Palestina: Serangan Israel Musnahkan 90 Persen Hewan Ternak Gaza

- Peternak alami kerugian hingga miliaran Rupiah
- Usaha keluarga dari beberapa generasi hancur dalam sekejap
- Lahan pertanian juga rusak dan tidak bisa diakses petani
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertanian Palestina mengungkapkan bahwa perang Israel di Gaza yang telah berlangsung sejak dua tahun lalu telah menghancurkan sektor pertanian Gaza, dengan lebih dari 90 persen hewan ternak musnah.
Diperkirakan 95 persen sapi telah terbunuh, baik akibat serangan udara maupun disembelih secara terpaksa karena kelangkaan bahan makanan selama blokade bantuan oleh Israel. Sementara itu, hanya 43 persen domba yang masih bertahan hidup, dan 99 persen unggas mati. Padahal, sebelum perang, pasar lokal memasok hingga 15 ribu ekor sapi, 55 ribu ekor domba, dan jutaan ayam.
“Perang tidak hanya membunuh hewan. Perang menghapus seluruh cara hidup," kata pejabat kementerian itu kepada The National.
Ia menambahkan bahwa wilayah yang dulunya menjadi pusat produksi pangan di Gaza, terutama Khan Younis di selatan dan wilayah utara, kini berubah menjadi zona militer yang dikendalikan oleh tentara Israel. Bahkan, jika rekonstruksi dimulai hari ini, dibutuhkan waktu puluhan tahun bagi industri peternakan untuk pulih kembali
1. Peternak alami kerugian hingga miliaran Rupiah
Tamer al-Kafarna, seorang pedagang ternak berusia 51 tahun dari Gaza utara, dulunya memiliki dua peternakan, yang menampung sekitar 5 ribu ekor sapi dan domba. Namun, semuanya hancur akibat serangan udara Israel pada masa-masa awal perang.
“Semua hewan mati. Kerugian saya mencapai lebih dari 700 ribu dolar AS (sekitar Rp11,6 miliar). Namun, kerugian yang lebih besar adalah ketika tidak ada lagi daging segar di Gaza. Banyak orang kelaparan. Anak-anak semakin lemah. Perang tidak hanya mematikan peternakan kami, tapi juga mematikan kesehatan itu sendiri," tuturnya.
Seperti kebanyakan pedagang lainnya, Kafarna kini tidak lagi memiliki penghasilan dan tidak tahu cara untuk membangun kembali usahanya.
“Perbatasan ditutup, impor ternak dilarang, dan seluruh wilayah di sebelah timur Garis Kuning dikuasai oleh militer. Kami terputus dari mata pencaharian kami sendiri,” katanya, merujuk pada garis gencatan senjata yang menandai wilayah yang dikuasai Israel.
2. Usaha keluarga dari beberapa generasi hancur dalam sekejap
Nasib serupa juga dialami oleh Yahya al-Sawafiri, pria berusia 43 tahun dari kota Gaza. Sebelum perang, keluarganya memiliki 22 peternakan ayam senilai 3 juta dolar AS (sekitar Rp49,9 miliar), yang memasok 700 ribu hewan ke pasar setiap bulannya. Namun dalam hitungan hari, semuanya lenyap akibat dibombardir.
“Tentara Israel menghancurkan semuanya. Mereka bahkan tidak mengizinkan pasokan unggas masuk ke Gaza sekarang. Bagaimana kami bisa membangun kembali jika anak ayam, pakan, dan peralatan pun tidak bisa kami dapatkan?” keluhnya.
Bagi Sawafiri, kerugian ini terasa sangat personal, mengingat peternakan-peternakan itu merupakan usaha keluarga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Peternakan-peternakan ini lebih dari sekadar pekerjaan. Ini adalah warisan kami, sesuatu yang dibangun oleh ayah dan kakek kami. Kami bangga bisa memberi makan Gaza. Sekarang peternakan itu hilang, dan bersamanya, sebagian dari jati diri kami turut lenyap," ungkapnya.
3. Lahan pertanian juga rusak dan tidak bisa diakses petani
Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT) pada Juli, agresi militer Israel selama 2 tahun terakhir juga membuat lebih dari 95 persen lahan pertanian Gaza tidak dapat diakses.
Data menunjukkan bahwa hingga Mei 2025, 80 persen lahan pertanian di Gaza mengalami kerusakan, sementara 77,8 persen dari lahan tersebut kini tidak dapat diakses oleh para petani. Kerusakan juga meluas ke sektor lainnya, dengan 71,2 persen rumah kaca dan 82,8 persen sumur pertanian turut terdampak.
“Skala kerusakan seperti ini bukan sekadar hilangnya infrastruktur – ini adalah runtuhnya sistem pangan dan agrikultur Gaza serta jalur kehidupan. Dengan lahan pertanian, rumah kaca, dan sumur yang hancur, produksi pangan lokal berhenti total. Proses pemulihan akan membutuhkan investasi besar – serta komitmen jangka panjang untuk mengembalikan mata pencaharian dan harapan," kata Beth Bechdol, Wakil Direktur Jenderal FAO, dikutip dari Al Jazeera.
Israel telah lama menjadikan sistem pangan Gaza sebagai senjata, dengan memberlakukan kontrol ketat terhadap masuknya peralatan, pupuk, bahkan benih ke wilayah tersebut. Namun, sejak Oktober 2023, Israel disebut telah menerapkan kebijakan untuk melenyapkan sektor itu sepenuhnya.

















