jakarta, IDN Times - Tiap 29 November diperingati sebagai Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina. Namun, peringatan tahun ini berbeda lantaran dilakukan di tengah gencatan senjata, di mana rakyat Palestina harus bertahan hidup selama dua tahun terakhir dari genosida Israel.
Dikutip dari situs resmi PBB pada Sabtu (29/11/2025), Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, setidaknya puluhan ribu warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel. Sementara ribuan korban lainnya diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan.
"Para penyintas terkena penyakit, kelaparan, dan mengalami trauma. Sementara sekolah, rumah dan rumah sakit hancur," kata Guterres.
Di saat yang sama, ratusan pekerja kemanusiaan ikut tewas terbunuh di Palestina. Mayoritas korban tewas merupakan staf PBB asal Palestina. "Kejadian itu menandakan kehilangan terbesar personel dalam sejarah organisasi," tutur dia.
Jumlah jurnalis yang tewas di Palestina juga lebih banyak bila dibandingkan Perang Dunia ke-2. Di sisi lain, kata Guterres, ketidakadilan terus berlanjut di daerah penjajahan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Israel masih melakukan operasi militer di sana. Belum lagi penjajahan dan pengambilalihan wilayah masih terus berlangsung.