Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Tembus Rp17 Ribu, Efek Perang Iran Makin Menjadi

Rupiah Tembus Rp17 Ribu, Efek Perang Iran Makin Menjadi
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup di level Rp17.002 per dolar AS, melemah 22 poin akibat tekanan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
  • Perang Iran yang makin memanas serta potensi invasi AS membuat pasar waspada dan menekan sentimen investor di kawasan.
  • Kenaikan ekspektasi inflasi di AS memicu prediksi The Fed akan menaikkan suku bunga, memperburuk tekanan terhadap rupiah hingga akhir Maret.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terpantau loyo dan harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sore ini parkir di level Rp17.002 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 22 poin atau 0,13 persen dibandingkan posisi pembukaan yang berada di level Rp16.979 per dolar AS.

1. Ketegangan di Timur Tengah meningkat

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi perluasan perang Iran. Hal itu dipicu oleh serangan kelompok Houthi dari Yaman yang didukung Iran ke Israel pada akhir pekan lalu.

"Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah," katanya.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapannya menghadapi kemungkinan invasi darat dari AS, menyusul laporan pengerahan ribuan pasukan Washington ke Timur Tengah.

Meski Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi berjalan baik dan kesepakatan mungkin segera tercapai, ia tidak memberikan tenggat waktu yang jelas dan justru memperingatkan adanya serangan lanjutan ke Teheran.

Trump bahkan telah memperpanjang batas waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April nanti, sementara Iran masih menolak berunding langsung dengan AS sejak konflik pecah akhir Februari.

2. Suku bunga The Fed terancam naik lagi

Kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam juga sedang tidak baik-baik saja. Universitas Michigan melaporkan rumah tangga di Amerika mulai pesimis, terlihat dari indeks sentimen konsumen bulan Maret yang turun ke angka 53,3 dari sebelumnya 55,5.

"Ekspektasi inflasi untuk dua belas bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada bulan Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen," ujar Ibrahim.

Situasi tersebut membuat pasar memprediksi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), bakal mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga akibat tingginya harga energi.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga di akhir tahun 2026 kini mencapai 50 persen. Padahal, sebelum perang AS-Iran meletus, pasar sempat optimis akan ada dua kali penurunan suku bunga tahun ini.

3. Rupiah masih berisiko terperosok di akhir Maret

Jika melihat kinerja sejak awal tahun, rupiah saat ini mencatatkan pelemahan 1,93 persen. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir atau 52 minggu, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS.

Untuk perdagangan Selasa (31/3/2026), rupiah diprediksi masih akan fluktuatif namun cenderung melemah. Mata uang Garuda diperkirakan akan berada di rentang Rp17.000 hingga Rp17.040 per dolar AS.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta
Follow Us

Latest in Business

See More