Pemerintah AS menuduh Universitas Harvard gagal melindungi mahasiswa Yahudi dan membiarkan sentimen antisemitisme berkembang selama aksi protes pro-Palestina di lingkungan kampus. Isu ini menjadi katalisator utama bagi Departemen Pertahanan untuk memutuskan seluruh hubungan akademik dengan institusi tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menilai pimpinan universitas tidak mampu menciptakan lingkungan yang netral dan aman.
"Kepemimpinan universitas mendorong lingkungan kampus yang merayakan Hamas, membiarkan serangan terhadap orang Yahudi, dan masih mempromosikan diskriminasi berdasarkan ras," kata Hegseth, dilansir CBS News.
Selain masalah antisemitisme, Pentagon mengkritik penerapan kebijakan keberagaman, ekuitas, dan inklusi (DEI) yang dianggap sebagai ideologi "woke" yang merusak prinsip meritokrasi. Pemerintahan Trump secara agresif memangkas pendanaan bagi universitas yang mempertahankan program tersebut karena dinilai menghambat profesionalisme militer. Hegseth menganggap Harvard telah menjadi pusat aktivisme yang memusuhi angkatan bersenjata AS.
Aspek keamanan nasional juga menjadi alasan krusial di balik langkah drastis ini, terutama terkait dugaan hubungan penelitian antara Harvard dengan pihak asing. Pemerintah mencurigai adanya kemitraan yang berisiko bagi kepentingan strategis AS.
"Program penelitian kampus telah bermitra dengan Partai Komunis China," ujar Hegseth.
Di sisi lain, Presiden Harvard, Alan Garber, menolak keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai intervensi politik terhadap kebebasan akademik.