Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Peter Magyar, Mantan Loyalis yang Lengserkan Viktor Orban di Hungaria
Perdana Menteri Terpilih Hungaria, Peter Magyar, yang mengakhiri rezim Viktor Orban. (AFP/Attilla Kisbenedek)
  • Peter Magyar, mantan loyalis Fidesz, sukses menumbangkan Viktor Orban setelah partainya Tisza meraih 53,6 persen suara dan 138 kursi parlemen dalam pemilu Hungaria 2026.
  • Kemenangan besar Tisza membuka peluang amandemen konstitusi serta menandai arah baru Hungaria menuju demokrasi liberal dan hubungan lebih erat dengan Uni Eropa.
  • Meski menang telak, Magyar menghadapi tantangan mempersatukan bangsa yang terbelah dan menjaga hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat serta sekutu Eropa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peter Magyar menang besar di pemilihan di Hungaria dan sekarang dia gantiin Viktor Orban yang sudah lama jadi pemimpin. Dulu Magyar temannya Orban, tapi dia keluar karena tidak suka cara pemerintah. Sekarang banyak orang senang dan teriak di dekat sungai. Negara lain juga bilang selamat dan harap Hungaria jadi lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Peter Magyar, pemimpin partai oposisi Tisza yang berhaluan tengah-kanan dan pro-Uni Eropa, berhasil mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban yang telah berlangsung selama 16 tahun, setelah memenangkan pemilihan parlemen Hungaria, Minggu (12/4/2026), dengan selisih suara yang sangat besar.

Dengan 97,35 persen suara masuk, partai Tisza pimpinan Magyar berhasil meraih 138 kursi dari total 199 kursi parlemen dengan perolehan 53,6 persen suara. Sementara, partai Fidesz milik Orban hanya meraih 55 kursi dengan 37,8 persen suara.

Orban sendiri mengakui kekalahannya pada malam pemilihan dan menyampaikan ucapan selamat kepada Magyar. Magyar kemudian memposting di media sosial, Orban baru saja menelepon untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya.

Tingkat partisipasi pemilih melampaui 77 persen pada pukul 18.30 waktu setempat, menjadi rekor dalam sejarah pemilu Hungaria pascakomunis. Kemenangan Magyar ini pun disambut antusias oleh para pendukungnya yang memenuhi tepian Sungai Danube di Budapest.

1. Siapa sebenarnya Magyar?

Perdana Menteri Terpilih Hungaria, Peter Magyar, yang mengakhiri rezim Viktor Orban. (AFP/Attilla Kisbenedek)

Peter Magyar lahir di Budapest pada Maret 1981 dari keluarga berlatar belakang hukum. Ia pernah menjadi anggota setia partai Fidesz sebelum akhirnya memutuskan keluar dan menjadi penantang utama Orban.

Magyar sebelumnya merupakan anggota partai Fidesz yang berkuasa, dan mendapat perhatian nasional ketika ia mengumumkan pengunduran dirinya dari semua posisi terkait pemerintahan di tengah skandal pengampunan presiden Katalin Novak pada Februari 2024, setelah menyatakan ketidakpuasan mendalam terhadap cara Fidesz memerintah negara.

Pada 15 Maret 2024, Magyar menggelar unjuk rasa yang dihadiri puluhan ribu orang di Budapest, dan mengumumkan pembentukan platform politik baru bagi mereka yang tidak puas dengan pemerintah maupun oposisi lama.

Ia kemudian mengambil alih kepemimpinan partai Tisza yang sebelumnya nyaris tak dikenal, dan dalam waktu singkat mengubahnya menjadi kekuatan oposisi terbesar di Hungaria. Magyar, yang dikenal sebagai figur konservatif moderat, memanfaatkan kekecewaan warga Hungaria, atas naiknya biaya hidup, korupsi, dan memburuknya layanan publik.

2. Kemenangan Magyar beri harapan baru demokrasi

potret bendera Hungaria (commons.wikimedia.org/Ermell)

Kemenangan Tisza bukan sekadar kemenangan biasa. Sebab, perolehan kursinya melampaui ambang dua pertiga yang memungkinkan partai tersebut mengamendemen konstitusi Hungaria.

Kemenangan telak ini dipandang para analis sebagai referendum atas arah Hungaria: apakah negara itu akan terus bergerak ke arah otoritarisme dan Rusia, atau berbalik menuju demokrasi liberal dan Uni Eropa.

Magyar berjanji akan mendedikasikan empat tahun ke depan untuk mewujudkan Hungaria yang bebas, Eropa, berfungsi, dan manusiawi. Ia juga berkomitmen untuk membongkar setiap kasus korupsi, meninjau setiap kontrak, dan menelusuri setiap transaksi keuangan di bawah pemerintahan Orban.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyambut kemenangan Tisza sebagai langkah Hungaria kembali ke jalur Eropa, dengan menyatakan Uni Eropa tumbuh semakin kuat seiring keputusan rakyat Hungaria ini.

3. Tantangan ke depan

Gedung Parlemen Hungaria (Országház), sebuah landmark ikonik yang terletak di Budapest, di sepanjang tepi Sungai Danube. (pixabay.com/Walkerssk)

Meski merayakan kemenangan besar, Magyar dihadapkan pada sejumlah tantangan serius dalam memimpin negara yang terbelah secara politik dan sosial.

Magyar juga menyinggung hubungan dengan Amerika Serikat dan pemerintahan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya memberikan dukungan kepada Orban selama kampanye pemilu. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan sempat mengunjungi Budapest beberapa hari sebelum pemungutan suara, untuk menunjukkan dukungannya kepada Orban. 

Namun, Magyar menegaskan, AS tetap merupakan mitra yang sangat penting, dan ia akan berupaya menjalin hubungan baik dengan Trump.

Magyar juga menyerukan kepada Presiden Hungaria Tamas Sulyok— yang didukung Fidesz— agar memastikan proses transfer kekuasaan berlangsung sesegera mungkin, sekaligus mengulangi tuntutannya agar Sulyok mengundurkan diri.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengunggah video dirinya berbicara lewat telepon dengan Magyar. “Saya rasa saya lebih bahagia dari Anda, selamat datang kembali di Eropa,” katanya.

Reaksi internasional ini mencerminkan besarnya harapan yang disematkan komunitas global kepada kepemimpinan baru Hungaria.

Editorial Team