Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polisi Israel Tangkap 18 Orang dalam Demo Tolak Perang Iran
ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Stanislav Vdovin)
  • Ratusan warga Israel turun ke jalan di Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem menolak perang melawan Iran, memicu bentrokan dengan polisi yang berujung pada penangkapan 18 demonstran.
  • Pemerintah menerapkan larangan berkumpul lebih dari 50 orang karena status darurat dan ancaman rudal, namun kebijakan ini dikritik sebagai upaya membungkam protes politik.
  • Survei Institut Demokrasi Israel menunjukkan 78 persen warga Yahudi mendukung perang terhadap Iran, sementara dukungan dari minoritas Arab hanya 19 persen dengan tren penentangan yang meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times- Ratusan demonstran Israel turun ke jalanan Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem untuk menentang perang melawan Iran. Aksi protes pada Sabtu (28/3/2026) malam tersebut berlangsung panas karena memicu bentrokan fisik dengan aparat kepolisian setempat. Para pengunjuk rasa mengkritik perang di Iran karena dinilai tidak memiliki tujuan yang jelas.

Pasukan keamanan diterjunkan untuk membubarkan kerumunan massa yang berkumpul secara ilegal di tengah status darurat nasional. Polisi pada akhirnya menahan belasan pengunjuk rasa karena dituduh telah memicu kerusuhan dan mengganggu ketertiban umum.

"Tidak ada yang memikirkan bagaimana kita akan keluar dari masalah ini, dan sama sekali tidak ada akhir yang terlihat. Ini semua tak lebih dari sekadar bagian rencana permainan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu," tutur pengunjuk rasa bernama Joanne Levine, dilansir France24.

1. Polisi tangkap 18 pengunjuk rasa di Tel Aviv dan Haifa

protes di Tel Aviv, Israel pada 2024 (עמיעד סלטון Amiad Salton, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kepolisian Israel telah menangkap setidaknya 18 orang selama gelombang protes. Penangkapan terbesar terjadi di Lapangan Habima, Tel Aviv, dengan total 13 demonstran diamankan oleh aparat.

Lima pengunjuk rasa lainnya turut ditahan saat menggelar aksi protes serupa di Persimpangan Horev, Kota Haifa. Pasukan keamanan menuduh massa bertindak rusuh karena mulai memblokir jalan raya dan menolak patuh pada instruksi petugas.

Upaya pembubaran paksa oleh petugas penegak hukum tersebut diwarnai berbagai tindakan represif terhadap warga sipil. Wartawan di lapangan melaporkan aparat mendorong demonstran hingga terjatuh dan mencekik setidaknya satu peserta aksi.

Gelombang unjuk rasa akhir pekan ini mulai diikuti oleh berbagai organisasi sayap kiri serta mantan anggota parlemen. Kelompok aktivis terkemuka seperti Standing Together, Peace Now, hingga Women Wage Peace juga dilaporkan ikut turun ke jalan.

"Pemerintah takut akan meluasnya gerakan protes ini. Polisi telah diinstruksikan untuk melakukan penangkapan demi membungkam perbedaan pendapat," ungkap perwakilan kelompok aktivis Standing Together.

2. Israel terapkan larangan berkumpul di tengah ancaman rudal

misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)

Pihak kepolisian membubarkan massa karena demonstrasi tersebut tidak mengantongi izin. Perwakilan Komando Front Dalam Negeri Israel menegaskan bahwa perkumpulan semacam itu melanggar peraturan darurat.

Pedoman keamanan masa perang yang berlaku saat ini melarang segala bentuk pertemuan massal yang melebihi 50 orang. Kebijakan diterapkan untuk melindungi warga dari ancaman serangan balasan pihak Iran dan Lebanon.

"Sangat mustahil menggunakan pedoman Komando Front Dalam Negeri sebagai alasan untuk membungkam protes politik. Polisi di negara demokrasi harus melindungi hak untuk berdemonstrasi, bukan malah takut terhadapnya," ujar perwakilan koalisi Peace Partnership, dilansir The Jerusalem Post.

3. Mayoritas warga Israel dukung perang melawan Iran

Ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Survei terbaru dari Institut Demokrasi Israel menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap operasi militer ini masih cukup tinggi. Tercatat 78 persen warga Yahudi Israel menyetujui operasi perang melawan Iran.

Sentimen tersebut berbanding terbalik dengan pandangan minoritas Arab Israel yang hanya mencatatkan angka dukungan sebesar 19 persen. Meski mayoritas mendukung perang, jumlah masyarakat penentang konflik merangkak naik dari 4 persen pada awal Maret menjadi 11,5 persen saat ini.

Operasi serangan udara militer Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran sendiri telah dimulai sejak 28 Februari lalu. Serangan tersebut telah merenggut lebih dari 1.340 nyawa, termasuk menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team