Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Lebanon Pastikan Negaranya Tak Lagi Dipakai untuk Perang
Bendera Lebanon (pexels.com/Ali MAROUNI)
  • Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan negaranya tak lagi menjadi arena konflik setelah gencatan senjata dengan Israel, menandai langkah keluar dari pusaran perang regional.
  • Gencatan senjata mengakhiri serangan 10 hari yang menewaskan lebih dari 2.200 orang dan membuat jutaan warga mengungsi, dengan fokus baru pada perdamaian permanen dan kedaulatan nasional.
  • Meski gencatan senjata berlaku, pasukan Israel masih bertahan di selatan Lebanon; reaksi publik terbelah antara dukungan diplomasi dan penolakan keras dari Hizbullah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Lebanon Joseph Aoun memastikan negaranya tak akan lagi menjadi arena konflik pihak luar setelah gencatan senjata dengan Israel. Pernyataan itu menegaskan posisi Lebanon yang ingin keluar dari pusaran konflik regional.

Dilansir Al Jazeera, dalam siaran pidato langsung di televisi pada Jumat (17/4/2026), Aoun menyampaikan pesan tegas kepada publik mengenai arah baru negaranya dengan menegaskan bahwa Lebanon tak lagi menjadi pion dalam permainan pihak mana pun, bukan arena bagi perang siapa pun, dan hal itu tak akan terjadi lagi.

1. Gencatan senjata akhiri serangan dan krisis kemanusiaan

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Kesepakatan penghentian tembakan diumumkan setelah rangkaian serangan Israel pada Kamis (16/4/2026) selama 10 hari yang berlangsung sejak 2 Maret 2026. Aksi militer itu terjadi setelah peluncuran roket oleh kelompok Hizbullah ke wilayah Israel.

Dampak dari konflik singkat tersebut sangat besar dengan korban jiwa melampaui 2.200 orang. Selain itu, lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Aoun menyebut situasi ini sebagai titik penting menuju penyelesaian jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa Lebanon kini bergerak dari sekadar mempertahankan gencatan senjata menuju upaya membangun kesepakatan permanen yang melindungi hak rakyat, menjaga keutuhan wilayah, serta menegakkan kedaulatan negara.

2. Presiden Aoun tegaskan tujuan perundingan

ilustrasi penarikan pasukan (pexels.com/Ivan Hassib)

Aoun menegaskan bahwa jalur diplomasi bukan bentuk kelemahan maupun penyerahan hak nasional. Ia menjelaskan bahwa dialog langsung dengan Israel tidak dimaksudkan sebagai kompromi atas prinsip negara.

“Dengan ini saya tegaskan … bahwa tidak akan ada kesepakatan yang melanggar hak-hak nasional kami,” tegasnya, dikutip CNA.

Aoun kemudian merinci sasaran utama Lebanon dalam proses tersebut, mencakup penghentian agresi Israel terhadap wilayah dan rakyatnya. Ia juga menyebut target lain seperti penarikan pasukan Israel, perluasan kendali negara melalui kekuatan militernya sendiri, pembebasan tahanan, serta memastikan warga dapat kembali ke rumah dan desa mereka dengan aman, bebas, dan bermartabat.

3. Israel pertahankan pasukan dan respons publik muncul

bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

Walau kesepakatan gencatan senjata telah berlaku, sebagian wilayah Lebanon selatan masih ditempati pasukan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tentaranya belum akan ditarik selama masa penghentian konflik berlangsung.

Kesepakatan ini muncul setelah adanya pembicaraan langsung pertama dalam beberapa dekade antara Lebanon dan Israel melalui duta besar kedua negara untuk Amerika Serikat (AS) di Washington. Secara status, kedua negara masih berada dalam kondisi perang sejak 1948.

Respons di dalam negeri Lebanon pun berbeda-beda terhadap langkah tersebut. Sebagian warga melihatnya sebagai peluang mengakhiri konflik berulang, sedangkan Hizbullah bersama para pendukungnya menolak keras pembicaraan langsung itu.

Secara historis, Lebanon dan Israel pernah melakukan negosiasi langsung pada 1983 dengan mediasi AS. Kesepakatan penarikan pasukan sempat disepakati pada 17 Mei 1983, namun batal pada Maret 1984 akibat tekanan Suriah dan sekutunya di Lebanon.

Dalam beberapa tahun terakhir, kedua pihak juga mencapai kesepakatan batas maritim pada 2022 dengan mediasi AS tanpa dialog langsung antar pemerintah. Selain itu, pertemuan perwakilan sipil pernah digelar komite pemantauan gencatan senjata setelah perang 2024.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan harapan agar Aoun dan Netanyahu dapat berkunjung ke Gedung Putih dalam 4-5 hari ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team