Serangan Drone RSF di Sudan Tewaskan 24 Pengungsi

- Serangan beruntun menyasar konvoi bantuan kemanusiaan
- Amerika Serikat mengecam serangan
- Konflik Sudan terus memperburuk krisis kemanusiaan
Jakarta, IDN Times – Pasukan Dukungan Cepat (RSF) melakukan serangan pesawat tanpa awak yang mengenai kendaraan pembawa keluarga pengungsi di sekitar Rahad, Provinsi Kordofan Utara, pada Sabtu (7/2/2026). Dampak serangan tersebut menewaskan sedikitnya 24 warga sipil, termasuk delapan anak kecil dan dua di antaranya masih berusia bayi.
Para korban sebelumnya telah melarikan diri dari zona pertempuran di wilayah Dubeiker, sedangkan beberapa orang lain dilaporkan menderita luka-luka.
Jaringan Dokter Sudan segera menyalahkan RSF atas serangan yang terjadi pada hari itu. Mereka menyatakan peristiwa tersebut sama-sama merupakan pelanggaran terang terhadap hukum kemanusiaan internasional serta tergolong sebagai kejahatan perang serius.
1. Serangan beruntun menyasar konvoi bantuan kemanusiaan

Insiden mematikan tersebut terjadi sehari setelah RSF kembali mengerahkan drone untuk menyerang konvoi bantuan kemanusiaan dan truk pengangkut bahan bakar di jalur el-Obeid–Kosti pada Jumat (6/2/2026). Dari rangkaian serangan itu, setidaknya satu orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka.
Rincian peristiwa meliputi serangan saat dini hari terhadap tiga truk di Er-Rahad, kemudian serangan lanjutan di wilayah Allah Kareem dekat Es Samih yang merusak empat kendaraan, termasuk truk bantuan milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta tiga drone lain yang menghantam truk pengangkut dan tangki bahan bakar di Um Rawaba hingga kembali menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Pemerintah Provinsi Kordofan Utara dengan tegas mengecam serangan yang menyasar konvoi terkait Program Pangan Dunia (WFP). Mereka turut meminta agar para pemimpin RSF dijatuhi sanksi oleh komunitas internasional, sementara Jaringan Dokter Sudan menjelaskan bahwa konvoi tersebut tengah membawa bantuan vital bagi komunitas pengungsi di el-Obeid.
2. Amerika Serikat mengecam serangan

Koordinator Penduduk dan Kemanusiaan PBB Denise Brown mengonfirmasi bahwa truk-truk yang diserang sedang dalam perjalanan dari Kosti untuk mengirimkan pasokan makanan penyelamat jiwa kepada keluarga pengungsi di dekat el-Obeid ketika menjadi sasaran serangan. Ia menambahkan bahwa insiden itu terjadi tidak lama setelah serangan drone lain pada pekan yang sama terhadap fasilitas yang berkaitan dengan WFP di Yabus, Provinsi Blue Nile, yang mengakibatkan seorang pekerja mengalami luka.
Penasihat Senior Amerika Serikat (AS) untuk Urusan Arab dan Afrika Massad Boulos menyampaikan pernyataannya melalui platform X.
“AS mengutuk serangan drone terbaru terhadap konvoi Program Pangan Dunia di Kordofan Utara yang mengangkut makanan kepada orang-orang yang kelaparan yang menewaskan satu orang dan melukai banyak lainnya. Menghancurkan makanan yang dimaksudkan untuk orang-orang yang membutuhkan dan membunuh pekerja kemanusiaan adalah menjijikkan. Pemerintahan Trump tak memiliki toleransi terhadap penghancuran kehidupan ini dan bantuan yang didanai AS; kami menuntut pertanggungjawaban dan menyampaikan belasungkawa kami kepada semua yang terdampak oleh peristiwa yang tak dapat diterima ini dan perang yang mengerikan,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
3. Konflik Sudan terus memperburuk krisis kemanusiaan

Sampai saat ini RSF belum mengeluarkan pernyataan yang mengakui keterlibatan atau tanggung jawab atas rangkaian serangan tersebut. Peristiwa-peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi pertempuran di kawasan Kordofan sejak Oktober 2025, tidak lama setelah RSF mengambil alih el-Fasher di Darfur, lokasi yang oleh PBB digambarkan sebagai tempat terjadinya berbagai kekejaman.
Pertikaian antara Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF bermula di Khartoum sejak April 2023 dan kini telah memasuki tahun ketiga. Berdasarkan data PBB, lebih dari 40 ribu orang telah kehilangan nyawa akibat konflik berkepanjangan ini, meskipun sebagian pengamat meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi. Konflik tersebut juga memaksa lebih dari 14 juta orang meninggalkan rumah mereka, memicu merebaknya wabah penyakit, serta memperparah kelaparan di banyak wilayah, dikutip dari DW.
Catatan terbaru PBB menunjukkan lebih dari 21 juta penduduk Sudan kini berada dalam kondisi kekurangan pangan akut. Hampir setengah dari total populasi sekitar 50,5 juta jiwa mengalami ketidakamanan pangan yang serius, sementara dua pertiga warga memerlukan bantuan kemanusiaan mendesak. Puluhan ribu orang juga telah mengungsi menyeberang ke negara tetangga Chad.

















