Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PBB Sebut Serangan RSF di Sudan Tahun Lalu Mengarah ke Genosida
potret logo PBB (unsplash.com/Bernd Dittrich)
  • PBB menyimpulkan serangan milisi RSF di El-Fasher, Darfur, Sudan pada Oktober 2025 mengarah pada tindakan genosida berdasarkan hasil penyelidikan lapangan yang dirilis Februari 2026.
  • Investigasi menemukan bukti pembunuhan massal, pemerkosaan, penyiksaan, dan pengepungan berkepanjangan terhadap warga Suku Zaghawa dan Fur dengan niat menghancurkan kelompok tersebut sebagian atau seluruhnya.
  • Serangan RSF di El-Fasher menewaskan lebih dari 6.000 orang dan menjadi bagian dari perang saudara Sudan yang pecah sejak April 2023 akibat perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut serangan massal milisi Rapid Support Forces (RSF) di Kota El-Fasher, Negara Bagian Darfur, Sudan, pada akhir Oktober 2025 lalu sudah mengarah pada tindakan genosida. Pernyataan tersebut diumumkan langsung oleh PBB dalam hasil penyelidikan yang dirilis pada Kamis (19/2/2026) siang waktu setempat. 

“Skala, koordinasi, dan dukungan publik terhadap operasi tersebut oleh pimpinan senior RSF menunjukkan bahwa kejahatan yang dilakukan di dalam dan sekitar El-Fasher bukanlah tindakan berlebihan yang tidak direncakan dalam perang. Kejahatan tersebut merupakan bagian dari operasi yang direncanakan dan terorganisir serta memiliki ciri khas genosida,” kata Ketua Misi Penyelidikan PBB di Sudan, Mohamed Chande Othman, dilansir laman resmi PBB.

1. PBB mengambil kesimpulan dari penyelidikan dan data-data di lapangan

ilustrasi penyelidikan (unsplash.com/manas rb)

Kesimpulan ini diambil berdasarkan hasil penyelidikan PBB di lapangan sejak akhir 2025. Selama penyelidikan berlangsung, tim investigasi PBB datang ke El-Fasher untuk mengambil data riil di lapangan. Selain itu, mereka juga langsung mengintrogasi beberapa anggota pasukan RSF yang melakukan pembantaian di El-Fasher. Senada dengan Mohamed Chande Othman, pakar Misi Penyelidikan PBB di Sudan, Mona Rishmawi, juga menegaskan bahwa serangan RSF di sana sudah memenuhi ciri-ciri genosida.

“Bukti yang kami kumpulkan, termasuk pengepungan yang berkepanjangan, kelaparan dan penolakan bantuan kemanusiaan, diikuti oleh pembunuhan massal, pemerkosaan, penyiksaan dan penghilangan paksa, penghinaan sistematis, dan pernyataan para pelaku sendiri, hanya menyisakan satu kesimpulan yang masuk akal. RSF bertindak dengan niat untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian, Suku Zaghawa dan Suku Fur di El-Fasher. Ini adalah ciri khas genosida,” kata Rishmawi.

2. Serangan RSF di El-Fasher pada Oktober 2025 lalu menelan ribuan korban

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Ivan Cuesta)

El-Fasher sendiri merupakan wilayah terakhir yang dikuasai pasukan Pemerintah Sudan (SAF). Pada akhir Oktober 2025 lalu, RSF menyerang wilayah tersebut secara membabi buta setelah mengepungnya selama kurang lebih 18 bulan. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya RSF untuk mengambil alih El-Fasher dari tangan SAF.

Serangan RSF ke wilayah El-Fasher ini dikabarkan telah menewaskan ribuan orang. Menurut data PBB, ada lebih dari 6.000 orang di sana yang tewas dalam serangan yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut tersebut. Saat itu, RSF menembak mati dan memperkosa banyak warga El-Fasher tanpa ampun. Selain itu, mereka juga menghancurkan berbagai fasilitas publik yang ada di kota tersebut.

3. Serangan RSF di El-Fasher merupakan bagian dari peristiwa perang saudara di Sudan

ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd)

Serangan pasukan RSF di El-Fasher pada 2025 merupakan bagian dari peristiwa perang saudara di Sudan. Peristiwa ini pecah di Negara Bagian Darfur pada April 2023 silam karena perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF. Saat itu, SAF mendesak RSF untuk bergabung dengan mereka agar menjadi kekuatan militer yang utuh. Namun, RSF menolak dan bersikukuh ingin mengambil alih kekuasaan di Sudan. Imbasnya, perang saudara antara kedua pihak tidak bisa dielakan.

Dilansir BBC, perang tersebut akhirnya menjadi konflik yang mengkhawatirkan seluruh negeri. Sebab, RSF yang jadi kerap melakukan serangan brutal kepada warga-warga Sudan yang dianggap pro-pemerintah secara membabi buta, terutama yang tinggal di Negara Bagian Darfur. Selain itu, mereka juga kerap memperkosa, merampas, dan menghancurkan rumah-rumah warga.

Sebagai informasi, misi penyelidikan yang dilakukan PBB terhadap serangan RSF di Kota El-Fasher merupakan mandat langsung dari Human Rights Council. Misi penyelidikan tersebut didukung oleh beberapa negara. Salah satunya adalah Inggris. Sebab, Inggris menganggap serangan RSF di El-Fasher perlu diinvestigasi lebih lanjut karena telah melanggar hukum humaniter internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team