ilustrasi perang (pexels.com/Pixabay)
Konflik tersebut juga memunculkan perbedaan pandangan di kalangan pendukung Presiden AS Donald Trump. Komentator konservatif Tucker Carlson menyebut perang itu sangat menjijikkan dan jahat dalam wawancara dengan ABC News.
“Dia ditunjukkan jajak pendapat bahwa perang ini seperti kemenangan 90-10 baginya,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Trump merespons kritik itu dengan menyatakan bahwa slogan MAGA berarti America first dan Tucker tidak termasuk dalam gerakan tersebut.
Sementara itu, pejabat Iran memberikan tanggapan keras. Kepala keamanan Ali Larijani menulis di X bahwa Trump mengklaim ingin meraih kemenangan cepat, padahal memulai perang memang mudah tetapi tidak bisa dimenangkan hanya dengan beberapa unggahan.
Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup untuk menekan pihak lawan. Ia juga menuntut seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah segera ditutup serta memperingatkan bahwa fasilitas tersebut bisa menjadi target serangan.
Juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari menyatakan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga 200 dolar AS per barel (setara Rp3,37 juta) akibat tindakan AS yang dinilai mengacaukan keamanan kawasan.