Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Presiden Moldova Dukung Reunifikasi dengan Rumania

Presiden Moldova, Maia Sandu. (European People's Party, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
Presiden Moldova, Maia Sandu. (European People's Party, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Moldova alami kesulitan di tengah ancaman Rusia
  • Rusia gelontorkan Rp7,8 triliun untuk intervensi pemilu Moldova
  • Mayoritas warga Moldova tolak aksesi NATO dan reunifikasi Rumania
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Moldova, Maia Sandu, mengungkapkan bahwa ia akan mendukung reunifikasi dengan Rumania. Namun, langkah ini hanya akan dilakukan jika terdapat referendum untuk menentukan reunifikasi Moldova dengan Rumania. 

“Jika kami memiliki sebuah kesempatan untuk referendum dalam menentukan unifikasi dengan Rumania. Maka saya akan memilih Moldova bersatu dengan Romania,” ungkapnya, dikutip dari Politico, Selasa (13/1/2026).

Beberapa tahun terakhir, Moldova di bawah pemerintahan Sandu terus mendapat intervensi dari Rusia. Meskipun demikian, Sandu berhasil kembali terpilih dalam pemilihan presiden 2024. 

1. Moldova alami kesulitan untuk bertahan di tengah ancaman Rusia

Sandu mengungkapkan bahwa Moldova mengalami kesulitan di tengah situasi geopolitik global. Bergabung dengan Rumania akan membuat Moldova lebih kuat di tengah ancaman Rusia. 

“Lihat apa yang terjadi di sekitar Moldova saat ini. Lihat apa yang terjadi di seluruh dunia. Ini membuat semakin sulit bagi negara kecil seperti Moldova untuk bertahan sebagai negara demokrasi dan berdaulat, serta menahan intervensi Rusia,” tuturnya. 

Sebagai informasi, pada 1918 hingga 1940, Moldova merupakan bagian dari Rumania. Kemudian, Moldova dianeksasi oleh Uni Soviet hingga merdeka pada 1991 menyusul runtuhnya Tirai Besi di Eropa. 

2. Sebut Rusia gelontorkan Rp7,8 triliun untuk intervensi pemilu Moldova

Kepala Parlemen Moldova mengatakan bahwa Rusia sudah menggelontorkan 400 juta euro (Rp7,8 triliun) untuk mengubah hasil dalam pemilu parlemen pada September 2025. Moskow berupaya meningkatkan kandidat pro-Rusia di Moldova. 

“Ini adalah perang hybrid yang mana Rusia menginvestasikan hampir 400 juta euro (Rp7,8 triliun). Moldova telah menjadi target dari kampanye disinformasi yang tak terduga. Namun, rakyat Moldova mampu menangkis tekanan dan manipulasi dari Moskow,” terangnya, dilansir dari TVP World.

Meski dihadapkan intervensi Rusia, Partai PAS mampu menjadi pemenang dalam pemilu parlemen di Moldova. Sedangkan Partai BEP yang dikenal pro-Rusia berada di peringkat kedua. 

3. Mayoritas warga Moldova tolak aksesi NATO dan reunifikasi Rumania

Berdasarkan hasil survei dari IMAS menunjukkan bahwa 66 persen dari penduduk Moldova menolak bergabung dengan NATO jika ada referendum. Sedangkan 18 persen dari warga yang akan menyetujui aksesi Moldova dalam NATO. 

Dilansir Interfax, jika terdapat referendum untuk unifikasi Moldova dan Rumania maka 62 persen dari warga akan menolaknya. Hanya 28 persen dari warga Moldova yang mendukung reunifikasi Moldova dan Rumania. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Kosta Rika Waspada, Sebut Ada Rencana Pembunuhan Presiden

14 Jan 2026, 11:09 WIBNews