Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Bendera Kanada (pexels.com/Social Soup Social Media)
Ilustrasi Bendera Kanada (pexels.com/Social Soup Social Media)

Intinya sih...

  • Kanada dan Prancis resmi buka konsulat jenderal di Greenland sebagai simbol komitmen mendalam sekutu NATO dalam menjaga stabilitas wilayah utara.

  • Ketegangan geopolitik Greenland meningkat akibat rencana akuisisi AS, yang mengecam retorika Washington yang dinilai merusak tatanan hukum internasional.

  • Kanada dan Prancis perkuat kerja sama mineral dan riset di Greenland untuk mengoptimalkan potensi mineral kritis, transfer teknologi, dan pengembangan jalur pelayaran baru di perairan Arktik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kanada dan Prancis secara resmi membuka kantor konsulat jenderal di Nuuk, ibu kota Greenland, pada Jumat (6/2/2026). Langkah diplomatik ini dilakukan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pemerintah lokal dan kedaulatan Denmark atas wilayah Arktik tersebut.

Peresmian ini menandai penguatan kerja sama internasional di kawasan yang kian strategis, baik dari aspek militer maupun ekonomi. Kehadiran fisik kedua negara ini sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap tekanan eksternal yang ingin menguasai sumber daya mineral di wilayah tersebut.

1. Kanada dan Prancis resmi buka konsulat jenderal di Greenland

Pembukaan konsulat Kanada dan Prancis di Nuuk menjadi simbol komitmen mendalam sekutu NATO dalam menjaga stabilitas wilayah utara. Kehadiran delegasi tingkat tinggi kedua negara ini bertujuan meresmikan kantor diplomatik sebagai pusat koordinasi kepentingan komersial baru. Langkah tersebut dianggap sebagai kemenangan politik bagi rakyat Greenland yang menginginkan pengakuan internasional atas otonomi mereka yang kian berkembang.

Gubernur Jenderal Kanada, Mary Simon, bersama Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, memimpin langsung delegasi untuk menegaskan dukungan terhadap integritas teritorial Denmark. Sebagai pemimpin keturunan Inuit, kehadiran Simon membawa pesan solidaritas bagi penduduk asli Greenland. Anita Anand menyatakan bahwa koordinasi ini sangat berharga untuk memajukan kepentingan Kanada di Arktik sekaligus meningkatkan hubungan bilateral yang konkret.

Sementara itu, Prancis menunjuk diplomat senior Jean Noël Poirier sebagai konsul pertama di wilayah tersebut. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Noël Barrot, menekankan bahwa langkah ini adalah sinyal politik jelas mengenai eksistensi Eropa di Arktik.

"Dalam arti tertentu, ini adalah kemenangan bagi warga Greenland untuk melihat dua sekutu membuka representasi diplomatik di Nuuk," ujar Ilmuwan politik dari Denmark, Jeppe Strandsbjerg, dilansir Economic Times.

2. Ketegangan geopolitik Greenland meningkat akibat rencana akuisisi AS

Ketegangan geopolitik di Greenland meningkat tajam menyusul kembalinya wacana akuisisi pulau tersebut oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Trump menegaskan bahwa penguasaan atas Greenland merupakan keharusan absolut bagi keamanan nasional dan ekonomi AS, terutama untuk memantau aktivitas militer Rusia serta ekspansi pengaruh China di Arktik. Pada Januari 2026, Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS akan melakukan tindakan terhadap Greenland.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Noël Barrot, mengecam keras retorika Washington yang dinilai merusak tatanan hukum internasional. Barrot menegaskan bahwa Greenland bukanlah komoditas yang bisa diperjualbelikan dan posisinya berada di bawah perlindungan kolektif NATO.

"Hukum internasional sedang diinjak-injak, dan hari-hari pertama tahun 2026 telah menunjukkan dengan jelas bahwa hukum rimba kini mengatur hubungan antar bangsa," ujar Barrot, dilansir Arab News.

Meskipun terdapat ancaman tarif tinggi dari AS terhadap Denmark, pemerintah Denmark dan Greenland tetap pada posisi tegas. Kedaulatan serta integritas teritorial merupakan garis merah yang tidak dapat diganggu gugat dalam setiap diskusi keamanan. Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, memperingatkan bahwa pandangan AS terhadap rakyat Greenland belum berubah dan masih terus mencari jalur untuk menguasai wilayah mereka.

3. Kanada dan Prancis perkuat kerja sama mineral dan riset di Greenland

Pembukaan konsulat Kanada dan Prancis di Nuuk bertujuan untuk mengoptimalkan potensi mineral kritis di Greenland, seperti lithium, grafit, dan logam tanah jarang. Mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim, kini membuat eksplorasi sumber daya yang vital bagi industri teknologi hijau tersebut semakin layak secara teknis dan ekonomis. Kehadiran misi diplomatik ini akan berfungsi sebagai penghubung antara perusahaan pertambangan internasional dengan regulasi ketat pemerintah lokal guna mendukung transisi energi global.

Selain sektor pertambangan, kerja sama ini mencakup transfer teknologi dan pengembangan jalur pelayaran baru di perairan Arktik yang kian terbuka. Kondisi geografis yang berubah menuntut pengawasan intensif untuk memastikan keamanan navigasi serta perlindungan lingkungan laut yang rentan. Prancis secara khusus akan mendukung penelitian ilmiah mengenai dampak pemanasan global, di mana Menteri Luar Negeri Jean Noël Barrot menekankan bahwa konsulat tersebut memiliki peran strategis yang luas di luar sekadar layanan administratif rutin bagi warga negaranya.

Bagi Kanada, keberadaan kantor diplomatik ini memperkuat kolaborasi tata kelola Arktik yang berbasis pada solidaritas masyarakat adat Inuit. Pendekatan yang diambil lebih mengedepankan kemitraan strategis daripada dominasi, dengan tetap menghormati standar lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal. Melalui diplomasi mineral dan riset ini, Greenland diharapkan dapat bertransformasi menjadi pusat material baru yang mendukung agenda iklim dunia secara mandiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team