Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dokumentasi Istimewa
Aksi solidaritas Palestina yang berlangsung di Chambers Shop, Jalan Boulevard Makassar pada 20 Juni 2025. (Dok. Istimewa)

Intinya sih...

  • PBB meminta bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Palestina

  • PKS ingatkan 29 November jangan dijadikan seremonial belaka

  • Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina dilakukan sejak 1977

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Tiap 29 November diperingati sebagai Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina. Namun, peringatan tahun ini berbeda lantaran dilakukan di tengah gencatan senjata, di mana rakyat Palestina harus bertahan hidup selama dua tahun terakhir dari genosida Israel.

Dikutip dari situs resmi PBB pada Sabtu (29/11/2025), Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, setidaknya puluhan ribu warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel. Sementara ribuan korban lainnya diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan.

"Para penyintas terkena penyakit, kelaparan, dan mengalami trauma. Sementara sekolah, rumah dan rumah sakit hancur," kata Guterres.

Di saat yang sama, ratusan pekerja kemanusiaan ikut tewas terbunuh di Palestina. Mayoritas korban tewas merupakan staf PBB asal Palestina. "Kejadian itu menandakan kehilangan terbesar personel dalam sejarah organisasi," tutur dia.

Jumlah jurnalis yang tewas di Palestina juga lebih banyak bila dibandingkan Perang Dunia ke-2. Di sisi lain, kata Guterres, ketidakadilan terus berlanjut di daerah penjajahan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Israel masih melakukan operasi militer di sana. Belum lagi penjajahan dan pengambilalihan wilayah masih terus berlangsung.

1. PBB minta bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Palestina

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. (UN TV)

Lebih lanjut, Sekjen Guterres meminta agar bantuan kemanusiaan skala besar harus diizinkan masuk ke teritori Gaza. Masyarakat internasional juga harus mendukung keberadaan UNRWA, badan khusus untuk pengungsi Palestina.

"Badan tersebut merupakan penyelamat yang tidak tergantikan bagi jutaan warga Palestina, termasuk pengungsi," tutur dia.

Ia menambahkan, gencatan senjata yang diberlakukan baru-baru ini menawarkan secercah harapan. Guterres mendorong kedua belah pihak untuk menghormati isi gencatan senjata yang telah disepakati.

"Ini termasuk segera mengembalikan jenazah para sandera dari serangan 7 Oktober dalam keadaan bermartabat kepada keluarga yang berduka di Israel," katanya.

"Saya kembali menyerukan untuk mengakhiri penjajahan di teritori Palestina sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Internasional dan Majelis Umum! Hal itu juga untuk kemajuan yang tidak dapat dibatalkan menuju solusi dua negara," imbuhnya.

2. PKS ingatkan 29 November jangan dijadikan seremonial belaka

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (IDN Times/Amir Faisol)

Sementara, di dalam negeri, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid, mengingatkan hari solidaritas internasional tersebut tidak boleh hanya menjadi seremonial belaka. Harus ada aksi konkret dari PBB untuk memperkuat solidaritas global bagi rakyat Palestina. Selain itu, demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Palestina.

“Hari Solidaritas Internasional bersama Rakyat Palestina yang diperingati pada hari ini, 29 November, sangat penting tidak hanya untuk terus diperingati, tetapi juga untuk dilaksanakan aksi-aksi yang lebih nyata. Sejak PBB menjadikan tanggal 29 November sebagai Hari Solidaritas Internasional terhadap bangsa Palestina, nasib mereka tidak semakin baik," ujar pria yang akrab disapa HNW itu di dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Bahkan cita-cita menghadirkan negara Palestina merdeka, kata HNW, dengan pola two-state solution pun semakin jauh dari harapan. Hal itu terbukti dengan terus berlanjutnya kejahatan genosida oleh Israel terhadap bangsa Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat maupun di Masjid Al-Aqsha di Yerusalem.

"Peringatan dan seruan yang disampaikan oleh Sekjen PBB seharusnya tidak hanya menjadi slogan atau seremoni belaka, tetapi mesti menjadi aksi yang lebih konkret lagi dari PBB," tutur dia.

3. Hari Solidaritas Internasional Bersama Rakyat Palestina dilakukan sejak 1977

Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-79 pada Selasa (24/9/2024). (twitter.com/UN)

Hari solidaritas internasional bersama rakyat Palestina diperingati sejak 1977 melalui resolusi 32/0 B. Pemilihan tanggal 29 November merujuk pada keputusan bersejarah PBB, yaitu Resolusi 181 (II) yang diadopsi pada 29 November 1947. Resolusi ini yang kemudian dikenal sebagai Rencana Pembagian Palestina, di mana mengusulkan pendirian dua negara, yakni Negara Arab Palestina dan Negara Yahudi.

Rencana tersebut juga mengatur status khusus untuk Yerusalem sebagai wilayah internasional yang dikelola oleh PBB.

Namun, implementasi resolusi itu tidak pernah terwujud bagi rakyat Palestina. Konflik yang menyusul setelahnya justru berujung pada Nakba (malapetaka) tahun 1948. Ketika itu lebih dari 700 ribu rakyat Palestina diusir atau terpaksa meninggalkan tanah mereka.

Hingga hari ini, Nakba masih menjadi luka sejarah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Editorial Team