Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Iran Berduka Sejumlah Petinggi Tewas Dalam Serangan AS-Israel
Potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi tiga pejabat tinggi tewas akibat serangan Israel-AS dan menegaskan perjuangan Iran akan terus berlanjut meski kehilangan tokoh penting.
  • Menlu Abbas Araghchi menegaskan kematian Ali Larijani tidak melemahkan kekuatan Iran karena struktur politik negara tetap solid dan tidak bergantung pada individu tertentu.
  • Dubes Iran di Rusia membantah isu Mojtaba Khamenei dirawat di Moskow serta menyebut rumor itu sebagai perang psikologis yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (18/3/2026) membenarkan sejumlah petinggi di negaranya tewas akibat serangan militer Israel dan Amerika Serikat. Ada tiga petinggi yang gugur yakni Menteri Intelijen, Esmail Khatib, Menteri Pertahanan, Aziz Nasirzadeh dan Ketua Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani. Ini merupakan konfirmasi perdana yang disampaikan oleh Presiden Pezeshkian.

Di dalam akun media sosialnya, Pezeshkian mengaku berduka sangat mendalam. Pezeshkian mengatakan perjuangan mereka dalam mempertahankan diri tidak akan berakhir meski tiga petinggi di negaranya gugur. "Langkah kami akan lebih mantap (menghadapi Israel-AS) dibandingkan sebelumnya," demikian tulis Pezeshkian di akun media sosialnya pada hari ini.

Dikutip dari laman Anadolu, sejak Israel-AS menyerang Iran pada (28/2/2026), total sudah ada 1.300 orang tewas di Teheran. Itu termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya.

1. Kematian Ali Larijani tak akan buat Iran goyah

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani (khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Sementara, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan meski Larijani gugur, tak menandakan kekuatan Iran melemah. Araghchi menilai AS dan Israel tak memahami Pemerintahan Iran tidak bergantung kepada satu individu semata.

"Saya tidak paham mengapa AS dan Israel tidak juga paham mengenai hal ini: Republik Islam Iran memiliki struktur politik yang kuat, yang didukung lembaga-lembaga di bidang ekonomi, politik dan sosial yang mumpuni," ujar Araghchi dalam wawancaranya bersama Stasiun Al Jazeera malam ini.

"Kehadiran atau absennya satu individu tidak mempengaruhi struktur ini," imbuhnya.

Ia menekankan bahwa struktur politik di Iran sangat solid.

2. Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei tak dirawat di Rusia

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sedang berjalan menggandeng kedua anaknya. (commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour)

Sementara, keberadaan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga menjadi tanda tanya publik lantaran ia sudah lama tidak terlihat di ruang publik. Beberapa orang menyebut Mojtaba mengalami luka parah usai terkena serangan militer Israel dan AS. Sehingga, ia kini diisukan sedang menjalani perawatan medis di Moskow, Rusia.

Tetapi, isu itu dibantah oleh Duta Besar Iran di Rusia, Kazem Jalali. Ia mengatakan isu tersebut merupakan perang psikologi terbaru yang sengaja diembuskan oleh AS dan Israel.

"Pemimpin Iran tak perlu melarikan diri dan bersembunyi di tempat pengungsian. Keberadaan mereka sudah seharusnya di jalan bersama rakyat Iran. Darah syuhada (pemimpin tertinggi Ayatollah Ali) Khamenei membatalkan sihir perang psikologis dan banjir kebohongan," demikian tulis Jazali di platform X pada Selasa kemarin.

3. Iran tak akan bersedia bernegosiasi dengan AS

PSotret Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani (commons.wikimedia.org/Mostafameraji)

Sementara, ketika masih hidup, Ali Larijani pada awal Maret lalu membantah klaim bahwa Teheran telah kembali berusaha untuk negosiasi dengan Washington. Ia tegas menyatakan Iran tidak akan terlibat dalam pembicaraan dengan AS. Justru dalam pandangan Larijani Negeri Paman Sam sengaja mengatakan itu karena khawatir akan mengalami kekalahan lebih besar lagi.

"Dia (Donald Trump) sekarang khawatir tentang kerugian lebih lanjut dari tentara Amerika," ujar Larijani seperti dikutip dari laman Anadolu pada awal Maret lalu.

Menurut Larijani, Trump justru membuat tentara AS dan keluarganya membayar harga mahal dengan memulai serangan ke Iran yang didasari kebohongan.

Editorial Team