bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)
Walau kesepakatan gencatan senjata telah berlaku, sebagian wilayah Lebanon selatan masih ditempati pasukan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tentaranya belum akan ditarik selama masa penghentian konflik berlangsung.
Kesepakatan ini muncul setelah adanya pembicaraan langsung pertama dalam beberapa dekade antara Lebanon dan Israel melalui duta besar kedua negara untuk Amerika Serikat (AS) di Washington. Secara status, kedua negara masih berada dalam kondisi perang sejak 1948.
Respons di dalam negeri Lebanon pun berbeda-beda terhadap langkah tersebut. Sebagian warga melihatnya sebagai peluang mengakhiri konflik berulang, sedangkan Hizbullah bersama para pendukungnya menolak keras pembicaraan langsung itu.
Secara historis, Lebanon dan Israel pernah melakukan negosiasi langsung pada 1983 dengan mediasi AS. Kesepakatan penarikan pasukan sempat disepakati pada 17 Mei 1983, namun batal pada Maret 1984 akibat tekanan Suriah dan sekutunya di Lebanon.
Dalam beberapa tahun terakhir, kedua pihak juga mencapai kesepakatan batas maritim pada 2022 dengan mediasi AS tanpa dialog langsung antar pemerintah. Selain itu, pertemuan perwakilan sipil pernah digelar komite pemantauan gencatan senjata setelah perang 2024.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan harapan agar Aoun dan Netanyahu dapat berkunjung ke Gedung Putih dalam 4-5 hari ke depan.