Kasus pembunuhan dan mutilasi ini memicu kemarahan luas dari kelompok hak perempuan di Turki. Mereka menilai insiden tersebut sebagai bagian dari pola kekerasan fatal terhadap perempuan yang terus berulang tanpa penegakan hukum yang memadai.
Sejumlah organisasi perempuan menyerukan aksi protes di Istanbul dan Ankara pada Minggu (25/1/2026), pukul 16.00 waktu setempat. Aksi ini digagas untuk menuntut tindakan tegas negara dalam menangani gelombang femisida dan kekerasan berbasis gender yang meningkat.
Kelompok Feminists Against Femicide menyatakan di platform X bahwa mereka akan membawa kemarahan ke jalan sebagai bentuk penolakan terhadap kekerasan pada perempuan.
“Kami belum tahu nama perempuan yang dibunuh itu, tapi kami tahu kejahatan ini adalah hasil dari kekerasan laki-laki,” tulis kelompok tersebut, dikutip The Straits Times.
Menurut data organisasi We Will Stop Femicides, sepanjang 2025 sedikitnya 294 perempuan dibunuh oleh laki-laki di Turki, sementara 297 lainnya ditemukan meninggal dalam kondisi yang dikategorikan sebagai kematian mencurigakan. Laporan tersebut menyoroti minimnya data resmi dari pemerintah, sehingga upaya pencatatan bergantung pada pemantauan media dan aktivitas organisasi masyarakat sipil.
Para aktivis menilai kasus di Sisli ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam melindungi perempuan baik di ruang publik maupun domestik. Wali Kota Sisli yang kini dipenjara, Resul Emrah Sahan, turut mengkritik lemahnya penegakan hukum di Turki.
“Pembunuhan perempuan telah berubah menjadi pembantaian yang terus meluas akibat impunitas, kelalaian, dan sikap diam,” tulisnya di media sosial, dikutip The Sun.