Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Moldova, Maia Sandu. (European People's Party, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
Presiden Moldova, Maia Sandu. (European People's Party, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Sandu menolak nominasi Nobel Perdamaian karena sebut penghargaan seharusnya berupa perdamaian.

  • Moldova berniat keluar dari anggota CIS untuk tidak lagi diintervensi oleh Moskow.

  • Moldova panggil Dubes Rusia soal penemuan drone militer sebagai bukti sikap agresif Rusia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Moldova, Maia Sandu menolak dimasukkan dalam nominasi Nobel Perdamaian. Menurutnya, tentara Ukraina yang ditawan Rusia yang berhak menerima penghargaan tersebut. 

“Hari ini, saya melihat tawanan perang Ukraina yang kembali dari Rusia. Mereka yang sebenarnya berhak mendapatkan penghargaan tersebut. Mereka sudah memberikan nyawanya untuk perdamaian dan harus diakui,” tuturnya, dikutip dari United24, Sabtu (7/2/2026).

Sandu tetap menghargai apresiasi yang ditunjukkan oleh dunia kepada Moldova. Namun, ia menyebut masih ada yang layak masuk sebagai kandidat Peraih Penghargaan Nobel Perdamaian. 

1. Sandu sebut penghargaan seharusnya berupa perdamaian

Pernyataan Sandu ini mengenai rencana nominasinya oleh anggota parlemen Norwegia. Presiden Moldova itu masuk dalam nominasi Nobel Perdamaian karena perannya dalam mempertahankan demokrasi, aturan hukum dan stabilitas di Moldova. 

“Sandu layak menjadi masuk nominasi Nobel Perdamaian karena peran besarnya dalam mempertahankan demokrasi di Eropa,” ungkap Anggota Parlemen Norwegia, Arild Hermstad, dilansir The Kyiv Independent

Namun, Sandu menyampaikan bahwa penghargaan yang sebenarnya seharusnya berupa perdamaian itu sendiri. Ia berharap bahwa perdamaian akan segera terwujud di Eropa. 

2. Moldova berniat keluar dari anggota CIS

Pada Januari, Menteri Luar Negeri Moldova, Mihai Popsoi mengumumkan rencana untuk keluar dari organisasi pimpinan Rusia, Commonwealth of Independent States (CIS). Langkah ini memastikan bahwa Chisinau tidak lagi diintervensi oleh Moskow. 

Popsoi menyebut, Moldova memang masih jadi anggota resmi CIS, tapi Chisinau sudah menolak 71 kesepakatan di dalam organisasi tersebut. Penolakan besar-besaran sudah dimulai sejak invasi skala besar Rusia ke Ukraina. 

3. Moldova panggil Dubes Rusia soal penemuan drone

Juru Bicara Parlemen Moldova, Igor Grosu mengungkapkan bahwa terdapat penemuan drone baru di teritori negaranya. Masuknya drone militer tersebut disebut sebagai bukti dari sikap agresif Rusia. 

Menyusul penemuan drone ini, Moldova berniat memanggil Duta Besar Rusia di Moldova, Oleg Ozerov. Ia diharapkan dapat memberikan keterangan lebih lanjut terkait masuknya drone ke dalam teritori Moldova. 

Dilansir Moldpres, sebuah drone ditemukan di Desa Sofia, Distrik Drochia bagian utara. Sekeliling lokasi penemuan drone sudah diamankan dan pakar sudah meninjau dan menguji drone tersebut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team